Rabu, 08 Agustus 2012

TEKNOLOGI PENETASAN UNGGAS


BAB I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dunia peternakan khususnya bidang perunggasan dituntut untuk menghasilkan produk peternakan yang kualitas dan kuantitasnya harus tinggi, baik itu dari daging maupun telur. Untuk memenuhinya maka harus tersedia unggas dalam jumlah yang banyak pula. Jika hanya bergantung secara alami, maka jumlah unggas yang dibutuhkan tidak tercapai, oleh karena itu diperlukan teknologi yang dalam waktu yang singkat dapat menghasilkan anakan unggas dalam jumlah yang banyak. Hal ini dapat dilakukan dengan penetasan telur memakai mesin tetas.
Mesin penetas atau inkubator ada yang berbentuk sederhana, semi otomatis dan modern. Alat ini dapat menetaskan telur dalam jumlah banyak dan memiliki kapasitas yang bervariasi yaitu dari 100 sampai 10.000 butir. Dengan menggunakan mesin tetas dapat mendorong industri perunggasan dalam penyediaan bibit unggul dalam jumlah besar dan dalam waktu yang bersamaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas perlu diketahui untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu penetasan.
Telur tetas merupakan telur yang didapatkan dari induknya yang dipelihara bersama pejantan dengan perbandingan tertentu. Salah satu jenis unggas yang dapat menghasilkan telur setiap hari yang telah kita kenal adalah ayam kampung. Penetasan telur ayam kampung dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penetasan telur dengan induk dan menggunakan mesin penetas atau incubator. Menetaskan telur berarti mengeramkan telur agar menetas dengan tanda kerabang telur terbuka atau pecah sehingga anak dapat keluar dan hidup. Penetasan secara alami melalui induk kurang efektif dan efisien karena terbatasnya telur yang dapat ditetaskan dalam waktu tertentu
Pada prinsipnya penetasan telur dengan mesin tetas adalah mengkondisikan telur sama seperti telur yang dierami oleh induknya. Baik itu suhu, kelembaban dan juga posisi telur. Dalam proses penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki kelebihan di banding dengan penetasan secara alami, yaitu : dapat dilakukan sewaktu-waktu, dapat dilakukan dengan jumlah telur yang banyak, menghasilkan anak dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan, dapat dilakukan pengawasan dan seleksi pada telur (Yuwanta, 1983).
Hal-hal yang mendukung keberhasilan dari penetasan dengan mesin tetas antara lain adalah telur tetas itu sendiri harus telur yang fertil yaitu telur dari betina yang di kawini pejantan, suhu dalam mesin tetas sekitar 38°C, kelembaban 70%, sirkulasi udara dalam mesin tetas lancar, pemutaran telur dan juga candling yaitu peneropongan telur selama proses penetasan sehingga dapat diketahui pertumbuhan embrionya.

B.  Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum teknologi penetasan unggas adalah :
1.      Mengetahui tata laksana seleksi telur tetas ayam kampung.
2.      Mengetahui tata laksana penetasan telur tetas ayam kampung.
3.      Mengetahui cara penggunaan mesin tetas.















BAB II. TINJUAN PUSTAKA


A.   Persiapan Penetasan
Sebelum memulai usaha penetasan telur ayam ini perlu dipertimbangkan terlebih dahulu jenis telur ayam apa yang akan ditetaskan. Ada beberapa kebutuhan pasar ayam antara lain ayam petelur, ayam pedaging,ayam kampung, ayam hias (cemani, ayam mutiara, ayam kate dan lain-lain). Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, tetapi dari segi manajemen penetasan dan operasionalnya hampir sama. Misalnya saja ayam pedaging dan ayam petelur, biasanya kelompok ayam ini dipelihara dalam jumlah yang besar oleh satu peternak, jumlahnya mencapai ribuan sehingga kebutuhan akan DOC (Day Old Chicken) juga besar. Daging dan telur kelompok ayam ini cukupbanyak diminta oleh pasar (Anonim, 2010).
Proses penetasan sebelum dimulai ada baiknya memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut : Seleksi atau pemilihan telur tetas. Meliputi : berat telur, bentuk telur, keadaan kulit telur, rongga udara, umur telur dan cara penyimpanannya Kemudian memperhatikan faktor penentu penetasan yang meliputi panas, air, pergerakan udara dan operator mesin tetas. Bisa juga ditambahkan kegiatan penyucihamaan ruangan mesin tetas. Kemudian persiapan memasukkan telur ke dalam mesin tetas yang meliputi pengaturan suhu dan kelembaban, dan mempersiapkan pemanas cadangan apabila mesin tetas yang dipakai bertipe hibryd (dua pemanas) (Anonim, 2010).
B.  Proses Penetasan
Menjaga agar  kestabilan suhu saat mengeram, ayam selalu bergerak atau bergeser, terutama pada 5-6 hari pertama pengeraman. Tidak sampai lima jam, ayam akan bergerak atau bergeser lagi. Jika masih terlalu panas, telur yang dierami akan dibalik dengan kepala dan lehernya. Proses pembalikan ini bertujuan untuk meratakan suhu dan melawan gaya gravitasi, sehingga posisi embrio di dalam telur tetap baik. Proses pembalikan telur biasanya dilakukan tiga kali dalam sehari, tergantung pada peningkatan suhu di dalam telur (Anonim, 2010).
Pengetesan fertilitas telur adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Hal ini terutama diperlukan untuk menentukan jumlah telur yang fertile untuk terus ditetaskan sedangkan yang tidak fertile atau tidak bertunas harus disingkirkan karena tidak berguna dalam proses penetasan dan bahkan Cuma buang buang tenaga dan tempat saja. Padahal tempat yang ada dapat dimanfaatkan untuk telur telur fertile yang lain atau yang baru akan ditetaskan (Anonim, 2010).
C.  Tahap Akhir Penetasan





















BAB III.  MATERI DAN METODE

Praktikum Teknologi Penetasan Unggas dilaksanakan pada tanggal             23 April sampai 09 Mei 2010 di Kandang Percobaan Jurusan Peternakan, Jatikuwung, Kec. Gondang Rejo, Kab. Karanganyar.
A.   Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mesin tetas, sapu, kain lap, gunting, lakban, semprotan (Sprayer), disinfektan/”anti septik”, nampan air, thermoregulator, thermometer, mangkuk plastik, lampu bolam,  . Sedangkan bahan yang digunakan adalah telur tetas ayam sebanyak 30 butir, berasal dari daerah Kebak Kramat,
B.   Metode
Metode yang digunakan dalam  praktikum adalah praktik penetasan langsung di laboratorium, dengan kegiatan yang terdiri dari :
a.       Mesin tetas dikeluarkan ke tempat yang lapang untuk memudahkan pembersihan.
b.      Membersihkan bagian dalam mesin dengan menggunakan sapu.
c.       Membersihkan bagian luar mesin dengan menggunakan  kain lap yang diberi sedikit air.
d.      Menyemprotkan disinfektan yang sudah dicampur air ke semua bagian mesin tetas.
a         Membersihkan telur dari kotoran yang menempel.
b        Meletakkan thermometer ditengah rak telur.
c         Menghubungkan mesin tetas dengan daya listrik dan mengecek lampu sampai menyala semua.
d        Memasukkan nampan yang telah berisi air ke dalam mesin dan dibiarkan selama 3 hari untuk memberikan kesempatan penyerapan panas menjadi konstan dan suhu ideal tercapai.
e         Memasukkan telur yang sudah dibersihkan apabila suhu sudah stabil.
f         Menandai telur pada ketiga sisinya untuk mempermudah pembalikan.

BAB III.  HASIL DAN PEMBAHASAN


A.  Persiapan Penetasan
  1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan Telur Tetas
No
Kualitatif
Kuantitatif
Kondisi
Kebersihan
Bentuk
Warna
Berat (gram)
Panjang (mm)
Lebar (mm)
Index (%)
1
Baik
C
Oval
Putih
43
5,23
3,19
75
2
Baik
C
Oval
Putih
47
5,35
4,19
78
3
Baik
B
Oval
Putih
42
5,22
3,85
74
4
Baik
A
Oval
Putih
36
4,96
3,78
76
5
Baik
A
Oval
Putih
38
5,0
3,78
76
6
Baik
A
Oval
Putih
38
4,96
3,72
75
7
Baik
B
Oval
Putih
34
4,80
3,68
77
8
Baik
C
Oval
Putih
41
5,78
3,80
66
9
Baik
B
Oval
Putih
39
5,10
3,80
74
10
Baik
B
Oval
Putih
36
4,76
3,66
76
11
Baik
C
Oval
Putih
42
5,30
3,86
73
12
Baik
B
Oval
Putih
30
4,68
3,50
75
13
Baik
C
Oval
Putih
31
5,0
3,40
68
14
Baik
B
Oval
Putih
30
4,66
3,48
75
15
Baik
C
Oval
Putih
43
5,30
3,88
73
16
Baik
C
Oval
Putih
32
4,80
3,60
75
17
Baik
A
Oval
Putih
41
5,20
3,86
74
18
Baik
C
Oval
Putih
46
5,18
3,98
77
19
Baik
B
Oval
Putih
41
5,25
3,76
72
20
Baik
B
Oval
Putih
41
4,98
3,88
78
21
Baik
D
Oval
Putih
48
5,40
4,0
75
22
Baik
D
Oval
Putih
42
5,10
3,88
76
23
Baik
C
Oval
Putih
47
5,5
4,0
73
24
Baik
B
Oval
Putih
45
5,5
3,90
71
25
Baik
B
Oval
Putih
45
5,16
3,98
77
26
Baik
B
Oval
Putih
33
4,6
3,60
78
27
Baik
B
Oval
Putih
32
4,86
3,64
75
28
Baik
B
Oval
Putih
31
4,48
3,58
80
29
Baik
B
Oval
Putih
33
5,06
3,60
71
30
Baik
A
Oval
Putih
30
4,78
3,38
70


Keterangan:
A   = Sangat bersih
B   = Bersih
C   = Cukup bersih
D   = Kotor
Sumber: Laporan Sementara Praktikum Teknologi Penetasan Unggas 2010

 












Gambar 1. Mesin Tetas
  1. Pembahasan
Dalam mempersiapkan penetasan telur, banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Mulai dari persiapan mesin tetas sampai pada pemilihan telur yang akan ditetaskan. Mula- mula yang harus diperhatikan yaitu pada kerabang telur. Telur yang akan ditetaskan diusahakan mempunyai warna kerabang yang seragam, tidak retak, tidak kotor, teksturnya halus, dan berbentuk bulat atau oval. Telur yang baik untuk ditetaskan adalah telur yang berukura sedang, tidak terlalu besar atau terlalu kecil, tidak terlu bulat ataupun terlalu lonjong.
Ketidaksempurnaan bentuk pada telur sangat berpengaruh terhadap perkembangan telur tetas. Selain itu, seleksi telur tetas ini merupakan aktivitas awal yang sangat menentukan keberhasilan penetasan. Telur tetas yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.         Telur tetas harus berasal dari induk (pembibit) yang sehat dan produktivitasnya tinggi dengan sex ratio yang baik sesuai dengan rekomendasi untuk strain atau jenis ayam.
b.         Umur telur tidak boleh lebih dari satu minggu. Daya tetas akan menurun sejalan dengan bertambahnya umur telur.
c.         Kualitas telur fisik telur, meliputi hal-hal berikut.
1)      Bentuk telur harus normal, tidak terlalu lonjong atau bulat, ukuran panjang-lebar berbanding 7 : 5.
2)      Berat atau besar telur dan warna kulit telur harus seragam, sesuai strain atau bangsa.
3)      Telur yang terlalu tipis atau terlalu poros akan mengakibatkan penguapan isi telur terlalu tinggi sehingga akan menurunkan daya tetas. Akan tetapi, telur yang terlalu tebal juga akan mengakibatkan daya tetas menurun karena anak ayam kesulitan memecah kulit telur.
4)      Telur tetas yang baik permukaan kulitnya halus, tidak kotor, dan tidak retak.
(Suprijatna, 2005).
  Dalam pelaksanaan praktikum penetasan ini, digunakan 30 butir telur ayam kampung tetas. Sebelum dimasukkan kedalam mesin tetas, telur di bersihkan menggunakan kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol. Pengelapan telur dilakukan searah, tidak boleh secara bolak-balik. Telur yang sudah bersih kemudian diamati warna kerabangnya, kondisi kerabang apakah retak atau tidak, mengukur panjang telur, lebar telur, berat telur, dan indeks telur.
Kerabang telur sebagian besar berwarna putih atau beragam kecokelatan. Namun, ayam-ayam dari Amerika Selatan, Araucana, menghasilkan telur dengan kerabang berwarna hijau atau biru. Pigmen yang dihasilkan di uterus pada saat kerabang diproduksi bertanggung jawab pada warna. Warna sangat konsisten untuk setiap ayam, merupakan genetic make-up dari individu. Beberapa strain ayam menghasilkan telur dengan warna kerabang cokelat gelap, sedangkan yang lainnya bervariasi keputihan. Pigmen cokelat pada kerabang telur adalah porhpyrin, secara merata disebarkan ke seluruh kerabang (Suprijatna, 2005).
Telur yang ditetaskan semua mempunyai warna kerabang putih, berbentuk oval. Bentuk telur secara umum dikarenakan faktor genetis. Setiap induk bertelur berturutan dengan bentuk yang sama, yaitu bulat, panjang, lonjong, dan sebagainya. Beberapa induk secara kontinu bertelur dengan bentuk yang tidak sempurna. Kategori ketidaksempurnaan bentuk antara lain benjol-benjol, ceper, bulat pada ujungnya, dan sebagainya. Ketidaksempurnaan bentuk yang sama akan ditemukan pada setiap telur yang dihasilkan induk (Suprijatna, 2005).
Telur yang telah dipilih mempunyai bentuk yang oval dan kerabangnya tidak ada yang retak. Telur dirancang alam untuk menyediakan semua zat makanan yang diperlukan dalam perkembangan anak ayam yang sehat dan kuat (Anggorodi, 1985). Pengukuran panjang dan lebar telur menggunakan jangka sorong. Dari pengukuran tersebut diperoleh rata-rata panjang telur yaitu 5,06 cm dan rata-rata lebar telur yaitu 3,74 cm. Bentuk telur dapat dilihat dari indeks telurnya. Indeks telur merupakan perbandingan antara lebar dengan panjang telur yang dinyatakan dalam persen. Indeks telur yang ideal adalah 74%                           (Tri-Yuwanta, 1983).
Indeks telur rata-rata yang diperoleh dari perhitungan setelah diketahui panjang dan lebar telurnya adalah 74,43%. Penimbangan berat telur menggunakan timbangan digital, supaya berat dapat diketahui secara tepat dan kesalahan dalam penimbangan bisa diminimalkan. Rata-rata berat telur yang ditetaskan yaitu 38,56 g. Berat telur tetas harus seragam sesuai dengan bangsa dan tipe ayamnya sehingga diharapkan menghasilkan anak ayam yang seragam dan menetas secara serempak. Untuk ayam ras mempunyai berat telur 55-60 g dan ayam buras 45-50 g (Nuryati et al., 1998).

