Rabu, 08 Agustus 2012

TATANIAGA TERNAK DAN HASIL TERNAK


I.  PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masyarakat luas membutuhkan makanan yang bermutu tinggi dalam jumlah yang banyak. Dalam hal inilah peternakan dapat memberi sumbangan yang terbesar. Kebutuhan makan manusia yang semakin meningkat memerlukan peternakan yang khusus menghasilkan produk-produk tertentu dengan pemberian pakan dan manajemen yang baik. Produk-produk dari peternakan meliputi daging, susu dan telur. Seiring dengan bertambahnya waktu dan tingkat pendidikan maka kebutuhan akan protein hewani (susu, telur dan daging) meningkat.
Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap pangan sumber hewani menuntut perusahaan-perusahaan peternakan untuk meningkatan produksinya. Peningkatan tersebut harus disertai dengan penanganan yang memadai dan terpadu dalam tatalaksana manajemen yang baik mengenai pakan, pengendalian penyakit, maupun penanganan hasil produksi. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem pemasaran (tataniaga) yang efektif dan efisien dengan sistem manajemen yang baik.
Pasar juga merupakan tempat terjadinya mekanisme pasar yang mencakup informasi tentang jumlah kualitas, dan harga dari barang yang diperdagangkan. Mekanisme tersebut menuntut penyaluran atau pemasaran produk dari pedagang ke konsumen, sehingga sangat diperlukan dan segmen pasar yang dituju. Pemasaran (tataniaga) sebagai salah satu komponen pasca produksi perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam usaha peternakan.
Melihat begitu pentingnya pemasaran (tataniaga) produk peternakan maka dalam praktikum Tataniga Ternak dan Hasil Ternak ini akan dipelajari tentang alur tataniaga produk peternakan yang berupa daging di pasar tradisional.   



B.  Tujuan
Tujuan dalam praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil Ternak :
  1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah melaksanakan kegiatan praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil Ternak ini, mahasiswa diharapkan akan dapat menjelaskan tentang sistem dan manajemen pemasaran (tataniaga) ternak dan hasil ternak.
  1. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah melaksanakan kegiatan praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil Ternak ini, mahasiswa diharapkan akan dapat menjelaskan dan menganalisa sistem dan manajemen pemasaran perusahaan, serta tentang saluran tataniaga produk peternakan, pendekatan fungsi tataniaga, lembaga-lembaga tataniaga, perilaku pasar, dan sebagainya serta mampu menghitung margin tataniaga dari suatu komoditi peternakan.
C.  Manfaat
Praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil ternak adalah memberikan pengetahuan tentang tataniaga dan permasalahan pemasaran yang dihadapi peternak dari produsen ke konsumen sehingga praktikan mengetahui keadaan di lapangan yang sebenarnya.
 












II.  TINJAUAN PUSTAKA


A.    Pasar
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern ( Anonim, 2009).
Pasar dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang responsive terhadap  hal yang berbeda sepeti harga, kualitas barang, pengiklanan pengecer dan sebagainya. Bila penjual mengetahui sekelompok pembeli lebih responsive terhadap perubahan dalam pengeluaran untuk pengiklanan dari pada perubahan faktor-faktor pasar lainnya (Kusumadmo, 1986).
Definisi pasar sebagai produsen adalah sebagai tempat untuk menjual barang-barang dan jasa-jasa sehingga konsumen tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sedangkan bagi lembaga pemasaran pasar merupakan tempat untuk melakukan aktivitas usaha dengan melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran tertentu sehingga lembaga pemasaran dapat keuntungan (Sudiyono, 2002).



B.     Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi dan manajerial. Akibat dari berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang memiliki nilai   komoditas (Rangkuti, 2004).
Sekarang perusahaan siap untuk memilih pasar sasarannya. Untuk dapat melakukannya perusahaan perlu mengetahui bagaimana mengukur daya tarik pasar tertentu. Yang harus dilakukan perusahaan adalah memperkirakan ukuran pasar secara menyeluruh, pertumbuhan dan provitabilitasnya. Para pemasar harus memahami teknik-teknik dasar untuk potensi pasar dan prakiraan permintaan di masa yang akan datang. Setiap teknik memiliki kelebihan dan keterbatasan tersendiri yang harus benar-benar dipahami agar terhindar dari kekeliruan dalam penggunaannya (Kotler, 1992).
Pemasaran dapat didefinisikan sebagai kegiatan bisnis yang mengatur arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen sehingga sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk  yang dikehendaki pada harga yang dibayar konsumen (Cahyono, 1994).

C.    Saluran Tataniaga
Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta merupakan hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen semaksimal mungkin (Sudiyono, 2002).
Pemasaran hasil peternakan merupakan suatu proses pemindahan dengan membawa hasil ternak dari produsen ke konsumen. Dalam mengatur proses pemasaran ini, maka bantuan teknik tetap diprioritaskan dengan dibentuknya lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah dibidang ini (Cahyono, 1994).
D.    Biaya Tataniaga
Biaya pemasaran seringkali diukur dengan marjin pemasaran, yang sebenarnya hanya menunjukkan bagian dari pembayaran konsumen yang diperlukan untuk menutup biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran (Downey dan Erickson, 1989).
Produsen cenderung menggunakan metode yang lebih rumit dalam menggunakan harga dibandingkan yang digunakan oleh para distributor. Satu diantaranya adalah maksimalisasi keuntungan (profit maximixation), yang terjadi ketika pendapatan marjinal (magjinal revenue) sama dengan biaya marjinal (marginal cost). Biaya marjinal merupakan perubahan dalam total biaya yang berhubungan dengan perubahan satu unit dalam output           (Lamb, dkk, 2001).
Marjin pemasaran dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sudut pandang harga dan biaya pemasaran, pada analisis pemasaran yang sering menggunakan konsep marjin pemasaran yang dipandang dari sisi harga ini (Sudiyono, 2002).
Laporan laba-rugi merupakan hasil dari kegiatan operasional perusahaan pada periode waktu tertentu. Didalamnya terdapat informasi mengenai inflow aset (revenue), outflow aset (expenses) dan kenaikan atau penurunan yang dihasilkan oleh semua kegiatan tersebut (Rangkuti, 2004).

E.    Perencanaan Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi dan manajerial. Akibat dari berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang memiliki nilai   komoditas (Rangkuti, 2004).
Pemasaran dapat didefinisikan sebagai kegiatan bisnis yang mengatur arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen sehingga sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk  yang dikehendaki pada harga yang dibayar konsumen (Cahyono, 1994).
Peranan informasi pasar perlu diperhatikan karena tidak ada keputusan pemasaran yang baik tanpa didasarkan oleh fakta atau data. Oleh karena itu, kebutuhan akan data atau fakta mungkin meningkat dalam rangka Intensifikasi dan Ekstensifikasi pasar. Informasi pasar mengenai produk apa dan yang bagaimana yang didiinginkan oleh kelompok konsumen (Assauri, 1992).
F.   Evaluasi Pemasaran
Evaluasi pemasaran dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kekurangan pada proses pemasaran serta kelebihan-kelebihan yang ada saat proses pemasaran. Hal ini dapat digunakan untuk menetapkan strategi pemasaran yang didasarkan pada peluang-peluang atau opportunity. Namun dapat meminimalkan kelemahan (wealinesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 2004).
Produsen cenderung menggunakan metode yang lebih rumit dalam menggunakan harga dibandingkan dengan yang digunakan oleh para distributor. Satu diantaranya adalah maksimalisasi keuntungan (profit maximixation), yang terjadi ketika pendapatan marjinal (marginal revenue) sama dengan biaya marjinal (marginal cost). Biaya marjinal merupakan perubahan dalam total biaya yang berhubungan dengan perubahan satu unit dalam output (Lamb, dkk, 2001).
Marjin pemasaran dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sudut pandang harga dan biaya pemasaran, pada analisis pemasaran yang sering menggunakan konsep marjin pemasaran yang dipandang dari sisi harga ini (Sudiyono, 2002).
Laporan laba-rugi merupakan hasil dari kegiatan operasional perusahaan pada periode waktu tertentu. Didalamnya terdapat informasi mengenai inflow aset (revenue), outflow aset (expenses) dan kenaikan atau penurunan yang dihasilkan oleh semua kegiatan tersebut (Rangkuti, 2004).




III. MATERI DAN METODE


A.    Materi Praktikum
Materi yang digunakan dalam praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil Ternak adalah Pasar Turisari yang berlokasi di Jl.RM Said, kampung Turisari, Banjarsari Surakarta dan quisoner sebagai pegangan dalam mendapatkan data. Selain itu juga bahan dan peralatan untuk berjualan sate kelinci diantaranya kelinci, tusuk sate, pisau, bumbu, arang, kipas, korek api, piring, sendok, alat pemanggang dan lain-lain.
B.    Waktu dan Tempat
Praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil Ternak dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 22 dan 28 Desember 2009 pukul 05.30-09.00 di Stadion Manahan serta hari Sabtu, tanggal 4 Desember 2009 di Pasar Turisari yang berlokasi di Jl.RM Said, kampung Turisari, Banjarsari Surakarta
C.    Metode Pelaksanaan
Praktikum Tataniaga Ternak dan Hasil Ternak dilaksanakan dengan mengadakan praktik berjualan sate kelinci di Stadion Manahan dan dengan observasi di Pasar Turisari dan wawancara dengan Pengelola pasar Turisari.











BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil / Analisis Data
1.      PRAKTIKUM I
1.      Nama Pasar     : Pasar Turisari
2.      Lokasi Pasar    : Jl. RM. Said, Turisari, Surakarta
3.      Luas Pasar                   : 2750 m2
4.      Hari Pasaran    : -
5.      Kapasitas Pasar
a. daging ayam     :   200kg/hari
b. daging sapi       :  10 kg/hari
6.      Fasilitas Pasar
a. Loket                : ada 1 unit
b. Timbangan        : ada, banyak
c. Sumur               : ada 1 unit
d. Kamar Mandi   : ada 2 unit
e. Kios/ los            :  ada 36 unit, ada 50 unit
f. Tempat parkir    : ada
7.      Pedagang yang terlibat dipasar
a. Pedagang besar             : 5 orang
b. Pedagang Pengumpul   : 5 orang
c. Pedagang perantara      : 15 orang
d. Pengecer                       : 61 orang
8.      Lembaga/ Dinas yang terlibat dipasar            
Dinas Peternakan, Dinas Kebersihan, dan Dinas Kesehatan
9.      Keluar masuknya daging di daerah setempat            
Dari Boyolali dan daerah sekitar Surakarta
10.  Jumlah dan harga ternak pada saat pengamatan daging sapi per kilogram harganya mencapai Rp. 60.000, sedangkan ayam harganya Rp. 19.000,00

11.  Peraturan-peraturan perdagangan daging
Tidak ada peraturan khusus yang mengikat
12.  Jumlah daging yang diperdagangkan di pasar Turisari  (yang datang dan yang laku terjual : tidak ada pendataan khusus dari pihak pengelola pasar
  1. Perencanaan Pemasaran
1.      Proses perencanaan produksi
a.       Sudah direncanakan dan dicanangkan oleh pemerintah
2.      Perencanaan tataniaga / pemasaran hasil produksi dengan pendekatan SWOT analysis
Kekuatan    :
Adanya produksi yang bagus dapat menawarkan harga yang   tinggi. permintaan daging yang tinggi, sebagai salah satu produk yang diandalkan.
Kelemahan :
§  Sempit dan kecilnya pasar
Peluang      :
§  Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat, pedagang dapat memasarkan dagangannya dengan kapasitas yang besar
Hambatan  :
§  Kecilnya pasar sehingga mempersempit ruang dan jumlah pedagang
3.      Perencanaan pengembangan / ekspansi pemasaran : ada rencana untuk di bangun dan dikembangkan menjadi pasar modern
4.      Kesesuaian antara rencana pemasaran dengan realisasinya
Tidak terealisasi karena menyangkut kebijakan walikota Surakarta.
  1. Fungsi Pertukaran
1.      Daging sapi dibeli dari peternak dengan harga ±  Rp. 45.000 dan daging ayam dibeli dari peternak dengan harga Rp. 12.000 tiap ekor ayam hidup pada tanggal 4 Desember 2009.
2.      Ketika akan membeli daging cara mencari informasi yaitu dengan bertanya dengan pedagang lain dan kepada peternak.
3.      Apabila menjual daging dilakukan dengan menawarkan kepada konsumen yang melewati kios
4.      Cara menerapkan harga ketika menjual daging yaitu tergantung dari harga beli awal lalu ditambah keuntungan yang diambil maka terbentuklah harga
5.      Yang menetapkan harga jual adalah peternak yang memotong ternaknya.
6.      Cara pembayarannya kontan
7.      Menjual ternak kepada :
a.       Konsumen dengan harga Rp. 60.000 untuk daging sapi, dan        Rp. 19.000 untuk daging ayam tiap kilogramnya.
8.      Cara menjual daging :
a.       didatangi calon pembeli
  1. Fungsi Fasilitas
1.      Fasilitas yang diperoleh dalam pembelian
- daging sapi kualitasnya baik bukan daging gelonggongan
2.      Tidak mengenal adanya asuransi
3.      mengetahui soal harga ternak dari peternak/tetangga
  1. Fungsi Fisik
Tidak melakukan penyimpanan, pengolahan sebelum dijual
Pengemasan : dimasukkan ke dalam kantong plastik
Alat angkut yang digunakan : motor
Biaya angkut per hari Rp. 5.000
Yang menetapkan harga jual daging : pedagang
  1. Saluran Tataniaga
1. Lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran tataniaga
a.       Peternak/jagal
b.      Pedagang pengumpul
c.       Konsumen
d.      Dinas Pengelolaan Kekayaan Daerah
e.       Pedagang perantara
2. Gambar Rantai tataniaga ternak