B.     Proses Penetasan
  1. Hasil Pengamatan
Tabel 2.1. Data Pemutaran Telur
Hari ke-
Tanggal
Jam
Keterangan
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
17.00
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
23-04-2010
24-04-2010
25-04-2010
26-04-2010
27-04-2010
28-04-2010
29-04-2010
30-04-2010
1-05-2010
2-05-2010
3-05-2010
4-05-2010
5-05-2010
6-05-2010
7-05-2010
8-05-2010
9-05-2010
10-05-2010
11-05-2010
12-05-2010
13-05-2010
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
B
B
B
A
A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
B
B
B
A
A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
B
B
B
A
A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
B
Tidak diputar
Tidak diputar
Tidak diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Diputar
Tidak diputar
Tidak diputar
Tidak diputar
 Sumber: Laporan Sementara Praktikum Teknologi Penetasan Unggas 2010








Tabel 2.3  Data Peneropongan Telur
No. telur
Candling I
Candling II
Candling III
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Mati/kosong
Mati/kosong
Mati/kosong
Mati/kosong
Hidup
Hidup
Mati/kosong
Mati/kosong
Hidup
Hidup
Hidup
Mati/kosong
Hidup
Hidup
Hidup
Hidup (Dipecah)
Hidup
Hidup
Mati/kosong
Hidup
Mati/kosong
Hidup
Hidup
Mati/kosong
Hidup
Hidup
Mati/kosong
Mati/kosong
Mati/kosong
Mati/kosong
-
Fertil
-
-
Fertil
Fertil (Dipecah)
-
-
Fertil
Fertil
Fertil
-
Fertil
Fertil
Fertil
-
Fertil
Fertil
-
Fertil
-
Fertil
Fertil
-
Fertil
Fertil
-
-
-
-
-
Ada
-
-
Mati
-
-
Hidup
Hidup
Mati
Mati
-
Mati
Hidup
Mati
-
-
-
Mati
Mati
Mati (Dipecah)
Mati
-
-
Mati
Mati
-
-
-
-
Sumber: Laporan Sementara Praktikum Teknologi Penetasan Unggas 2010

Tabel 2.2  Data Pengaturan Ventilasi
Hari ke-
Keterangan
1-3
4
5
6
7-menetas
Ventilasi bagian atas tertutup (seluruhnya)
Ventilasi dibuka ¼ bagian
Ventilasi dibuka ½ bagian
Ventilasi dibuka ¾ bagian
Ventilasi dibuka seluruhnya
Sumber: Laporan Sementara Praktikum Teknologi Penetasan Unggas 2010


 











Gambar 2.1 Candling Telur
 











Gambar 2.2 Telur Dipecah Pada Saat Candling
2.    Pembahasan
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai telur pecah menghasilkan anak ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh induk ayam atau secara buatan (artifisial) menggunakan mesin tetas. Telur yang digunakan adalah telur tetas, yang merupakan telur fertil atau telur yang telah dibuahi oleh sperma, dihasilkan dari peternakan ayam pembibit, bukan dari peternakan ayam petelur komersil                                          (Suprijatna et all, 2005).
Dalam praktikum ini digunakan mesin tetas untuk menetaskan telur tetas. Telur yang telah diseleksi dan memenuhi persyaratan untuk ditetaskan segera dimasukkan ke dalam mesin tetas, namun sebelumnya telur dibersihkan, ditimbang dan diukur untuk mengetahui indeks telur. Sejak telur dimasukkan pada hari pertama sampai dengan tiga hari kemudian, kegiatan rutin yang dilakukan yaitu kontrol temperatur mesin tetas, kontrol alat pemanas dan tidak dilakukan pemutaran telur. Pengontrolan dilakukan 6 kali sehari, pada jam 07.00; 09.00; 11.00; 13.00; 15.00 dan 17.00 WIB. Mesin tetas berfungsi mengganti peran induk unggas dalam penetasan telur untuk menghasilkan anak unggas. Cara kerja mesin tetas pada prinsipnya meniru induk unggas pada waktu mengerami telurnya. Itulah sebabnya mesin tetas yang baik dapat menciptakan kondisi sebagaimana kondisi alami oleh induk unggas. Untuk menciptakan kondisi yang ideal seperti pada penetasan alami, harus diperhatikan panas atau temperatur, kelembaban, sirkulasi udara (O2) dalam ruang mesin tetas dan pemutaran telur.
Menurut Suprijatna et all (2005), perkembangan embrio akan mengalami istirahat, tidak berkembang pada kondisi temperatur tertentu, yaitu yang disebut sebagai physiological zero. Temperatur tersebut adalah 75oF (23,6 oC). Di atas temperatur tersebut, embrio akan berkembang dengan baik. Pada praktikum ini, suhu yang digunakan pada awal penetasan minggu pertama berkisar antara 37- 40oC. Hal ini dikarenakan telur membutuhkan panas yang lebih pada awal penetasan. Pada mesin tetas ini, panas yang dihasilkan dari lampu pijar. Panas yang berasal dari sumber listrik ( lampu ) disalurkan ke dalam ruangan dan secara otomatis lampu akan mati jika suhu yang diinginkan telah tercapai.
Penetas (pemanas dari listrik) yang menggunakan tenaga listrik dilengkapi dengan lampu pijar dan seperangkat alat yang disebut termostat (termoregulator). Alat ini dapat mengatur suhu di dalam ruangan penetasan secara otomatis. Jika panasnya melebihi batas yang kita tentukan, maka termoregulator akan bekerja memutus arus listrik, akibatnya lampu pijar menjadi mati. Demikian suhu udara di dalam mesin tetas tetap stabil. Apabila dengan waktu tertentu ruangan atau kotak itu suhunya rendah, maka termostat bekerja kembali untuk menyambung arus dan lampu pijar menyala pula                   (Marhiyanto, 2000). Dalam pelaksanaan praktikum  temperatur di dalam mesin tetas dikontrol kestabilannya setiap saat, mengingat panas dari mesin tetas dipengaruhi oleh keadaan udara dan cuaca diluar mesin tetas. Pengontrolan temperatur alat tetas dengan melihat angka pada termometer sebagai pengatur suhu yang diletakkan diantara sela-sela telur tersebut. Usahakan jika pintu ditutup masih bisa dimonitor (dilihat) dari luar melalui kaca. Termometer ini sangat diperlukan karena untuk mengetahui suhu yang dibutuhkan. Jika tidak tepat maka penyesuaian temperatur dengan memutar sekrup pada termostat.
Menurut Suprijatna et all (2005), terdapat tiga temperatur optimal untuk perkembangan embrio, yaitu sebagai berikut :
Pada saat perkembangan embrional didalam tubuh induk. Pada saat berlangsung pertumbuhan embrio di dalam tubuh induk, yaitu bermula dari terbentuknya zygote sampai telur dikeluarkan dari tubuh maka temperatur optimal adalah merupakan temperatur tubuh induk. Temperatur tubuh induk ayam berfluktuasi sekitar 105 – 107oF (40,6 – 41,7oC)
Pada saat perkembangan embrional selama 19 hari pertama penetasan. Temperatur optimal pada saat ini sangat bervariasi tergantung jenis mesin tetas, besar telur dan jenis telur. Pada mesin tetas jenis forced-draft, temperatur yang ideal adalah 99,5oF (36,7 oC), sedangkan untuk jenis still-air yaitu 1oF lebih tinggi.
Perkembangan embrio pada saat 20-21 hari penetasan. Temperatur optimal untuk mesin tetas forced-draft adalah lebih rendah daripada 19 hari pertama, yaitu antara 98 - 99 oF (36,7 - 37,2 oC).
Kelembaban selama penetasan pun diperhatikan. Dengan adanya bak air yang terdapat dibawah rak telur berfungsi untuk mengatur kelembaban dalam ruangan mesin tetas dengan cara menambah atau mengurangi air dalam bak air. Menurut Suprijatna et all (2005), kelembaban udara dalam mesin tetas yang optimal selama penetasan harus dijaga sehingga tidak terjadi dehidrasi maupun terlalu lembab. Kelembaban yang optimal berkisar 50 - 60%. Sedangkan menurut Shanawany (1994), untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur kelembaban pada 65 – 70%. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70%. Cara lain dengan melihat pada kaca ventilasi masin tetas. Bila pada kaca terdapat butir-butir air berarti kelembaban terlalu tinggi. Dalam kondisi tersebut, kaca segera dilap sampai kering, ventilasi dibuka dan bak air dikeluarkan. Ada kalanya kelembaban di dalam mesin tetas terlalu tinggi atau terlalu rendah sehingga perlu dilakukan pengaturannya (Suharno, 2000).
Dari pengamatan diketahui pada awal penetasan temperatur tinggi sedangkan kelembaban rendah. Sedangkan setelah akhir penetasan temperatur rendah sedangkan kelembaban tinggi. Dengan temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi akan membantu proses penetasan telur atau keluarnya anak ayam dan karena panas telah dapat diproduksi oleh anak ayam yang masih dalam cangkang.
Peredaran udara dalam mesin tetas berjalan lancar dengan mengatur ventilasi (lubang angin). Udara segar masuk ke dalam mesin tetas melalui ventilasi dibagian atas mesin tetas. Udara kotor keluar melalui ventilasi di bagian bawah. Ventilasi pada bagian atas pada awal penetasan harus ditutup, baru setelah pada hari ke-4 dibuka sedikit demi sedikit dan pada hari ke-7 terbuka seluruhnya sampai akhir penetasan. Menurut Suprijatna (2005), pengaturan ventilasi agar sirkulasi udara di dalam mesin tetas berjalan lancar. Pengaturannya sebagai berikut:
Hari ke-1 sampai ke-3, ventilasi di bagian atas tertutup terus (seluruhnya).
1.    Hari ke-4, ventilasi dibuka ¼ bagian.
2.    Hari ke-5, ventilasi dibuka ½ bagian.
3.    Hari ke-6, ventilasi dibuka ¾ bagian
4.    Hari ke-7, sampai menetas, dibuka seluruhnya.
Semakain hari ventilasi mesin penetas mengalami penambahan pembukaan dengan maksud bahwa pada awal penetasan embrio belum mampu untuk bernafas atau mengeluarkan CO2 dan membutuhkan O2. sedangkan menjelang akhir penetasan embrio, telah mampu bernafas dan mengeluarkan CO2 sehingga semakin hari ventilasi dibuka lebar.
Kegiatan yang juga dilakukan pada praktikum hari ke-4 yaitu pemutaran telur. Pemutaran telur dimaksudkan untuk meratakan panas yang diterima telur (mencegah dinding kerabang tidak kering), menghindari embrio lengket pada satu sisi saja (embrio tetap berada pada posisinya dibagian tengah telur) dan embrio mendapatkan nutrien yang lebih segar.                                      Menurut Sudrajad  (2001), pemutaran dilakukan sampai pada hari ke-18. Tidak dianjurkan untuk mengangkat telur pada saat pemutaran (Soedjarwo, 1999). Untuk mempermudah pemutaran telur selama praktikum, telur diberi tanda dengan spidol sehingga bisa menghindari kesalahan. Menurut Marhiyanto (2000), penataan telur tidak boleh sembarangan. Tetapi ditata dengan cara ditegakkan, bagian ujung yang lebih kecil harus diatas dan bagian bulat atau tumpul berada dibawah.
Apabila telur tidak diputar maka akan terjadi persinggungan yolk dengan bagian albumen lain yang mengandung enzim lisosim yang akan menguraikan protein sehingga akan mengkibatkan kematian embrio yang sedang berkembang (Suprijatna, 2005). Telur yang ditetaskan diberi tanda untuk mempermudah pembalikan telur supaya merata, banyaknya pembalikan minimal 3 kali dalam 24 jam, kecuali pada hari ke-19 hingga menetas tidak tidak diperlukan pembalikan lagi, yang penting pemeriksaan air dalam mesin tetas jangan sampai kering karena dapat menyulitkan pecahnya kulit telur dan akhirnya bibit akan mati (www.dikti.org/p3m/vucer9/02116s.html). Pemutaran telur pada selama praktikum penetasan yaitu pada jam 07.00; 09.00; 11.00; 13.00; 15.00 dan 17.00 WIB.
Kegiatan yang dilakukan pada hari ke-7 yaitu peneropongan telur (candling). Pemeriksaan telur dilakukan dengan teropong yang dilengkapi sumber cahaya lampu pijar atau sinar matahari. Menurut Nuryati et al (1998), peneropongan telur dengan cara memeriksa bagian dalam telur dengan bantuan cahaya, dengan cara menempelkan telur pada alat teropong dengan posisi 450 dan memutarnya sampai dalam telur terlihat jelas. Alat teropong bisa menggunakan senter yang diberi kertas gelap.
Pemeriksaan telur tahap pertama merupakan seleksi pertama selama proses penetasan. Peneropongan telur dilakukan tiga kali selama proses penetasan telur, yaitu hari ke-7, 14, dan 18, dengan menggunakan alat peneropong telur (candling lamp). Peneropongan telur bertujuan untuk mengetahui telur kosong atau infertil, telur hidup yang ditandai dengan adanya tunas atau cabang-cabang urat darah ataupun gumpalan gelap yang akan bergerak bila telur digerakkan (diputar) dan telur mati yang ditandai dengan titik atau lingkaran ataupun gumpalan berwarna kehitaman yang tidak bergerak.Telur yang tidak fertil harus dikeluarkan dan dimanfaatkan sebagai telur konsumsi.
Pada peneropongan hari ke-7, didapatkan 12 (no.1, 2, 4, 12, 16, 24, 27,28,29,30) telur yang mati atau infertil. Peneropongan pada hari ke-14 dan 18, tidak didapatkan telur yang infertil. Biasanya jika setelah peneropongan hari ke-14 tidak ada yang infertil maka hari ke-18 tidak ada yang infertil juga. Menurut Soedjarwo (1999), telur infertil dan mati sebaiknya dikeluarkan dari mesin tetas. Hal ini karena  telur tersebut tidak akan menetas dan dapat menimbulkan bau busuk yang akan mengganggu proses penetasan.
Menurut Marhiyanto (2000), Cara untuk mengetahui apakah telur itu kosong atau akan menetas dapat dilakukan dengan meneropong menggunakan lampu senter :
1.        Jika di dalam telur tersebut tampak urat-urat darah maka berarti kelak akan menetas.
2.        Jika sama sekali tidak ada titik maupun urat-urat darah berarti telur kosong.
3.        Jika ada titik darah ditengah-tengah, berarti mbrio mati (bibit mati) dan tidak akan menetas.
4.        Jika separuh tampak gelap, berarti telur mati.
5.        Jika pada hari ke-5 sampai hari ke-7 dilakukan pemeriksaan dan mendapatkan telur kosong, maka telur tersebut bisa dikonsumsi artinya bisa dimakan. Sedangkan telur kosong pada hari ke-14 san 15 sebaiknya dibuang saja.