 













Gambar 1. Rantai Tataniaga Ternak

  1. Biaya Tataniaga
a.       Perhitungan harga pokok dan harga jual
Harga pokok dan harga jual daging di pasar Turisari berdasarkan dari harga beli daging dari peternak atau jagal..
b.      Biaya tataniaga daging sapi
Biaya retribusi                  : Rp     4.000,-
Biaya tenaga kerja            : Rp. 15.000,-
Biaya transport                 : Rp     5.000,-
Biaya parkir                      : Rp     1.000,-
Biaya total                        : Rp  25.000,-
c.       Margin tataniaga (M)
Harga ditingkat peternak (Hp)
Harga ditingkat konsumen (HE)
HP            = Rp 45.000 x 10 = Rp. 450.000
HE= Rp 60.000 x 10 = Rp. 600.000
M1 = Rp 150.000,-
Margin Total         = M1
                                    = Rp 150.000,- / hari

d.      Perhitungan keuntungan / kerugian (p)
Keuntungan          p = M – B
                                = Rp 150.000 – Rp 25.000
                                = Rp 125.000,- / hari
FS (Farmer Share) yaitu bagian yang diterima peternak dari harga di tingkat konsumen :
FS        =
                                    =

  1. Evaluasi Pemasaran
a.       Kekurangan
-          Adanya persaingan harga dan produk antar pedagang
-          Dalam menentukan harga tidak ada patokan yang tetap karena hanya berdasarkan besar kecilnya produk dan kualitasnya
b.       Kelebihan
-          Pasar banyak dikunjungi pedagang se-eks Karesidenan Surakarta
-          Adanya pelanggan tetap sehingga pemasarannya mudah
c.       Kesimpulan umum tentang tataniaga/pemasaran produk tersebut
Kegiatan tataniaga di Pasar Turisari sudah cukup baik, tetapi sebaiknya juga memperhatikan kualitas daging yang dijual.
2.      PRAKTIKUM II
a.      Perlakuan Sebelum Pemasaran
a.       Proses pemilihan / pembelian produk / hasil ternak
-        Pemilihan produk (kelinci) dipilih kelinci yang sehat, jantan, gemuk dan mempunyai banyak karkas.
b.      spesifikasi produk / hasil ternak
a.       Jenis                      : kelinci New Zealand white jantan
b.      Asal                       : matesih
c.       Harga                    : Rp. 25.000,00 per ekor
d.      Keunggulan           : karkas lebih banyak dan lebih murah
e.       Kelemahan            : jauh sehingga menambah biaya transportasi
f.       Spesifikasi lain      : -
g.      Spesifikasi produk            : -
c.       Proses pengolahan             : kelinci hidup kemudian disembelih, dikarkasing, dijadikan beberapa tusuk kemudian diolah menjadi sate kelinci
d.      Pengemasan / pengepakan
Tidak dilakukan pengemasan secara khusus hanya saja jika ada pembeli maka disajikan dengan kertas minyak.
e.       Penggudangan / penyimpanan
Tidak dilakukan penyimpanan
f.       Pengangkutan
Tidak dilakukan pengangkutan
b.      Promosi Pemasaran/Penjualan
a.       Teknik menjual produk
Dilakukan oleh produsen sate kelinci langsung ke konsumen
b.      Mekanisme penggunaan media pemasaran
-          Penggunakan media iklan                               : tidak dilakukan
-          Penggunakan media reklame                          : tidak dilakukan
-          Penggunakan media internet                           : tidak dilakukan
-          Penggunakan media cetak                              : tidak dilakukan
c.       Biaya Tataniaga
1.      Perhitungan harga pokok dan harga jual
Harga pokok (1 porsi)      = Rp 9.900,00
Harga jual per hari            = Rp. 12.000,00
2.      Biaya tata niaga
Tidak ada
3.      Margin tata niaga (M)
M  = HE – HP
= Rp 12.000,00 – Rp 9.900,00
= Rp 2.100,00
4.      Perhitungan keuntungan/kerugian
Harga jual                                     = Rp. 12.000 x 13
                                                     = Rp. 156.000
Biaya kelinci                                 =  Rp. 75.000
Biaya bumbu                                = Rp.  50.000
Biaya lain                                     = Rp.    4.000
Biaya total                                    = Rp.129.000
Total keuntungan                                     = Rp.  27.000
d.      Segmentasi Pasar
1.      Segmentasi berdasarkan geografis (wilayah)
Tidak ada pembagian segmentasi pasar
2.      Segmentasi berdasarkan volume (pembeli potensial/tidak, pembeli ringan/berat)
Tidak ada pembagian segmentasi pasar
3.      Segmentasi berdasarkan demografis (umur, kelamin, besar, keluarga, tingkat pendapatan/daya beli, pendidikan, jenis pekerjaan, aspek agama, paham kebangsaan, status sosial, ragam lembaga
Tidak ada pembagian segmentasi pasar
4.      Segmentasi berdasarkan benefit (sosial/ profit oriented)
Tidak ada pembagian segmentasi pasar
5.      Segmentasi berdasarkan psikografis (gaya hidup masyarakat, kedinamisan masyarakat)
Tidak ada pembagian segmentasi pasar
6.      Segmentasi berdasarkan faktor pemasaran (harga, kualitas produk, kesetiaan pelanggan, penawaran, permintaan.
Tidak ada pembagian segmentasi pasar
7.      Segmentasi berdasarkan produk-ruang (produk volumineus, ringkas /tidaknya suatu produk)
Tidak ada pembagian segmentasi pasar


e.       Evaluasi Pemasaran
1.      Kekurangan
Kurangnya minat konsumen terhadap produk sate kelinci
2.      Kelebihan
Produk sate kelinci jarang di daerah tersebut sehinggga merupakan produk yang langka.
3.      Kesimpulan umum tentang tataniaga/pemasaran
Prospek pemasaran masih terbuka lebar dan daerah pemasaran masih banyak, apabila pemasaran ditingkatkan lagi akan lebih menghasilkan keuntungan yang lebih banyak.
4.      Saran dan arahan ke depan
Pemasaran , penawaran produk lebih ditingkatkan.
B.     Pembahasan
1.      PRAKTIKUM I
Pasar tradisional adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar.
Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Sedangkan yang dimati dalam praktikum ini yaitu pasar Turisari yang berlokasi di Jalan RM Said Surakarta, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan pasar Nangka. Pasar tradisional ini mempunyai luas sekitar 2.750 m2. Pasar ini setiap hari beroperasi dan tidak ada loket sehingga setiap pengunjung bebas keluar masuk pasar, kapasitas pasar daging yang diperjual belikan adalah 10 kg untuk sapi dan 200 kg untuk ayam.
Fasilitas yang ada dalam pasar Turisari yaitu sumur dan kamar mandi, sumur sebagai sumber air untuk keperluan di pasar. Kamar mandi sebanyak dua unit. Pasar ini terdapat 36 kios dan 50 los, dan hampir setiap pedagang mempunyai timbangan sendiri. Pihak yang terlibat di Pasar Turisari antar lain pedagang yang berjumlah 50-80 orang dan terdiri dari pedagang besar . pedagang besar 5 orang, pedagang pengumpul 5 orang,  pedagang perantara 15 orang, dan pengecer 61 orang. Sedangkan harga daging dipasar  ini pada saat pengamatan sekitar Rp 60.000,00 per kilogram untuk daging sapi dan Rp. 19.000,00 per kilogram untuk daging ayam.
a.            Perencanaan Pemasaran
Perencanaan pemasaran perusahaan berbagai hal yaitu : perencanaan strategi jangka panjang pemasaran perusahaan (marketing corporate planing), perencanaan operasional pemasaran, penyusunan anggaran pemasaran dan proses penyusunan rencana pemasaran perusahaan (Assauri,1992). Proses perencanaan produksi di Pasar tradisional ini diambil dari segi sumber daya manusia (SDM), modal, dan infrastruktur yang menunjang. Dimana semua proses produksi sudah dicanangkan dan diatur oleh pemerintah, pihak pengelola pasar hanya menjalankan saja.  Dilihat dari infrastrukturnya, sarana dan prasarana yang terdapat di Pasar Turisari sudah cukup memadai seperti dekat dengan jalan, terdapat tempat parkir, kios-kios, serta diawasi oleh pengelola pasar.
Untuk mengetahui seberapa besar kekuatan, kelemahan, peluang serta hambatan dalam perencaan tata niaga di Pasar Turisari ini dapat dilihat dari pendekatan analisis SWOT. Kekuatan yang terdapat di pasar ini adalah adanya produksi yang bagus dapat menawarkan harga yang   tinggi. permintaan daging yang tinggi, sebagai salah satu produk yang diandalkan. Kelemahan dari pasar ini yaitu: Sempit dan kecilnya pasar. Peluang yang dapat diperoleh dari Pasar, Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat, pedagang dapat memasarkan dagangannya dengan kapasitas yang besar. Pasar hewan ini juga memiliki hambatan dalam proses pemasaran, Kecilnya pasar sehingga mempersempit ruang dan jumlah pedagang, serta produk peternakan yang mudah sekali rusak.
Perencanaan pengembangan / ekspansi pemasaran di pasar hewan ini ada, yaitu rencana untuk dibangun dan ditata kembali menjadi bertingkat sehingga kapasitas pedagang menjdi lebih besar. Menurut Assauri (1992), pengembangan pasar sangat diperlukan untuk mendapatkan pasar atau kelompok konsumen yang baru melalui perbaikan produk yang ada. Akan tetapi rencana tersebut tidak terealisasi karena menyangkut kebijakan walikota dalam hal perijinan dan pengembangan pasar tradisional lain.
b.            Fungsi Pertukaran
Proses pertukaran di Pasar Turisari diawali dari pembeli yang bertanya kepada penjual mengenai harga, sehingga tercipta kesepakatan dan pembeli membeli daging, selain itu penjual juga menawarkan barang dagangannya kepada orang yang melewati kiosnya.
Cara pembayaran yang dilakukan yaitu kontan. Dalam pengambilan laba, pedagang biasanya tidak tetap dalam menentukan besar / kecilnya laba. Laba diperoleh dari mengurangkan harga jual dengan harga beli, yang dikarenakan tidak adanya kepastian dalam mengambil keuntungan.
c.             Fungsi Fasilitas
      Di Pasar Turisari, pembeli tidak mendapatkan fasilitas-fasilitas istimewa dalam melakukan pembelian. Dalam kegiatan pemasaran produk peternakan kita akan mendapat tiga subjek yang menentukan dalam pembentukan harga suatu produk yaitu produsen dengan dasar biaya-biaya produksi, konsumen dengan daya beli dan pemerintah dengan peraturan atau ketentuan harga sebagai pembeli. Pedagang atau pembeli mengetahui harga dari dan ada patokan harga dari pemerintah. Patokan harga yang diberikan oleh pemerintah itu tidak lain untuk mewujudkan pendekatan konsumen dan produsen (Kartasapoetra, 2001) dalam pembentukan harga yang riil.
d.            Fungsi Fisik
Para pedagang di Pasar Turisari tidak melakukan proses penyimpanan sebelum mereka menjual daging sapi maupun ayam. Akan tetapi melakukan penyimpanan jika barang dagangan mereka masih tersisa dan belum laku pada hari itu, namun hal ini jarang terjadi karena pedagang hanya menjual dalam jumlah sedikit saja. Selain itu juga tidak dilakukan pengolahan dan pengemasan sehingga pedagang hanya menjual daging segar saja dimana jika ada yang membeli daging nantinya akan dikemas dalam kantong plastik saja untuk mempermudah pembeli membawanya.