C.    Tahap Akhir Penetasan
1.   Hasil Pengamatan
Tabel 3. Data Perlakuan Terhadap DOC
Nomor telur tetas
Keterangan
2
8
9
14
Mati
Mati
Mati
Mati
 Sumber : Laporan Sementara
2.   Pembahasan
Penetasan telur yang dilakukan pada telur ayam kampung dalam praktikum ini adalah sebanyak 30 butir. Telur yang ditetaskan didalam mesin tetas selama penetasan didapatkan telur infertil, telur fertil mati, telur fertil dan menetas. Pada penetasan telur ini, untuk hari ke-20 dan 21 terjadi proses pemecahan kulit telur. Menurut Soeyanto (1981) bahwa proses pemecahan kulit telur terjadi pada hari ke-20 dan 21, kepala dengan paruh ditekan ke kutub sambil memperpanjang diri, sehingga menggelembung, kemudian kulit telur sepotong demi sepotong pecah. Dengan menggunakan kekuatan sedikit demi sedikit kutub tumpul itu terangkat dan keluarlah anak ayam dari kulit telur yang menyelubunginya.
Pada praktikum yang telah kami lakukan didapat 4 butir telur yag berhasil bertaha sampai hari ke 21, yaitu telur nomor 2, 8, 9 dan 19. Dari keempat telur tersebut tidak ada yang berhasil menetas walaupun embrio didalam sudah berkembang secara sempurna. Embrio tersebut tidak bisa melewati masa kritis yaitu hari ke 19 sampai hari ke 21. Kegagalan dapat terjadi dalam proses penetasan dengan mesin tetas. Menurut Sudrajat (2003) bahwa kegagalan menetas pada telur-telur tetas disebabkan oleh kualitas telur juga disebabkanoleh kualitas faktor mesin tetas itu sendiri, antaralain (1) Suhu mesin tetas tidak stabil, misalnya listrik mati atau suhu mesin tetas sering naik turun (2) Udara dalam mesin tetas terlalu kering (3) Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dan (4) Kurang tepatnya dalam membalik telur dalam mesin tetas sehingga embryo dalam telur mati.
  Tahap akhir dalam proses penetasan yakni segera setelah DOC dikeluarkan maka segera dilakukan sanitasi pada mesin tetas. Cara-cara sanitasi alat tetas yang selesai digunakan antaralain : (1) Membuang dan membersihkan kulit telur yang menetas dan telur yang tidak menetas dari rak telu, (2) Membersihkan bak air, (3) Mengeluarkan termometer dari mesin tetas dan membersihkannya, (4) Membersihkan seluruh kotoran yang ada didalam kotak penetasan telur.
Pendapat Chan dan Zamrowi (1993) bahwa anak ayam yang baru menetas dibiarkan berada didalam alat penetasan selama 24 jam dan tidak diberi makan. Hal ini disebabkan didalam tubuh DOC masih ada persediaan makanan pada yolk. Cangkang telur yang menetas dibiarkan pada tempatnya karena berguna untuk melatih anak ayam mematuk dan meninbulkan rangsangan makan karena terdapat sisa-sisa makanan dalam cangkang tersebut. Cangkang telur ini sebagai sumber kalsium bagi anak ayam yang baru menetas.
 
D.    Evaluasi Penetasan
1.   Hasil Pengamatan
            Fertilitas =   

            MortalitasTelur =
           
Daya Tetas =

Candling I
                        Fertilitas =
Telur infertil = 1 butir (Nomor 12)
Telur fertil    = 19 butir

Fertilitas =     x 100%
                        Mortalitas Telur =
                        Mortalitas Telur =                  

Candling II
Telur infertil =  -   butir
Telur fertil    = 19 butir
Fertilitas =
MortalitasTelur =
Mortalitas Telur =

Candling III
Telur infertile  =   butir
Telur fertile     =   butir
Fertilitas          =
MortalitasTelur =
                        Mortalitas Telur =
Daya Tetas =                

Daya Tetas =                

Kualitas Tetas =           

Mortalitas Telur Total =

2.   Pembahasan
Dalam suatu usaha penetasan, masalah masalah yang selalu harus dijaga adalah mencegah atau menekan kegagalan penetasan sekecil mungkin. Besar atau kecilnya jumlah yang menetas menentukan kelangsungan usaha penetasan itu atau menentukan usaha pemeliharaan selanjutnya. Suatu hal perlu diperhatikan adalah sulitnya untuk mengetahui apakah usaha penetasan itu akan berhasil atau tidak. Sebab, walaupun seorang pelaksana penetasan yang telah bekerja baik, semua syarat diperhatikan dengan baik, seperti alat tetas, ruang penetasan dan lain-lain, masih saja ada telur yang tidak menetas atau anak-anak ayam yang menetas dalam wujud yang tidak normal (Rasyaf, 1990).
Tahap akhir dari penetasan adalah evaluasi penetasan. Hal-hal yang dievaluasi meliputi fertilitas, mortalitas dan daya tetas. Menurut Tri-Yuwanta (1983), fertilitas adalah  perbandingan antara telur fertil dengan telur yang ditetaskan  dan dinyatakan dalam persen. Mortalitas adalah jumlah embrio yang mati selama proses penetasan dan dinyatakan dalam persen. Daya tetas adalah jumlah telur yang menetas dari sekelompok telur fertil yang dinyatakan dalam persen.
Pada candling/peneropongan I dilakukan pada hari ke-3 setelah telur dimasukkan mesin tetas. Berdasarkan candling I diperoleh data bahwa fertilitas telur tetas sebesar 95 %. Dari 20 butir telur yang ditetaskan terdapat 1 butir yang infertil. Tanda-tanda fertilitas telur dapat dilihat ada tidak adanya lingkaran hitam kecil, bila bergerak maka embrio hidup dan sebaliknya apabila tidak bergerak atau telur terlihat bening maka telur tersebut infertil. Fertilitas 95 % diperoleh dengan membandingkan telur fertil (19 butir) dengan telur yang ditetaskan seluruhnya (20 butir) dan dikalikan 100 %. Pada saat pengecekan satu telur yang infertil (telur nomor 12) tidak terdapat embrio. Dari angka fertilitas yang sebesar 95 % maka akan didapat angka mortalitas telur tetas sebesar 5 %.
Pada candling II angka fertilitas telur tetas sebesar 100 %. Pada candling II ini terlihat adanya urat-urat darah pada semua telur. Mortalitas pada candling II ini adalah 0 %, karena semua telur fertil terdapat embrio yang hidup. Candling II ini dilakukan pada hari ke-7 setelah telur dimasukkan mesin tetas.
Candling III yang dilakukan pada hari ke-18 didapatkan angka mortalitas sebesar 0 % dan fertilitas 100 %. Telur-telur yang ditetaskan memiliki berat yang lebih besar dibandingkan dengan berat telur pada saat pemasukan ke mesin tetas. Hal ini disebabkan karena embrio yang terdapat didalam telur berkembang menjadi calon anak ayam.
Dari telur yang menetas sebanyak 9 ekor, diperoleh daya tetas sebesar 47,37 %, kualitas tetas sebesar 45 % dan mortalitas total yang didapat dalam penetasan ini sebanyak 55 %. Menurut Rasyaf (2002), telur yang tidak menetas menjadi lebih banyak bila menggunakan mesin tetas dibandingkan dengan pengeraman dengan induk ayam. Kesalahan temperatur, kelembaban mesin tetas atau terlalu banyak menggunakan obat pembunuh kuman dapat menyebabkan banyak telur yang tidak menetas.
Menurut Sudrajad (2001), bila setelah 22 hari banyak telur yang belum menetas berarti telur tersebut gagal menetas, penyebabnya antara lain :
1.      Suhu mesin tetas tidak stabil, misalnya listrik sering padam.
2.      Udara dalam mesin tetas terlalu kering karena kealpaan mengisi air dalam bak yang berada dalam mesin tetas.
3.      Keteledoran dalam membalik telur dalam mesim tetas.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan yaitu mortalitas dari candling I sampai candling III mengalami penurunan. Daya tetas telur merupakan indikator banyaknya anak ayam yang menetas dari sejumlah telur yang bertunas. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur  menurut Rukmana (2003) adalah sebagai berikut:
1.      Kesalahan-kesalahan teknis pada waktu memilih telur tetas.
2.      Kesalahan-kesalahan teknis dari petugas yang menjalankan mesin tetas atau kerusakan teknis pada mesin tetas.
3.      Iklim yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga mengakibatkan menurunnya daya tetas telur.
4.      Faktor yang terletak pada ayam sebagai sumber bibit, antara lain sebagai berikut:
a.       Sifat  Turun Temurun: Telur tetas yang berasal dari babon dengan daya produksi tinggi bukan saja fertilitasnya yang tinggi, tetapi juga daya tetasnya tinggi.
b.      Perkawinan: Perkawinan antara keluarga dekat (tanpa seleksi) kadang-kadang menghasilkan telur-telur yang daya bertetas rendah
c.       Makanan: Defisiensi vitamin (A,B2, B12,D,E dan asam pantothenat dapat menyebabkan daya tetas telur berkurang).
d.      Perkandangan : Temperatur dalam kandang yang terlalu dingin atau terlalu panas akan menurunkan daya tetas telur
Telur yang mempunyai fertilitas tinggi pada umunya mempunyai daya tetas yang tinggi pula. Namun, untuk menghasilkan telur yang daya tetasnya tinggi, perlu memperhatikan beberapa syarat berikut ini :
1.      Telur tidak terlalu besar, tetapi tidak terlalu kecil.
2.      Umur telur tetas antara 1-6 hari. Umur telur yang melewati hari tersebut cenderung daya tetasnya menurun.
3.      Telur berasal dari induk dan pejantan yang sehat
4.      Telur dalam keadaan bersih
5.      Kulit telur rata.
6.      Telur tidak cacat atau rusak.
7.      Telur berbentuk oval atau bulat telur.
(Jayasamudera, 2005).
Kegagalan penetasan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1.      Nisbah kelamin.
Rasio jantan betina tidak tepat, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit (jantan per betinanya), terutama peranannya dalam memberikan sperma bagi betina.
2.      Temperatur selam penetasan.
Embrio yang sedang tumbuh di dalam telur tetas membutuhkan temperatur yang optimum selama penetasan. Temperatur yang optimum untuk telur tetas tidak sama pada semua telur, tetapi tergantung pada :
a.       Besar telur, telur yang besar membutuhkan temperatur optimum yang relatif berbeda dengan telur yang kecil.
b.      Kualitas kerabang, kontak dengan dunia luar dilakukan melalui kerabang ini, sehingga kontak dengan temperatur juga melalui kerabang.
c.       Genetik, termasuk di sini adalah breed dan strain unggas tersebut.
d.      Umur telur ketika dimasukkan ke dalam rak mesin tetas, semakin lama umur telur itu akan semakin buruk kualitas kerabangnya maka pori-pori akan bertambah banyak dan semakin labil pengaruhnya terhadap temperatur.
3.      Kelembaban selama penetasan.
Banyak kegagalan penetasan karena air pembentuk kelembaban kosong.
4.      Penyediaan udara selama penetasan.
Semakin besar embrio semakin banyak udara yang dibutuhkan dan ventilasi semakin penting.
5.      Posisi telur pada rak penentasan.
Banyak mesin tetas komersial menganjurkan peletakan telur dalam posisi horizontal dan diputar pada saat-saat tertentu. Pemutaran akan dapat meningkatkan daya tetas dan sudut putaran pun akan meningkatkan daya tetas.
(Rasyaf, 1990).
Menurut Haryoto (1999), kegagalan penetasan memiliki beberapa kemungkinan sebagai berikut:
1.      Telur tidak berbibit kerena perkawinan tidak baik, misalnya pejantan terlalu pendek, taji terlalu panjang, ayam terlalu gemuk, induk terserang penyakit berak kapur, atau penyakit lain yang mempengaruhi daya tetas
2.      Umur induk terlalu muda atau terlalu tua
3.      Pakan kurang bergizi
Daya tetas menurut Shanaway (1994), dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1.      Berat telur
Berat telur yang terlalu besar atau terlalu kecil menyebabkan menurunya daya tetas. Berat telur yang ditetaskan harus seragam dengan bangsa dan tipe ayamnya.
2.      Penyimpanan telur
penyimpan paling lama 1 minggu. Penyimpanan diatas 4 hari menyebabkan Daya tetas menurun sebesar 25 % setiap hari. Untuk telur baru, penyimpanan pada temperatur 21-230C menyebabkan physiological zero, artinya embrio dalam kondisi tidak mengalami pertumbuhan. Temperatur optimum, untuk penyimpanan telur adalah sebesar 16-18 0C dengan RH 75-80%.
3.      Tempeteratur
Temperatur optimuim pada permukaan atas telur 39-39,5 0C.
4.      Kelembaban
Kelembaban yang trepat membantu agar pertumbuhan embrio sempurna dan normal. Kelembaban yang optimal adalah sebesaqr 65-70%.
5.      Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk distribusi panas dan kelembaban mengeluarkan CO­­2 dan suplai O­­2. kelembaban minimal sebesar 18%.
6.      Posisi dan Pemutaran telur
Berfungsi untuk meratakan panas sert menjaga agar embrio tidak menempelpada kerabang telur. Setiap pemutaran germinal disc akan bersentuhan dengan nutrien yang segar. Tanpa pemutaran kekurangan nutien dan oksigen.
7.      Nutrisi induk
Defisiensi pada induk dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan menyebabkan kematian embrio.
8.      Kesehatan Induk
Apabila induk  tidak sehat maka dapat mengganggu transfer nutrienke dalam telur, sehingga embrio kekurangan nutrien. Akibat selanjutnya dapat menurunkan daya tetas.
9.      Infeksi bakteri/ virus
Infeksi bakteri/virus pada telur dapat menyebabkan kematian embrio.


BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A.  KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktuikum penetasan unggas ini antara lain adalah:
1.      Persiapan yang dilakukan untuk penetasan telur yaitu pemilihan telur dengan warna yang seragam, tidak retak, tidak kotor, tekstur halus dan berbentuk bulat atau oval.
2.      Didapat rata-rata telur ayam yang digunakan yaitu panjang 4,74 cm, rata-rata lebar 3,33 cm dan indeks sebesar 70,48 cm, dan berat rata-rata 46 gr.
3.      Pengaturan ventilasi selama penetasan
a.         Hari ke-4 ventilasi dibuka 1/4 bagian.
b.         Hari ke-5 ventilasi dibuka 1/2 bagian.
c.         Hari ke-6 ventilasi dibuka 3/4 bagian.
d.        Hari ke-7 sampai memnetas dibuka seluruhnya.
4.      Pemutaran telur dimulai pada hari keempat, dan selama penetasan dilakukan pemutaran sebanyak 6 kali sehari.
5.      Peneropongan (candling) dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada hari ke-7, hari ke-14, dan  hari ke-18.
6.      Candling pertama didapatkan satu telur yang kosong/infertil, dan sisanya fertil sampai hari ke-18.
7.      Faktor yang berpengaruh selama proses penetasan yaitu suhu, kelembaban, sirkulasi udara dan pemutaran telur.
8.      Penanganan telur pasca menetas.yaitu DOC dibiarkan selama 224 jam dalam inkubator agar tetap hangat.
9.      Baru setelah 24 jam dilakukan penanganan lebih yang lebih lanjut seperti seleksi, broaading, vaksinasi dan pengemasan untuk pendistribusian lebih lanjut.
10.  Penanganan alat penetasan yaitu dibersihkan dengan air dan disemprot dengan disinfektan serta sisa cangkang dikeluarkan dan dibersihkan.
11.  Dari hasil prakikum diperoleh daya tetas sebesar 47,37 %, kualitas tetas sebesar 45 % dan mortalitas telur total sebesar 55 %.
12.  Angka mortalitas tiap dilakukan candling mengalami penurunan dari 5 % menjadi 0 %.
13.  Peneropongan telur bertujuan untuk mengetahui telur kosong/ infertil, telur hidup yang ditandai dengan adanya tunas dengan cabang-cabang urat darah dan telur mati yang ditandai dengan titik/ atau lingkar berwarna kehitaman

B.  SARAN
Saran dari kelompok kami dalam praktikum ini yaitu antara lain sebelum kita melakukan proses penetasan kita setidaknya tahu apa yang harus dan akan kita lakukan dlam praktikum ini, para mahasiswa diharapkan dapat mengambil segala pelajaran yang ada dan kita tidak boleh sembarangan dalam melakukan penetasan karena bila kita tidak rajin memutar telur tentunya akan banyak telur yang tidak menetas.
Untuk mesin yang akan digunakan diusahakan menggunakan mesin tetas yang masih dalam kondisi yang bagus dan dapat digunakan. Selama proses penetasan air harus selalu diisi.  Sebaiknya pada bak air diberi tutup kawat kasa agar pada saat telur menetas anak ayam tidak tercebur ke dalam air yang dapat menyebabkab kematian.
Dan kami ucapkan banyak terima kasih pada para co-ass praktikum penetasan unggas kali ini.








DAFTAR PUSTAKA


Anggorodi, R. 1085. Kemajuan Mutakhir Dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Universitas Indonesia Press. Jakarta
Akoso, B. T. 1993. Manual Kesehatan Unggas Panduan Bagi Petugas Teknik, Penyuluh Dan Peternak. Kanisius. Yogyakarta.
Anonimus. 2005. WWW.Dikti.org/p3m/vucerg/02116s.html (diakses  hari senin tanggal 21 Mei 2007 pukul 15:45 WIB)
Haryoto.1999. Beternak Ayam Kate Emas. Kanisius. Jakarta
Jayasamudera, Dede Juanda dan Cahyono Bambang. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Marhiyanto, B. 2000. Suksses Beternak Ayam Arab. Difa Publiser. Jakarta.
Nuryati, T. N., Sutarto, M. K dan P. S. Hardjosworo. 1998. Sukses Menetaskan Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
________., 2002. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana Rahmat. 2003. Ayam Buras: Intensifikasi dan Kiat Pengembangan. Kainisius. Jakarta
Shanawany. 1994. Quail Production Systems. FAO of The United Nations. Rome.
Soedjarwo, T. 1999. Membuat Mesin Tetas Sederhana. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudaryani dan H. Santoso. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudrajad. 2001. Beternak Ayam Vietnam untuk Aduan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suharno, B dan Khairul, A. 2000. Beternak Itik Secara Intensif. Penebar. Swadana. Jakarta.
Suprijatna, Umiyati, Ruhyat., 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tri-Yuwanta. 1983. Beberapa Metode Praktis Penetasan Telur. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.




http://galeriukm.web.id/peluang-usaha/analis-usaha-penetasan-telur-ayam
http://sentralternak.com/index.php/2008/09/01/tips-dan-trik-dalam-penetasan-telur-unggas/

http://agromedia.net/Artikel/kunci-sukses-penetasan-telur.html




















Senin, 16 Januari 2012

kapan lulus????


pertanyaan yang selalu muncul yang hanya bisa kujawab dengan senyuman...
"udh kuliah?udah" | "ambil jurusan apa?peternakan" | "semester berapa?".."(maaf sensor) | "udah skripsi dong?kapan lulus? ^____^ (speachless, gak bisa ngomong)
Ya Allah tolong akuuuuu, please!!!

Sabtu, 02 April 2011

Hormon

BAB I
PENDAHULUAN

Hormon (dari bahasa Yunani, yang berarti "yang menggerakkan") adalah pembawa pesan kimiawi antar sel atau antar kelompok sel. Definisi dari hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Semua organisme multiselular, termasuk tumbuhan, memproduksi hormon. Hormon berfungsi untuk memberikan sinyal ke sel target yang selanjutnya akan melakukan suatu tindakan atau aktivitas tertentu (Anonim, 2011).
Hormon dikeluarkan dan masuk ke aliran darah dalam konsentrasi rendah hingga menuju ke organ atau sel target. Beberapa hormon membutuhkan substansi pembawa seperti protein agar tetap berada di dalam darah. Hormon lainnya membutuhkan substansi yang disebut dengan reservoir hormon supaya kadar hormon tetap konstan dan terhindar dari reaksi penguraian kimia. Saat hormon sampai pada sel target, hormon harus dikenali oleh protein yang terdapat di sel yang disebut reseptor. Molekul khusus dalam sel yang disebut duta kedua (second messenger) membawa informasi dari hormon ke dalam sel.
Tindakan yang dilakukan karena pesan hormon sangat bervariasi, termasuk diantaranya adalah perangsangan atau penghambatan pertumbuhan serta apoptosis (kematian sel terprogram), pengaktifan atau penonaktifan sistem kekebalan, pengaturan metabolisme dan persiapan aktivitas baru (misalnya terbang, kawin, dan perawatan anak), atau fase kehidupan (misalnya pubertas dan menopause). Pada banyak kasus, satu hormon dapat mengatur produksi dan pelepasan hormon lainnya. Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada hampir semua organisme multiselular.
Pada hewan, hormon yang paling dikenal adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar endokrin vertebrata. Walaupun demikian, hormon dihasilkan oleh hampir semua sistem organ dan jenis jaringan pada tubuh hewan. Molekul hormon dilepaskan langsung ke aliran darah, walaupun ada juga jenis hormon yang disebut ektohormon (ectohormone) yang tidak langsung dialirkan ke aliran darah, melainkan melalui sirkulasi atau difusi ke sel target.
Pada prinsipnya pengaturan produksi hormon dilakukan oleh hipotalamus (bagian dari otak). Hipotalamus mengontrol sekresi banyak kelenjar yang lain, terutama melalui kelenjar pituitari, yang juga mengontrol kelenjar-kelenjar lain. Hipotalamus akan memerintahkan kelenjar pituitari untuk mensekresikan hormonnya dengan mengirim faktor regulasi ke lobus anteriornya dan mengirim impuls saraf ke posteriornya dan mengirim impuls saraf ke lobus posteriornya.





















BAB II
PEMBAHASAN

Hormon adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu). Hormon berfungsi mengatur pertumbuhan, reproduksi, tingkah laku, keseimbangan, dan metabolisme. Hormon masuk ke dalam peredaran darah menuju organ target. Jumlah yang dibutuhkan sedikit namun mempunyai kemampuan kerja yang besar dan lama pengaruhnya karena hormon mempengaruhi kerja organ dan sel (Faisal, 2011).
Hormon disebut juga substansi kimia spesifik yang dihasilkan oleh kelenjar tubuh (glandula endrokrin) yang langsung dicurahkan masuk ke dalam aliran darah dan dibawa ke jaringan tubuh untuk membantu dan mengatur fungsi fisiologisnya (Sturkie, 1987).
Semua hormon bersifat khas dan selektif dalam pengaruhnya terhadap organ sasaran yang ditentukan secara genetik. Organ sasaran segera bereaksi terhadap suatu hormon tertentu untuk menghasilkan zat atau perubahan-perubahan sebagaimana yang telah diprogramkan secara genetik (Nalbandov, 1964).
Ciri- ciri dari hormon adalah:
1. Diproduksi dan disekresikan ke dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah sangat kecil.
2. Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat di sel target.
3. Memiliki pengaruh mengaktifkan enzim khusus.
4. Memiliki pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target, tetapi dapat juga mempengaruhi beberapa sel target berlainan (Faisal, 2011).
Faktor yang mempengaruhi kerja hormon pada organ sasaran :
1. Kecepatan sintesis hormon dan sekresi hormon dan kelenjarnya.
2. Sistem transportasi hormon di dalam plasma (spesifik carrier protein).
3. Reseptor hormon khusus yang terdapat pada organ sasaran yang berbeda dengan letak reseptornya.
4. Kecepatan degradasi hormon.
5. Kecepatan perubahan hormon dari bentuk inaktif menjadi bentuk yang aktif.
6. Jarak
Perubahan dari salah satu faktor di atas merupakan perubahan dari jumlah aktivitas pada organ sasaran.
Hormon dapat diklasifikasikan melalui berbagai cara yaitu menurut komposisi kimia, sifat kelarutan, lokasi reseptor dan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di dalam sel.
Klasifikasi hormon berdasarkan senyawa kimia pembentuknya:
1. Golongan Steroid → turunan dari kolestrerol.
2. Golongan Eikosanoid yaitu dari asam arachidonat.
3. Golongan derivat asam amino dengan molekul yang kecil → Thyroid, Katekolamin.
4. Golongan Polipeptida/Protein → Insulin, Glukagon, GH, TSH.
Berdasarkan sifat kelarutan molekul hormon:
1. Lipofilik : kelompok hormon yang dapat larut dalam lemak
2. Hidrofilik : kelompok hormon yang dapat larut dalam air
Berdasarkan lokasi reseptor hormon:
1. Hormon yang berikatan dengan hormon dengan reseptor intraseluler
2. Hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel (plasma membran)
Berdasarkan sifat sinyal yang mengantar kerja hormon di dalam sel: kelompok hormon yang menggunakan kelompok second messenger senyawa cAMP, cGMP, Ca2+, Fosfoinositol, Lintasan Kinase sebagai mediator intraseluler (Wijaya, 2008).
Kelenjar-kelenjar tiroid yang penting adalah: hypothalamus, hypophysis pituitary, thyroid, parathyroid, pancreas (pulau Langerhans-Pancreas), adrenal (medula dan korteks), gonad (ovari dan testes), thymus, dan membrana mukosa usus.