e.             Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga merupakan aliran barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Barang-barang dari produsen langsung ke konsumen, atau melalui perantara pemasaran. Perantara pemasaran adalah perusahaan-perusahaan yang membantu perusahaan itu dalam promosi penjualan dari distribusi barang-barangnya ke konsumen. Lembaga tataniaga atau lembaga yang secara langsung terlibat dalam proses pengaliran barang atau jasa dari produsen ke konsumen dalam saluran tataniaga yang terjadi di Pasar Turisari adalah peternak, pedagang pengumpul, konsumen, dinas pengelolaan daerah, dan pedagang perantara. Menurut Kottler (1990) bahwa para perantara pemasaran meliputi para perantara, perusahaan distribusi fisik, lembaga-lembaga jasa pemasaran dan perantara bidang keuangan.
Para peternak sebagai salah satu lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga adalah selaku produsen, menurut Swastha (1979) produsen adalah lembaga mula-mula yang melakukan kombinasi barang, jasa dan harga untuk disalurkan. Pedagang pengumpul, pedagang perantara merupakan perantara, yaitu perusahaan dagang yang membantu perusahaan untuk menemukan pembeli. Pada dasarnya perantara dapat melaksanakan tugas dan fungsi pemasaran dengan efisiensi yang tinggi, sesuai dengan pendapat Radiosunu (1986) bahwa perantara penawaran dapat menghasilkan lebih banyak karena pengalaman, spesifikasi, relasi, dan luas usaha mereka, dari pada yang dapat dihasilkan produsen melalui usaha penyaluran sendiri.