1. Hypothalamus
Hypothalamus terletak pada bagian ventral, meliputi hypophisis atau glandula pytuitaria (salah satu kelenjar endokrin yang terpenting) dan struktur-struktur lainnya yang berkaitan (Mukhtar, 2006). Hypothalamus berbatasan pada bagian anterior dengan optic chiasma. Hypothalamus terdiri dari beberapa bagian yaitu:
a. Bagian posterior dengan mammilary bodies
b. Bagian dorsal dengan thalamus
c. Bagian ventral dengan sphenoid bone


Hormon yang dihasilkan oleh hypothalamus :
a. Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH). Berfungsi: melepaskan LH dan FSH.
b. Thyrotropin Releasing Hormone (TRH). Berfungsi: melepaskan TSH.
c. Corticotropin Releasing Hormone (CRH). Berfungsi: melepaskan ACTH.
d. Somatotropin Releasing Hormone (STH-RH). Berfungsi: melepaskan STH.
e. Somatotropin Inhibitory Hormone (STH-IH). Berfungsi: menghalangi STH yang keluar.
f. Prolactin Releasing Hormone (PRH). Berfungsi: melepaskan prolaktin.
g. Prolactin Inhibitory Hormone (PIH). Berfungsi: menghalangi prolaktin keluar.
Pada kelenjar hipothalamus memiliki tipe hormon protein. Kelenjar hypothalamus berfungsi untuk menstimulasi adenohypophysys untuk melepaskan hormon-hormonnya (Ensminger, 1992 : Kartasudjana, 2006).

2. Hypophysis (Glandula Pituitaria)
Glandula pituitaria merupakan suatu kelenjar bilobi, yang menghasilkan bermacam-macam hormon yang mempengaruhi berbagai bagian tubuh, dan oleh karena itu sering disebut sebagai master control glands. Sebagai kelenjar endokrinon. Kelenjar hypophisa terletak di dalam legokan pada dasar ruang otak yang dikenal sebagai sella turcica. Kelenjar tersebut mensekresikan sejumlah besar hormon-hormon, beberapa diantaranya berhubungan langsung dengan reproduksi.
Glandula pituitaria (hypophisis) merupakan suatu kelenjar yang rangkap yang terdiri dari:
1. Lobus anterior dan pers intermedia, yang embryologis berasal dari suatu kantong yang terbentuk pada atap mulut (kantong rathke). Glandula pituitaria bagian depan menghasilkan hormon-hormon sebagai berikut:
a. Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone). Berfungsi :
• Merangsang pertumbuhan folikel ovarium.
• Sebagai substansi yang mengawali siklus birahi.
• Merangsang pemasakan folikel sampai folikel de graff tetapi tidak menyebabkan ovulasi.
• Perbedaan dengan hormon LH bertanggung jawab terhadap perbedaan lama birahi dan waktu ovulasi ternak sapi, domba, babi, dan kuda.
• Pada unggas betina berfungsi bagi pemasakan folikel (yolk), dan spermatogenesis pada unggas jantan.
b. Hormon LH (Luteinezing Hormone). Berfungsi:
• Mengawali pertumbuhan tenunan luteal (corpus luteum).
• Merangsang pertumbuhan corpus luteum.
• Penting untuk proses ovulasi.
• Merangsang tumbuhnya sel interstial pada ovarium.
• Merangsang sel granulose dan sel theca pada folikel yang masak untuk memproduksi estrogen.
• Semakin tinggi kadar LH maka semakin tinggi estrogen, sehingga menyebabkan ovulasi.
• Pada unggas LH berfungsi untuk merobek membrane vitelina folikel (yolk) pada bagian stigma agar terjadi ovulasi. Pada unggas jantan berperan bagi perkembangan testis.
c. Hormon LTH (Luteo Tropic Hormone) /Prolactin. Berfungsi:
• Bersama-sama dengan hormon LH merangsang sel theca dalam corpus hemorragicum untuk membentuk corpus luteum dan pembentukan progesterone oleh corpus luteum.
• Mempertahankan fungsi corpus luteum.
• Pada unggas betina menyebabkan sifat mengeram, dan menimbulkan sekresi susu tembolok pada merpati.

d. Hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Berfungsi:
• Mengawasi grandula/kelenjar thyreidea.
• Mengawasi pengambilan iod oleh thyroid.
• Sintesa thyroxine dari diidotyrosine .
e. Hormon ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormone). Berfungsi:
• Stimulasi adrenal cortex.
• Pelepasan adreno corticoid.
f. Hormon MSH (Melanotropin). Berfungsi:
• Memegang peranan dalam perubahan warna kulit (Partodihardjo, 1980).
2. Lobus posterior yang berasal dari encephalon.
a. Hormon Vasopressin/ADH (Antidiuratic Hormone). Berfungsi:
• Merangsang keaktifan otot-otot polos vesica urinaria (kandung kemih) dan vesica ellia (kantong empedu).
• Menaikkan tekanan darah yang menimbulkan contricsi arteri yang kecil.
• Pengurangan sekresi urin.
b. Hormon Oxytocin. Berfungsi:
• Menimbulkan kontraksi uterus.
• Mengeluarkan susu dari glandula mammae.

3. Thyroid
Kelenjar thyroid terdapat pada semua vertebrata, jumlahnya sepasang yang merupakan lobus yang berbentuk perisai yang saling dihubungkan oleh suatu isthmus. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat folikel dan parafolikuler. Di dalam folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid dimana hormon-hormon disintesa.kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri tiroidea inferior. Arteri tiroidea superior merupakan percabangan arteri karotis eksternal dan arteri tiroidea inferior merupakan percabangan dari arteri subklavia. Lobus kanan kelenjar tiroid mendapat suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri (Haqiqi, 2008).
Kelenjar Thyroid menghasilkan hormon tyroxine dan triiodotyroxine yang berfungsi:
a. Memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan saraf dan tulang.
b. Mempertahankan sekresi GH (Growth Hormone) dan gonadotropin.
c. Efek kronotropik dan Inotropik terhadap jantung yaitu menambah kekuatan kontraksi otot dan menambah irama jantung.
d. Merangsang pembentukan sel darah merah
e. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai kompensasi tubuh terhadap kebutuhan oksigen akibat metabolisme.
f. Bereaksi sebagai antagonis insulin. Tirokalsitonin mempunyai jaringan sasaran tulang dengan fungsi utama menurunkan kadar kalsium serum dengan menghambat reabsorpsi kalsium di tulang. Faktor utama yang mempengaruhi sekresi kalsitonin adalah kadar kalsium serum. Kadar kalsium serum yang rendah akan menekan pengeluaran tirokalsitonin dan sebaliknya peningkatan kalsium serum akan merangsang pengeluaran tirokalsitonin. Faktor tambahan adalah diet kalsium dan sekresi gastrin di lambung (Haqiqi, 2008).
g. Mempengaruhi laju metabolisme, mempengaruhi pertumbuhan bulu dan warna (Ensminger, 1992).

4. Parathyroid
Kelenjar parathyroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karenanya kelenjar parathyroid berjumlah empat buah. Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon parathyroid atau parathormon disingkat PTH.
Kelenjar Parathyroid menghasilkan hormon PTH (Paratirod Hormone), yang berfungsi PTH mempertahankan resorpsi tulang sehingga kalsium serum meningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D. Dengan vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat dari intestin. Selain itu hormon ini pun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran fosfat, HCO3 dan Na. karena sebagian besar kalsium disimpan di tulang maka efek PTH lebih besar terhadap tulang. Faktor yang mengontrol sekresi PTH adalah kadar kalsium serum.

5. Pancreas
Ada beberapa kelompok sel pada pankreas yang dikenal sebagai pulau Langerhans berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin. Hormon antagonistik merupakan hormon yang menyebabkan efek yang berlawanan, contohnya glukagon dan insulin. Saat kadar gula darah sangat turun, pankreas akan memproduksi glukagon untuk meningkatkannya lagi. Kadar glukosa yang tinggi menyebabkan pankreas memproduksi insulin untuk menurunkan kadar glukosa tersebut (Anonim, 2011). Kelenjar pancreas menghasilkan hormon:
a. Hormon Glucagon. Berfungsi: untuk mengawasi pemecahan ygocen hepar, dan efeknya pada metabolisme karbohidrat. Kerja hormon glucagon berlawanan dengan hormon insulin.
b. Hormon Insulin. Berfungsi: untuk metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak, sehingga apabila kekurangan insulin akan menyebabkan diabetes mellitus.
(Kartasudjana, 2006).
Pada hormon insulin akan mengakibatkan berbagai efek pada beberapa bagian tubuh, seperti:
• Efek pada hati:
- Membantu glikogenesis
- Meningkatkan sintesis trigliserida, kolesterol, dan VLDL
- Meningkatkan sintesis protein
- Menghambat glikogenolisis
- Menghambat ketogenesis
- Menghambat glukoneogenesis
• Efek pada otot:
- Membantu sintesis protein dengan :
. Meningkatkan transport asam amino
. Merangsang sintesis protein ribosomal
- Membantu sintesis glikogen
• Efek pada lemak:
- Membantu penyimpanan trigliserida
- Meningkatkan transport glukosa ke dalam sel lemak
- Menghambat lipolisis intraseluler
(Wijaya, 2008).

6. Adrenal
Kelenjar ini berbentuk bola, menempel pada bagian atas ginjal. Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenal dan dibagi atas dua bagian, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian tengah (medula). Kerusakan pada bagian korteks mengakibatkan penyakit Addison dengan gejala sebagai berikut: timbul kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, muntahmuntah, terasa sakit di dalam tubuh. Dalam keadaan ketakutan atau dalam keadaan bahaya, produksi adrenalin meningkat sehingga denyut jantung meningkat dan memompa darah lebih banyak. Gejala lainnya adalah melebarnya saluran bronkiolus, melebarnya pupil mata, kelopak mata terbuka lebar, dan diikuti dengan rambut berdiri (Faisal, 2011).
Kelenjar adrenal menghasilkan hormon aldosterone yang merupakan tipe hormon steroid. Hormon aldosterone berfungsi untuk metabolisme elektrolit dan air. Kelenjar adrenal dibagi menjadi dua kelenjar, yaitu kelenjar cortex dan kelenjar medulla.
a. Cortex. Menghasilkan hormon corticosteroids dan catecholamines. Berfungsi untuk metabolism karbohidrat, protein, dan lemak.
b. Medulla. Menghasilkan hormon:
• Adrenaline (Epinephrine). Berfungsi: menimbulkan respon syaraf simpstetik.
• Noradrenalisne (Norapinephrine). Berfungsi: transmitter syaraf.
(Kartasudjana, 2006).

7. Thymus
Thymus terdapat dalam bagian superior thorax didekat bagian bawah tracea. Pada anak-anak kelenjar ini agak besar, tetapi pada waktu pubertas antara 12-17 tahun, akan mengalami regressi/kemunduran.
Pada kelenjar thymus terdapat fungsi endokrin daripada thymus ini, pada tikus, thymus membentuk suatu substansia yang akan memasuki kelenjar-kelenjar lymphe dan menimbulkan terbentuknya lympocit. Fungsi lain dari thymus yaitu berperan dalam menimbulkan imunitas.

8. Membrana Mukosa Usus
Membrane mukosa usus yang membatasi ventriculus dan intestinum tenue menghasilkan beberapa hormon. Pada vantriculus dihasilkan gastrin yang merangsang sekresi enzim atau cairan gastricus.
Pada intestinum tunue dihasilkan:
a. Secretine. Berfungsi: merangsang sekresi enzim-enzim pancreas pada waktu makanan yang telah diperlunak dari ventriculus masuk ke duodenum.
b. Enterogastrone. Berfungsi: mengurangi sekresi dan mortilitas ventriculus pada waktu hormon ini dibawa oleh darah kedalam ventriculus.
c. Cholecystikinin. Berfungsi: menyebabkan kontraksi vesica vellia untuk mencurahkan bilus yang telah ditimbunnya dalam intestinum tenue. Homon ini dilepaskan dari mocosa intestinalis oleh makanan-makanan yang berupa lipid.

9. Testis
Testis memproduksi sejumlah hormon jantan yang kesemuanya disebut androgen. Yang paling potensi dari androgen adalah testosterone. Berikut fungsi-fungsi dari testosterone:
• Merangsang pendewasaan spermatozoa yang terbentuk dalam tubuli seminiferi.
• Merangsang pertumbuhan kelenjar-kelenjar asesori (kelenjar prostate, vesikularis, dan bulbourethralis.
• Merangsang pertumbuhan sifat jantan (Partodihardjo, 1980).
• Untuk keratinisasi epithel praeputium, pemisahan gland penis dari praeputium, dan pertumbuhan penis dan praeputium pada pubertas.
• Keinginan kelamin untuk libido dan kesanggupan untuk ereksi dan ejakulasi (Toelihere, 1985).

10. Ovarium
Ovarium mensintesa tiga macam hormon, yaitu estrogen, progesterone, dan relaxin. Estrogen dan progesterone adalah hormon steroid, sedangkan relaxin adalah polipeptida. Estrogen dan progesterone dibicarakan secara mendetail dibagian hormon steroid (Partodihardjo, 1980).


a. Estrogen.
Hormon estrogen disekresikan oleh theca interna dari folikel de Graaf. Jaringan ini kaya akan estrogen dan memperlihatkan aktivitas yang maksimum selama phase estrogenic dari siklus birahi (Toelihere, 1985).
Fungsi hormon estrogen adalah:
• Menimbulkan tanda-tanda birahi.
• Memperlancar peredaran darah dan perkembangan saluran kelamin.
• Menunjang pertumbuhan sistem pembuluh kelenjar susu.
• Bila sekresi estrogen mencapai ketinggian tertentu maka sekresi FSH akan menurun dan saat itulah LH meningkat terus sampai puncak.
• Setelah ovulasi terjadi estrogen menurun dan FSH kembali normal dan berangsur-angsur meningkat.
• Antara estrogen dengan FSH terjadi mekanisme saling ketergantungan.
b. Progesteron
Progesteron adalah progesteron alamiah terpenting yang disekresikan oleh sel-sel lutein corpus luteum. Disamping itu hormon ini dihasilkan juga oleh placenta. Sebagaimana steroid-steroid lainnya, progesteron tidak disimpan didalam tubuh, ia dipakai secara cepat atau diekskresikan dan hanya terdapat dalam konsentrasi rendah didalam jaringan-jaringan tubuh (Toelihere, 1985).
Fungsi hormon progesteron adalah:
• Penting untuk mempertahankan kebuntingan.
• Menyebabkan pertumbuhan alveoli kelenjar susu.
• Pengental lendir birahi untuk sumbat cervix.
• Menekan terjadinya kontraksi uterus dan menekan uterus terhadap pengaruh estrogen dan oxytocin.


c. Relaxin
Relaxin merupakan hormon protein. Relaxin terutama disintesa dan dilepaskan kedalam peredaran darah. Fungsi dari relaxin yaitu menyebabkan relaxasi simfisis pelvis. Relaxasi ini lebih nyata jika sebelumnya hewan telah dijenuhkan dengan estrogen dan progesterone. Fungsi lain misalnya synergism dengan estrogen dan progesterone dalam merangsang pertumbuhan kelenjar susu (Partodihardjo, 1980).
Menurut Toelihere (1985) fungsi fisiologik relaxin terutama berhubungan dengan partus dan bekerja erat dengan estrogen. Fungsi-fungsi tersebut adalah:
• Relaxin menstimuler pemisahan symphisis pubis pada marmot dan mencit sesudah pemberian estrogen. Fungsi ini memudahkan keluarnya foetus pada waktu partus.
• Relaxin menimbulkan dilatasi cervix uteri pada babi, sapi, tikus, dan mencit dan mungkin pada manusia sesudah penyuntikan pendahuluan dengan estrogen dan progesteron. Sekali lagi fungsi ini mempermudah keluarnya foetus pada saat partus.
• Relaxin menghambat aktivitas myometrium, yaitu menghambat kontraksi uterus.
• Relaxin menghambat kadar air dalam uterus, bersama estrogen relaxin menyebabkan pertumbahan pertumbuhan uterus.
• Relaxin menyebabkan peningkatan pertumbuhan kelenjar mammae bila diberikan bersama estradiol dan progesterone.





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:
1. Kelenjar Hypothalamus menghasilkan hormon: Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Thyrotropin Releasing Hormone (TRH, Corticotropin Releasing Hormone (CRH), Somatotropin Releasing Hormone (STH-RH), Somatotropin Inhibitory Hormone (STH-IH), Prolactin Releasing Hormone (PRH), Prolactin Inhibitory Hormone (PIH).
2. Kelenjar Hypophysis (Glandula Pituitaria) lobus anterior menghasilkan: Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone), Hormon LH (Luteinezing Hormone), Hormon LTH (Luteo Tropic Hormone) /Prolactin, Hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormone), Hormon ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormone), Hormon MSH (Melanotropin), Hormon Oxytocin. Hormon dari kelenjar Hypophysis (Glandula Pituitaria) lobus posterior menghasilkan: Hormon Vasopressin/ADH (Antidiuratic Hormone) dan Hormon Oxytocin.
3. Kelenjar Thyroid menghasilkan Hormon: Tyroxine dan Hormon Triiodotyroxine.
4. Kelenjar Parathyroid menghasilkan hormon PTH (Paratirod Hormone).
5. Kelenjar Pancreas menghasilkan Hormon Glucagon dan Hormon Insulin.
6. Kelenjar Adrenal dibagi menjadi dua kelenjar. Kelenjar Cortex menghasilkan hormon Corticosteroids dan Catecholamines. Kelenjar Medulla menghasilkan hormon Adrenaline (Epinephrine) dan Noradrenalisne (Norapinephrine).
7. Pada kelenjar Thymus terdapat fungsi endokrin.
8. Pada Intestinum tunue dihasilkan hormon: Secretine, Enterogastrone, dan Cholecystikinin.
9. Pada Testis memproduksi hormon jantan yang disebut androgen. Yang paling potensi dari androgen adalah Hormon Testosterone.
10. Pada Ovarium mensintesa tiga macam hormon, yaitu Estrogen, Progesterone, dan Relaxin.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Hormon. http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon. Diakses pada tanggal 18 Februari 2011, pukul 18.54 WIB.

Faisal, Muhammad. 2011. Sistem Endokrin (Hormon). http://enslikopedi.blogspot.com/2011/01/sistem-endokrin-hormon.html. Diakses pada tanggal 18 Februari 2011, pukul 19.43 WIB.

Haqiqi, Sohibul H., 2008. Biosintesis Hormon Tiroid dan Paratiroid. Makalah Seminar, Malang: Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.

Kartasudjana, R dan Suprijatna, E., 2006. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mukhtar, A., 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah. UNS Press. Surakarta.

Nalbandov, A.V., 1964. Reproductive Physiology. 2nd Ed. W.H. Freeman & Co., SanFransisco.

Partodihardjo. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.

Sturkie, PD., 1987. Avian Physology, Fourt Ed. Springerverlag. New York. Berlin, Heidenberg, Tokyo.

Toelihere R. Mozes, Drh., M. Sc., Dr., 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.

Wijaya, I., 2008. Pengaruh Hormon Terhadap Ternak Kambing Perah. http://images.ibnuaza.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SG5XlQoKCh8AABPwduU1/elektifIB.doc?nmid=104120862. Diakses pada tanggal 18 Februari 2011, pukul 18.54 WIB.

Jumat, 07 Januari 2011

Kuliah Kerja Lapangan di PT. Medion Bandung

BAB I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Seiring dengan naiknya pendapatan perkapita penduduk Indonesia, meningkat pula kebutuhan akan protein hewani. Masyarakat semakin menyadari akan pentingnya protein hewani bagi pertumbuhan jaringan tubuh. Konsumsi protein hewani tersebut berasal dari berbagai macam daging Diantaranya daging sapi, daging domba, daging ayam maupun daging babi. Daging ayam merupakan pemasok daging paling besar sebab harganya relatif murah dibandingkan dengan daging yang lainnya.
Usaha di bidang peternakan saat ini sangat terbuka lebar karena kondisi alam yang memungkinkan dan adanya permintaan pasar yang semakin meningkat. Saat ini banyak penternak yang bergerak dibidang peternakan ayam. Banyak di antara peternakan ayam yang menjalankan usaha hanya sebatas usaha sampingan (subsistem) dan dikerjakan secara tradisional belum memaksimalkan pemanfaatan teknologi budidaya ternak. Padahal melihat strategisnya bisnis peternakan ini sangat disayangkan. Selain itu, peternakan ayam yang modern dapat dilakukan untuk maksimalkan keuntungan. Peternak harus memahami hal ini sehingga mau tidak mau manajemen pemeliharaan secara modern harus dilaksanakan untuk mendukung keberhasilannya.
Manajemen pemeliharaan ayam ini dimulai sejak persiapan kandang sesuai persyaratan yang ada yang meliputi berbagai kelengakapan dari peralatan pemeliharaan ayam, pemberian pakan, dan vaksinasi secara teratur dan terencana. Selain itu juga harus diperhatikan penanganan dan pengendalian penyakit pada saat pemeliharaan dapat meningkatkan keuntungan dan efisiensi modal. Oleh karena itu PT. Medion Jaya Farm berusaha untuk membantu para peternak ayam dalam menyediakan produk siap pakai yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan manajemen pemeliharaan seperti peralatan pemeliharaan ayam, obat dan vaksinasi.
B. Tujuan dalam kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan ini adalah :
1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Pelaksanakan kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan ini, mahasiswa diharapkan akan dapat mengetahui tentang berbagai jenis usaha di bidang peternakan.
2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Pelaksanakan kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan ini, mahasiswa diharapkan akan mendapatkan pengetahuan tentang perusahaan di bidang peternakan, manajemen, kegiatan yang dilakukan perusahaan, dan sebagai gambaran tentang dunia kerja yang bisa kita dapatkan nantinya.
C. Manfaat
Kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan adalah memberikan pengetahuan tentang tata cara berusaha dibidang peternakan dan mengetahui cara mendirikan usaha.



BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Vaksin
Vaksin adalah suatu produk yang mengandung sejumlah oranisme (bibit penyakit tertentu yang menimbulkan kekebalan tubuh khusus terhadap penyakit tertentu. Vaksin dapat mengandung mikroorganisme yang telah mati (killed-virus) atau masih hidup (live –virus). Kemampuan live –virus untuk menumbuhkan daya tahan tubuh lebih tinggi dibandingkan killed-virus karena virus tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dalam tubuh unggas. Kekuatan killed-virus untuk merangsang produsi antibody unggas tergantung pada unit antigenic (sel-sel virus yang terkandung di dalam dosissi vaksin (Suprijatna dkk, 2005).
Vaksin ada dua macam, yaitub vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif adalah vaksin yang mikroorganismenya masih aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan kering beku. Vaksin aktif disimpan pada suhu 2-8oC. Vaksin aktif harus segera dipakai dalam jangka waktu dua jam setelah dilarutkan. Masa kadaluwarsa yang tertera dalam kemasan hanya berlaku jika vaksin disimpan pada suhu yang dianjurkan tersebut. Sedangkan vaksin inaktif harus disimpan pada suhu 8oC dan tidak boleh disimpan di freezer, karena vaksin akan rusak. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti tetes mata, hidung, mulut (cekok), melalui air minum dan suntikan (Retno, dkk, 2000).
Vaksin inaktif dapat bersifat tunggal (satu penyakit), tetapi dapat juga merupakan kombinasi dari beberapa penyakit yang diberikan melalui suntikan secara intramuscular atau subkutan. Beberapa keuntungan penggunaan vaksin inaktif adalah penyimpanannya yang lebih mudah dibandingkan dengan vaksin aktif. Vaksin inaktif tidak dipengaruhi oleh antibodi asal induk sehingga dapat digunakan untuk DOC. Sedangkan kekurangan vaksin inaktif adalah biaya produksi yang mahal dan dapat menimbulkan infeksi pada vaksinator jika terkena suntikan secara tidak sengaja (Rangga, 2000).
Menurut Tizard (1982), pembuatan vaksin dapat dilakukan dengan cara menginaktifkan atau melemahkan organisme (atenuasi). Cara yang sederhana dari atenuasi termasuk pemanasan organisme sampai tepat di bawah titk kematian panasnya atau memaparkan organisme pada bahan kimia penginaktif ke batas konsentrasi subletal seperti penggunaan formalin atau formaldehida. Kemampuan vaksin aktif untuk menimbulkan kekebalan tubuh lebih tinggi dibanding dengan vaksin in aktif karena virus akan berkembang biak didalam tubuh dan merangsang terbentuknya kekebalan secara cepat, sementara kekuatan vaksin in aktif merangsang terbentuknya antibodi tergantung pada tergantung pada antigenik (sel-sel virus) yang terkandung dalam dosis vaksin.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada persiapan vaksinasi yaitu kondisi ayam yang akan divaksin sehat, jika terindikasi ayam sakit maka jadwal vaksinasi hendaknya ditunda dan segera menangani gejala yang timbul, setelah thawing vaksin hendaknya tidak dimasukkan ke dalam marina cooler yang suhunya 2-8oC karena bisa menurunkan potensi vaksin. Pada saat vaksinasi beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya pada vaksinasi via air minum, ayam dipuasakan air minum selama 1-2 jam (tergantung kondisi cuaca) sebelum vaksinasi, tempat minum jangan terkena sinar matahari langsung dan jauhkan dari brooder; Jika perlu vaksin diberikan 2 tahap untuk menghindari ayam yang tidak kebagian vaksin, tidak tergesa-gesa saat melakukan vaksinasi dan pastikan semua ayam telah tervaksin dengan dosis yang sama. Untuk vaksin inaktif selama vaksinasi hendaknya vaksin tetap dikocok secara periodic. Tidak boleh melakukan desinfeksi selama 24-48 jam sebelum dan sesudah vaksinasi dengan vaksin aktif (selain via injeksi) (Medion, 2009).