f.             Biaya Tataniaga
Biaya tataniaga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan atau dibayarkan selama proses penyampaian barang dari konsumen ke produsen terjadi. Besarnya biaya tataniaga akan berpengaruh terhadap harga yang harus dibayarkan oleh konsumen (harga eceran) dan harga yang diterima produsen. Biaya dalam tataniaga meliputi harga pokok, biaya tataniaga, dan margin tataniaga. Harga pokok yaitu harga di tingkat produsen untuk daging sapi yaitu Rp 45.000,-. Biaya tataniaga  meliputi biaya administrasi Rp 4.000,  transportasi Rp. 5.000, biaya parkir Rp. 1.000, sehingga  total dari biaya tataniaga adalah Rp 25.000,-.
Margin pemasaran adalah selisih yang dibayar konsumen akhir dan harga yang diterima petani produsen, dengan menganggap bahwa selama proses pemasaran terdapat beberapa lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran ini, maka dapat dianalisis distribusi margin pemasaran diantara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat ini (Sudiyono, 2002). Margin total dari petani produsen sampai ke konsumen akhir adalah Rp 150.000,- per hari.
Profit margin atau keuntungan yang diperoleh adalah sebesar Rp 125.000,- per hari, sedangkan farmer share yang diperoleh dari presentase harga pokok dan harga jual adalah 75 %.

g.            Evaluasi Pemasaran
Peluang dalam pemasaran untuk kemajuan di pasar ini dapat dilihat dalam kelebihan yang ada dalam pasar yaitu pasar banyak dikunjungi pedagang se-eks Karesidenan Surakarta serta adanya pelanggan tetap sehingga pemasarannya mudah. Evaluasi pemasaran perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kekurangan pada proses pemasaran, kelebihan-kelebihan yang ada saat proses pemasaran. hal ini dapat digunakan untuk menetapkan strategi pemasaran.
Selain itu harus dapat meminimalkan kekurangan yang ada. kekurangan tersebut yaitu adanya persaingan harga dan produk antar pedagang. dalam menentukan harga serta tidak ada patokan yang tetap karena hanya berdasarkan besar kecilnya produk dan kualitasnya