B. Obat-obatan
Ada dua cara mengatasi penyakit pada ayam, yaitu dengan program pengendalian dan pembasmian. Program pengendalian meliputi: menjauhkan ternak dari kemungkinan tertular penyakit yang berbahaya, meningkatkan daya tahan tubuh ternak dengan vaksinasi, pengelolaan dan pengawasan yang baik, dan melakukan diagnosis dini secara cepat dan tepat. Program pembasmian penyakit dapat dilakukan melalui: test and slaughter, yaitu apabila ternak dicurigai positif menderita penyakit pulorum, CRD atau lainnya harus dimusnahkan, test and treatment, bila diketahui ada penyakit dilakukan pengobatan, dan stamping out, yaitu bila terjadi kasus penyakit menular dan menyerang seluruh ayam di peternakan, maka ayam, kandang, dan peralatan harus dimusnahkan (Zainuddin dan Wibawan 2007).
Vitamin adalah zat organik yang tidak dapat dibuat oleh sel-sel tubuh ayam, kecuali vitamin C. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk memelihara kesehatan, pertumbuhan dan produksi telur. Vitamin dibagi dua jenis, yaitu vitamin yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak (minyak). Vitamin yang larut dalam air ialah vitamin B1, B2, B6 dan C. Vitamin yang larut dalam lemak ialah vitamin A, D, E, dan K. Sediaan yang mengandung vitamin antara lain: Vita stress, Vita chicks dan Vita Strong (Retno, 2000).
Pemberian antibiotik atau antibakteri pada ternak ayam hanya bertujuan untuk mengobati infeksi sekunder oleh bakteri. Disamping itu, perlu juga dilakukan rehabilitasi paa jaringan yang rusak dengan pemberian multivitamin. Sanitasi atau desinfeksi perlu ditingkatkan untuk mencegah meluasnya infeksi pada kandang atau flok lainnya (Rangga, 2000).
Antibiotik memiliki kemampuan sebagai bakteriostatik yang menghambat pertumbuhan bakteri dan bakteriosidal yang membunuh bakteri. Dari segi penyerapannya ada antibiotic yang diserap oleh usus dan ada juga yang tidak dapat diserap. Cara kerja antibiotic terhadap bakteri antara lain melalui mekanisme penghambatan dinding sel bakteri, perusakan membrane sel, penghambatan sintetis protein, penghambatan sintetis DNA, dan penghambatan pembentukan asam folat (Rangga, 2000).
Ayam yang menunjukkan cirri-ciri di luar ayam normal termasuk ayam sakit. Beberapa gejala umum yang sering dijumpai diantaranya adalah bulu terkulai dan kusam, diare, nafsu makan hilang, pertumbuhan terganggu dan produksi telur turun, kualitas kerabang buruk, serta suara tidak normal. Apabila ternak mengalami gejala demikian harus segera dilakukan pengobatan dengan pemberian zat makanan dan antibiotic (Suprijatna, 2005)


C. Peralatan
Kandang harus dilengkapi dengan peralatan, seperti tepat pakan, tempat minum, alat pemanas, alat penerangan, dan alat sanitasi atau kebersihan. Peralatan harus memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini terutama pemeliharaan dalam kandang sistem litter sebab ayam dipelihara secara berkelompok sehingga tempat pakan dan minum harus cukup agar tidak saling berebut. Apabila persediaan tempat pakan dan minum kurang, ayam yang peringkat sosialnya rendah kalah bersaing dan mengalami stress. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan atau produksinya terganggu (Suprijatna, 2005).
Peralatan yang digunakan pada pemeliharaan fase starter meliputi tempat pakan, tempat minum, termometer, ember, gelas takar dan lain-lain. Pengaturan tempat pakan dan minum yang tepat dapat memberikan efisiensi penggunaan pakan maupun minum. Dalam penempatannya tempat pakan dan minum pada pemeliharaan umur 1-3 diletakkan dibawah dan disusun melingkar secara berselang-seling antara tempat pakan dan minum, untuk pemeliharaan umur 5 minggu keatas peletakan tempat pakan dilakukan secara tergantung dengan ketinggian setinggi bahu ayam Termometer sangat diperlukan dalam induk buatan (brooder) untuk menentukan suhu ruangan yang ideal. Peralatan seperti kain lap,ember, dan gelas takar digunakan untuk alat pembersih dan pemberian minum (Imam, 2009).
Pembagian pakan dan dekatnya jarak tempat pakan (feeder) dengan unggas merupakan hal penting untuk mencapai target tingkat konsumsi pakan. Sistem pemberian pakan :
a. Tempat pakan manual; berbagai macam tempat pakan manual yaitu:
 tempat pakan memanjang (long feeder), dengan standar 5 cm/ekor
 tempat pakan bundar (round feeder), dengan standar 2 cm/ekor
 tempat pakan nampan (tray feeder), umumnya digunakan minggu pertama dengan standart pada hari I yaitu 1 nampan untuk 100 ekor .
b. Tempat pakan otomatis (Chain feeder dan pan feeder)
Tempat pakan nampan digunakan pada fase brooding yang secara perlahan-lahan diganti dengan tempat pakan gantung. Untuk mencegah pakan tumpah bentuk tempat pakan mempunyai “bibir” serta jeruji agar ayam tidak mengais pada tempat pakan; tinggi tempat pakan digantung tapi piringannya masih menempel di lantai; pengisian pakan sepertiga tinggi piringan (Setyawan, 2010).
Pemasangan tempat minum di dalam kandang sebaiknya jangan terlalu rendah, karena ayam akan mengalami kesulitan untuk mengadahkan kepalnya dalam meneguk air. Hal ini akan mengakibatkan ayam tidak dapat minum dengan cukup. Kurangnya air minum mengakibatkan produksi telur tidak maksimal. Tempat minum harus ditempatkan setinggi punggung ayam (untuk mkodel tempat minum gantung). Untuk kandang baterai, tempat minum ditempatkan lebih tinggi dari ransum (Retno, 2000).




BAB III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Materi yang digunakan dalam kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan adalah di PT. Medion, Jln. Babakan Ciparay No. 282 Bandung.
B. Waktu dan Tempat
Kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 23 November 2010 di PT. Medion, Jln. Babakan Ciparay No. 282 Bandung, pukul 09.00-12.00 WIB
C. Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan kegiatan Kunjungan Kuliah Kerja Lapangan dilaksanakan dengan mengadakan observasi di PT. Medion, Jln. Babakan Ciparay No. 282 Bandung. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapang ini adalah:
1. Pengamatan (Observasi)
Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung disertai pencatatan tentang berbagai hal yang dibutuhkan praktikan.
2. Wawancara
Metode ini merupakan pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung kepada pengelola perusahaan yang dianggap mengetahui tentang informasi yang dibutuhkan praktikan.


BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Perusahaan
PT. Medion Jaya Farm Bandung merupakan salah satu perusahaan penghasil produk peternakan baik berupa vaksin, obat dan alat-alat peternakan. PT. Medion merupakan penghasil vaksin yang terbesar dan memiliki jaringan pemasaran yang luas termasuk Asia-Afrika. Perusahaan ini mulai didirikan pada tahun 1978 oleh Jonas Jahja yaitu seorang ahli farmasi, yang mengawali usaha ini sejak tahun 1969. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, kemudian memproduksi beberapa produk obat-obatan untuk ayam yang didistribusikan ke beberapa kota di Indonesia. Produk yang berkualitas tinggi dan dapat dipercaya menjadikannya sebagai perusahaan Indonesia yang mengkhususkan dalam produk-produk peternakan. Pada tahun 2000 sudah terbentuk 33 kantor perwakilan di dalam negeri meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan; dan tiga kantor perwakilan di luar negeri meliputi Asia Tenggara, Nepal dan China.
Kantor PT. Medion terletak 150 km sebelah selatan Jakarta, atau lebih tepatnya di daerah Bandung yaitu Jl. Babakan Ciparay no. 282 PO Box 1221, sedangkan untuk pabriknya berada di dareah Jl. Watujajar daerah Cimarende. Visi dari PT. Medion adalah menjadi pemain utama dalam industri peternakan di Indonesia dan Asia-Afrika sejalan dengan usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan misinya adalah untuk memenuhi kebutuhan petani-peternak dengan menyediakan produk-produk peternakan yang berkualitas dan komplit dengan pelayanan yang terbaik dan peningkatan pengetahuan agar dapat meningkatkan usaha mereka.
Produk-produk yang dihasilkan telah diakui oleh beberapa peternak baik kecil maupun skala besar, para konsumen dapat melakukan claim atau keluhan mengenai produknya yang kemudian akan ditanggapi oleh pihak PT. Medion. Sehingga menjadikannya sebagai perusahaan penghasil produk-produk peternakan yang berkualitas dan terjamin. Sesuai dengan visi dan misi yang ingin dicapai.
B. Struktur Organisasi
Adapun PT. Medion mempunyai skala usaha internasional sehingga pada struktur organisasi terdapat International Sales Manager dan National Sales Manager, namun pada saat praktikum tidak disertakan dan dijelaskan. Adapun National Sales Manager membawahi Regional Manager yang bertugas atau berwenang di setiap regional atau cabang dari PT. Medion di Indonesia.

Gambar 1. Struktur Organisasi PT. Medion
Sistem keorganisasian sangat membutuhkan sebuah koordinasi antar bidang dalam melaksanakan tugas-tugasnya agar tidak terjadi gesekan-gesekan yang kontra produktif dengan tujuan utama di PT. Medion. Pengawasan dilakukan untuk menetapkan standar pelaksanaan kegiatan yang disusun berdasarkan rencana yang telah ditetapkan dan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan yang terjadi.
Di PT. Medion sendiri memiliki pekerja yang dibagi menjadi 2 yaitu : Managerial dan Non managerial. Untuk managerial diperlukan pendidikan D3 sampai S1 dimana terdapat 300 orang yang ditempatkan di kantor pusat, sedangkan sekitar 170 orang ditempatkan di lapangan secara langsung. Untuk non managerial minimal pendidikan D1 sehingga dibutuhkan 1500 orang di tempatkan di kantor sedangkan 175 orang ditempatkan di lapangan. Kebutuhan pekerja antara pusat lebih banyak daripada lapangan.
C. Sertifikasi
Fasilitas sarana prasarana dibangun dengan menyesuaikan persyaratan-persyaratan lokasi dan bangunan industri dan dilengkapi dengan mesin bertehnologi modern. Semua proses produksi yang berjalan disesuaikan dengan GMP (Good Manufacturing Practice) dan proses QC(Quality Control) menyesuaikan dengan standar lokal dan internasional seperti Indonesian Pharmacopeias, United States Pharmacopeias, British Pharmacopeias dan European Pharmacopeias.
Perusahaan ini juga menggunakan perencanaan secara teratur dan riset untuk menghasilkan suatu produk, untuk merumuskan, untuk menyiapkan bahan baku yang berkualitas bagus, untuk menguji kualitas akhir dari produk yang dihasilkan, untuk menguji kestabilan, potensi dan keamanan produk tersebut. Disamping mengembangkan produk terbaru, bagian R&D (Research and Development) atau riset dan pengembangan juga menjaga peningkatan proses produksi dari produk pasar, sehingga perusahaan ini selalu memenuhi kebutuhan dan permintaan dari peternak.
ISO 9001:2008 yang diraih Medion menjadi bukti setiap proses produksi yang dijalankan telah memenuhi standar internasional sehingga produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang selalu terjaga dan konsisten, bahkan selalu ditingkatkan. Tidak hanya pada produk, kualitas pelayanan (service) juga selalu ditingkatkan. Dengan demikian, produk dan jasa yang dihasilkan pasti dijamin mutunya dan mengikuti perkembangan teknologi, pasar dan kebutuhan pelanggan. Hal ini senada dengan slogan perusahaan yang telah mengekspor produknya ke 15 negara Asia-Afrika, mengutamakan mutu memuaskan konsumen.

D. Produk PT. Medion
PT. Medion juga melakukan riset dan pengembangan, sehingga menghasilkan produk-produk yang berguna bagi peternak. Dengan dukungan dari sumber daya manusia dan mesin-mesin modern, beragam produk berhasil dikembangkan termasuk produk biologis berupa vaksin, obat-obatan dan peralatan perlengkapan peternakan.
1. Biological Products
Produk biologi yang dihasilkan di perusahaan ini antara lain adalah vaksin. Vaksin yang diproduksi di PT. Medion Jaya Farm berupa vaksin inaktif dan vaksin aktif yang dihasilkan dari telur yang diberi dengan bibit penyakit, yang dimasukkan melalui bagian telur yang terbuka bagian atasnya. Telur yang digunakan berupa jenis telur SPF (Steril Pathogen Free) yaitu telur yang telah ditanam dengan penyakit dan dipanen setelah 2 minggu, kemudian diambil embrio yang telah ditanam satu jenis penyakit tersebut dilanjutkan dengan proses ekstraksi bagian yang terkena penyakit saja, sedangkan untuk bagian yang tidak terkena dimusnahkan dengan cara dibakar dicampur dengan formalin. Dari hasil ekstraksi digunakan untuk membuat vaksin.
Ruangan pembuatan vaksin dibagi menjadi beberapa kelas menurut jumlah partikel yang ada dalam ruangan tersebut. Selain itu pembagiannya juga berdasarkan tingkat vaksin yang dihasilkan, vaksin yang berasal dari penyakit yang sangat berbahaya dan menular ke manusia seperti Avian Influenza sampai ke vaksin dengan tingkat bahaya sedang dan rendah. Untuk bagian penghasil vaksin merupakan bagian yang sangat membutuhkan tingkat keamanan dan bahaya tinggi, dikarenakan berurusan dengan bibit penyakit. Pada bagian penghasil vaksin terdapat beberapa tahapan sebelum memasuki area kerja untuk keselamatan kerja dari pegawai tersebut.
Proses pengecekan vaksin yang dihasilkan dilakukan oleh bagian sendiri, dimana proses pengecekan dilakukan dengan cara meletakkan dalam ruangan dan ditunggu selama 1-2 minggu apabila timbul jamur atau yang lainnya maka produk tersebut tidak lulus uji, yang kemudian dihancurkan.


Tabel 1. Vaksin yang diproduksi PT. Medion Jaya Farm
Vaksin Aktif Vaksin Inaktif
Medivac Gumboro A
Medivac Gumboro B
Medivac IB H-52
Medivac IB H-120
Medivac ND Clone 45
Medivac ND Hichner B1
Medivac ND la Sota
Medivac ND-IB
Medivac ILT
Medivac Pox
Medivac ND-AI emulsion
Medivac ND AI
Medivac AI
Medivac ND Emulsion
Medivac ND-EDS Emulsion
Medivac ND-IB Emulsion
Medivac ND-IB-IBD Emulsion
Medivac Gumboro Emulsion
Medivac ND-EDS-IB Emulsion
Medivac Coryza B
Medivac Coryza T Suspension
Medivac Coryza T
Sumber: Info Medion
a. Medivac Gumboro A
Medivac Gumboro A mengandung virus IBD aktif strain Cheville 1/68. Virus dikembangbiakkan dalam telur SPP (Specific pathogen free) berembrio sehingga bebas dari pencemaranmikroorganisme patogen. Medivac Gumboro A digunakan untuk mencegah penyakit IBD pada ayam pedaging, ayam pejantan, ayam petelur dan ayam pembibit. Medivac Gumboro A dapat diberikan pada anak ayam umur 7 hari, yang umumnya masih mempunyai kekebalan asal induk tinggi.
b. Medivac Gumboro B
Medivac Gumboro B mengandung virus IBD aktif strain D22. Virus dikembangbiakkan dalam telur SPF (Specific pathogen free) berembrio sehingga bebas dari pencemaran mikroorganisme patogen. Medivac Gumboro B digunakan untuk mencegah penyakt IBD pada ayam pedaging, ayam jantan, ayam petelur dan ayam pembibit yang berumur 10hari atau lebih.
c. Medivac ND-AI Emulsion
Medivac ND-AI Emulsion merupakan vaksin inaktif berbentuk emulsi untuk mencegah penyakit Newcastle disease (ND) dan avian influenza (AI) pada unggas. Medivac ND-AI Emulsion mengandung virus ND strain La Sota dan AI subtipe H5, yang telah diinaktifkan dan diemulsikan ke dalam adjuvant minyak mineral untuk meningkatkan dan memperpanjang daya kerja vaksin. Medivac ND-AI Emulsion digunakan untuk mencegah penyakit ND dan AI pada ayam pedaging, ayam jantan, ayam petelur dan ayam pembibit.
d. Medivac ND AI
Medivac ND-AI mengandung virus ND strain La Sota dan AI subtipe H5, yang telah diinaktifkan dan diemulsikan ke dalam adjuvant minyak mineral untuk meningkatkan dan memperpanjang daya kerja vaksin. Medivac ND-AI digunakan untuk mencegah penyakit ND dan AI pada ayam pedaging, ayam jantan, ayam petelur dan ayam pembibit
e. Medivac AI
Medivac AI mengandung virus AI subtipe H5N1, hasil isolasi lapangan, yang telah diinaktifkan dan diemulsikan ke dalam adjuvant mineral untuk meningkatkan dan memperpanjang daya kerja vaksin. Medivac AI digunakan untuk mencegah penyakit AI pada ayam pedaging, ayam jantan, ayam petelur dan ayam pembibit
f. Medivac ND-Gumboro Emulsion
Medivac ND-Gumboro Emulsion mengandung virus Newcastle disease (ND) strain La Sota dan infectious bursal disease (IBD/Gumboro) strain Winterfield 2512 yang telah diinaktifkan. Virus diemulsifikasi ke dalam adjuvant minyak mineral untuk meningkatkan dan memperpanjang daya kerja vaksin. Medivac ND-Gumboro Emulsion digunakan untuk mencegah penyakit Gumboro dan ND, yang biasanya menyerang ayam di umur 22-35 hari.
g. Medivac Coryza
Medivac Coryza mengandung bakteri Haemophilus paragallinarum yang telah diinaktifkan. Medivac Coryza digunakan untuk mencegah penyakit infectious coryza (korisa/snot) pada ayam pedaging, ayam jantan, ayam petelur dan ayam pembibit. Medivac Coryza mampu menstimulasi pembentukan antibodi protektif secara cepat dan mampu melindungi secara optimal terhadap infeksi bakteri korisa.
h. Medivac Coryza T Suspension
Medivac Coryza T Suspension mengandung bakteri Haemophilus paragallinarum strain W, Spross dan Modesto yang telah diinaktifkan. Bakteri inaktif diadsorbsikan ke dalam adjuvant aluminium hidroksida untuk meningkatkan dan memperpanjang daya kerja vaksin. Medivac Coryza T Suspension digunakan untuk mencegah serangan penyakit korisa pada ayam pedaging, jantan, petelur dan pembibit. Medivac Coryza T Suspension dapat diberikan pada ayam pedaging, jantan, petelur dan pembibit berbagai umur dengan cara suntikkan subkutan (bawah kulit) di leher bagian belakang sebelah bawah dan intramuskular (tembus daging/otot) di otot dada atau di paha.

Gambar 1. Produk Vaksin PT. Medion Jaya Farm
2. Pharmaceutical Products
a) Produk Obat
Tabel 2. Obat yang diproduksi PT. Medion Jaya Farm
Obat Fungsi
Antikoksi membasmi parasit pada ayam petelur, anak ayam, ayam pedaging
Cacing Exitor membasmi cacingan pada ayam
Doxytin mengobati Chronic Respiratory Disease (CRD) pada unggas
Doxyvet pencegahan dan pengobatan penyakit pernafasan pada unggas (CRD).
Erysuprim membasmi bakteri penyebab CRD dan Korisa (Snot)
Ferdex mencegah dan menyembuhkan anemia atau kurang darah pada anak babi
Injeksi Tysionol memberantas penyaki-penyakit penting pada babi, unggas, dan sapi.
Koksidex mengobati koksidiosis pada ayam
Vet Strep mengobati korisa dan CRD
Wormzol Bolus membasmi cacing pita, cacing hati, cacing gilik, cacing paru pada sapi dan kerbau.
Vermixon Sirop membasmi cacing gelang pada ayam
Koleridin mengobati kolera pada unggas
Medoxy L mengobati penyakit-penyakit pada unggas, sapi, kuda, kerbau, babi, domba, kambing, anjing, kucing
Medoxy LA mengobati penyakit-penyakit pada unggas, sapi, kerbau, kambing, dan domba
Neo Meditril & Doctril mengobati penyakit CRD kompleks
Neo Meditril I bakteri pada sapi, babi, unggas
Respiratrek mengobati CRD kompleks dan Colibacillosis
Sulfamix mengobati penyakit pada unggas
Sulpig mengobati penyakit-penyakit pada babi
Therapy mengobati penyakit-penyakit pada unggas
Trimezyn mengobati penyakit korisa (pilek, snot), CRD (ngorok), kolera (berak hijau), pullorum (berak kapur)
Sumber: Info Medion







Gambar 2. Produk obat PT. Medion Jaya Farm






b) Produk Vitamin
Tabel 3. Vitamin yang diproduksi PT. Medion Jaya Farm
Vitamin Fungsi
Egg Stimlulant antibiotik dan vitamin yang digunakan untuk meningkatkan produksi telur pada ayam petelur
Neobro mempercepat pertumbuhan ayam pedaging, mengurangi kematian, dan meningkatkan efisiensi penggunaan ransum
Top Mix pelengkap makanan untuk ayam petelur, ayam pedaging, bibit ayam, dan anak ayam
Turbo vitamin untuk bebek petelur
Vita Chicks kombinasi vitamin dan antibiotik yang digunakan pada ayam
Vita Strong multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada ayam
Strong n Fit memacu produktivitas ayam dan membantu pembentukan energi untuk perbaikan produksi telur, berat badan, FCR dan daya tahan tubuh.
Aminovit menambah produksi telur dan memperpanjang masa bertelur pada ayam, memperbesar telur, menguatkan dinding kerabang telur dan menambah kesuburan (fertilitas), dan memperbaiki konversi ransum
Broiler Vita mempercepat pertumbuhan dan memperbaiki konversi ransum ayam broiler.
Mineral Feed Supplement A meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas ayam dan itik
Sumber: Info Medion














Gambar 3. Produk Vitamin PT. Medion Jaya Farm


c) Produk antiseptic atau desinfektan
Tabel 4. Antiseptic yang diproduksi PT. Medion Jaya Farm
Antiseptic/Desinfektan
Antisap Vita tetra Chlor
Neo Antisep Tysinol
Formades Tyfural
Medisep Trimezyn-S
Sporades Therapy
Desinep Sulfamix
Sumber: Info Medion







Gambar 4. Produk Antiseptic dan Desinfektan PT. Medion Jaya Farm
3. Poultry Equipment
Di PT. Medion Jaya Farm produk poultry equipment yang dihasilkan seperti tempat minum ayam baik ukuran kecil sampai besar dan otomatis, tempat ransum ayam, nampan tempat pakan (feeder tray), alat pemanas untuk anak ayam, tempat telur (egg tray), kemasan obat, vaksin, botol dan juga produk-produk pendukung yang lainnya.
Bahan baku yang digunakan berupa polyprylene, dimana polyprylene yang berbentuk biji/butir halus dimasukkan dalam mesin kemudian dengan waktu yang telah ditentukan maka keluar produk yang diinginkan. Untuk produk yang gagal atau tidak memenuhi standar kualitas tidak dibuang melainkan di daur ulang menjadi produk tertentu. Untuk mengetahui kualitas dari suatu produk yang dihasilkan, maka dilakukan QC (quality control) agar produk yang akan dipasarkan tidak merugikan konsumen. Untuk bagian PEP (Poultry Equipment and Printing Device) atau penghasil produk dan peralatan peternakan ini pekerja keseluruhan dari jenis non managerial yang jumlahnya lebih banyak daripada managerial.






BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Produk biologi (Biological Products) yang dihasilkan di PT. Medion Jaya Farm ini antara lain adalah vaksin. Vaksin yang diproduksi berupa vaksin aktif dan vaksin inaktif. Produk farmasi (Pharmaceutical Products) yang dihasilkan di PT. Medion Jaya Farm ini antara lain berupa obat, vitamin, antibiotic, dan desinfektan.
Peralatan peternakan ayam (Poultry Equipment) yang dihasilkan di PT. Medion Jaya Farm ini antara lain berupa tempat minum ayam baik ukuran kecil sampai besar dan otomatis, tempat ransum ayam, nampan tempat pakan (feeder tray), alat pemanas untuk anak ayam, tempat telur (egg tray), kemasan obat, vaksin, botol dan juga produk-produk pendukung yang lainnya.
B. Saran
Sebaiknya PT. Medion Jaya Farm sering melakukan sosialisasi terhadap peternak tradisional, sehingga kesadaran akan usaha peternakan yang modern dapat ditingkatkan. Koleksi buku-buku terbitan Medion sebaiknya juga disosialisasikan kepada para peternak-peternak maupun masyarakat, sehingga peternak tahu perkembangan dunia peternakan.








DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Imam, Fatoni. 2009. Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur Di Peternakan Dony Farm Kabupaten Magelang. Tugas Akhir Universitas Sebelas Maret: Surakarta.
Info Medion. 2010. Informasi Produk. http://info.medion.co.id/index.php/lain-lain/informasi-produk.Diakses pada hari Selasa, 28 Desember 2010 jam 18.30 WIB.
Irwan, Setiawan. 2010. Pemeliharaan Ayam. http://www.central-bangkok-farm.com/2010/05/temapat-pakan-untuk-pemeliharaan-ayam.html (Diakes pada hari rabu, 29 Desember 2010 pukul 13.25 WIB).
Medion Online. 2009. Tata Laksana Vaksinasi. http://info.medion.co.id (Diakses pada hari Kamis 6 Januari 2010 jam 18.59 WIB).
Retno, D, Jahja, J, Suryani T. Ayam Sehat Ayam Produktif 2. Medion. Bandung.
Rangga, Charles. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 1. Kanisius. Yogyakarta.
Setyawan, Iwan. 2010. http://www.central-bangkok-farm.com/2010/05/temapat-pakan-untuk-pemeliharaan-ayam.html. Diakes pada hari kamis, 30 Desember 2010 pukul 08.15 WIB.
Suprijatna, Edjeng., Umiyati, A., Ruhyat ,K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tizard I. 1982. Pengantar Imunologi Veteriner. M. Partodiredjo, penerjemah. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga University Press.
Zainuddin, D. dan I.W.T. Wibawan. 2007. Biosekuriti dan Manajemen Penanganan Penyakit Ayam Lokal. Sumber Daya Genetic Ayam Lokal Indonesia. Dalam Keanekaragaman Sumber daya Hayati Ayam Lokal Indonesi. Pusat Penelitian Biologi, Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia, Cibinong.