2.      PRAKTIKUM II
a.      Perlakuan Sebelum Penjualan
Untuk membuat sate kelinci maka harus  dipilih kelinci yang sehat, jantan, gemuk dan mempunyai banyak karkas sehingga dapat dijadikan banyak tusuk sate. Maka dari itu dipilih kelinci New Zealand Jantan yang mempunyai lebih banyak karkas.
Setelah proses pemilihan kelinci, maka kelinci di sembelih dan diambil karkasnya dan dijadikan beberapa tusuk, kemudian diberi bumbu. Setelah ada pembeli yang memesan maka baru diolah menjadi sate yaitu dengan cara dibakar. Serta tidak dilakukan pengemasan secara khusus hanya saja jika ada pembeli maka disajikan dengan kertas minyak.
b.      Promosi Pemasaran/Penjualan
a.             Teknis menjual produk
Dalam menjual produk sate kelici ini, konsumen langsung dating ke tempat penjualan dan memesan sate kelinci. Proses pemasaran menggunakan sistem pemasaran dengan melakukan kontak dengan konsumen.
b.            Mekanisme Penggunaan Media Pemasaran
Dalam penjualan produk sate tidak menggunakan media apapun untuk mempromosikan hasil produksinya. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dan modal..
c.       Biaya Tataniaga
a.       Perhitungan Harga Pokok dan Harga Jual
Harga pokok sate kelinci tiap porsi sebesar Rp 9.900,00 dan kemudian dijual dengan harga Rp.12.000,00. Harga jual ini terbilang cukup murah karena daging yang digunakan yaitu daging kelinci murni.
b.      Biaya tata niaga
Biaya tata niaga merupakan biaya tambahan yang terjadi selama proses penjualan barang/produk dari produsen sampai konsumen. Pada saat praktikum, ketemukan adanya biaya tata niaga, yaitu biaya pengolahan sebesar Rp. 4.000,00..
c.       Margin tata niaga
Margin tata niaga merupakan selisih antara harga yang diterima oleh produsen dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen (Atmakusuma, 1998). Dalam praktikum, ditemukan besarnya margin tata niaga yang diperoleh yaitu sebesar                           Rp 2.100,00. Selain itu, besar biaya tataniaga yaitu Rp 0,00 karena konsumen membeli langsung produknya dari tangan produsen. Faktor-faktor yang mempengaruhi margin tata niaga yaitu antara lain waktu, kerusakan, penyusutan, sifat komoditi/barang, dan tingkat pengolahan dari barang tersebut.
d.      Perhitungan keuntungan/kerugian
Pada saat praktikum usaha yang dijalankan dapat dikatakan menguntungkan jika semuanya laku terjual dan keuntungan yang dapat dicapai yaitu Rp. 27.000,00 dengan menjual 13 prsi.
d.      Segmentasi pasar
a.       Segmentasi berdasarkan geografis (wilayah)
Pada usaha menjual ste kelinci ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan geografis atau wilayah karena hanya terdapat pada satu tempat saja.
b.      Segmentasi berdasarkan volume (pembeli potensial/tidak, pembeli ringan/berat)
Pada usaha ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan volume. Pemasaran hasil produksinya yaitu konsumen mendatangi atau mencari sendiri. secara langsung.
c.       Segmentasi berdasarkan demografis (umur, kelamin, besar, keluarga, tingkat pendapatan/daya beli, pendidikan, jenis pekerjaan, aspek agama, paham kebangsaan, status sosial, ragam lembaga )
Pada usaha ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan demografis, produk dijual kepada konsumen secara langsung tanpa membatasinya.
d.      Segmentasi berdasarkan benefit (sosial/ profit oriented)
Menurut Radiosunu (1979), pembeli dibagi berdasarkan kegunaan yang dicari dari barang bersangkutan. Pada usaha ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan benefit.
e.       Segmentasi berdasarkan psikografis (gaya hidup masyarakat, kedinamisan masyarakat)
Pada usaha ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan psikografis. Dalam menjual produk sate kelinciini  tidak memandang  kelas sosial, gaya hidup atau  kepribadian dari pembeli.
f.       Segmentasi berdasarkan faktor pemasaran (harga, kualitas produk, kesetiaan pelanggan, penawaran, permintaan.
Pada usaha ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan faktor pemasaran
g.      Segmentasi berdasarkan produk-ruang (produk volumineus, ringkas /tidaknya suatu produk)
Pada usahaa ini tidak melakukan segmentasi pasar berdasarkan produk-ruang karena produk yang dihasilkan hanyalah  sate kelinci saja.
e.       Evaluasi Pemasaran
Evaluasi pemasaran dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kekurangan pada proses pemasaran, kelebihan-kelebihan yang ada saat proses pemasaran. Hal ini dapat digunakan untuk menetapkan strategi pemasaran yang didasarkan pada peluang-peluang atau opportunity. Namun dapat meminimalkan kelemahan (wealinesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 2004).
Pemasaran yang telah dilakukan kurang efektif sehingga minat konsumen kurang. Akan tetapi terdapat kelebihan dalam pemasaran yang dimiliki dalam usaha sate kelinci ini adalah produk ini termasuk produk yang jarang ditemukan disekitar area berjualan sehingga mempunyai potensi usaha yang baik. Dari keterangan-keterangan tersebut dapat disimpulkan prospek pemasaran masih terbuka lebar dan daerah pemasaran masih banyak, apabila pemasaran ditingkatkan lagi akan lebih menghasilkan keuntungan yang lebih banyak.











V.  KESIMPULAN DAN SARAN


A.     Kesimpulan
1.      Lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran tataniaga di Pasar Turisari adalah peternak, pedagang pengumpul, konsumen, dinas Pengelola Kekayaan Daerah dan pedagang perantara.
2.      Profit margin atau keuntungan yang diperoleh pedagang daging sapi  adalah sebesar Rp 125.000,- per hari, sedangkan farmer share yang diperoleh dari presentase harga pokok dan harga jual adalah 75 %.
3.      Pengawasan intern terhadap pemasaran di Pasar Turisari dilakukan oleh petugas pengelola pasar yang merupakan staf dari Kelurahan Turisari, sedangkan pengawasan ekstern dilakaukan oleh pemerintah yaitu Dinas Pengelola Pasar Surakarta..
B.     Saran
Perlu adanya penetapan dan peraturan khusus mengenai kualitas daging yang dijual di pasar Turisari. .





















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Pasar Tradisional. www.wikipedia.com/pasar-tradisional didownload pada tanggal 10 Desember 2009.
Assauri, S. 1992. Manajemen Pemasaran. Rajawali, Jakarta.
Cahyono, B.T., 1994. Manajemen Pemasaran, Analisis Agribisnis dan Industri. STIE IPWI. Program Magister Manajemen.
Downey, W.D. dan S.P Erickson, 1989. Manajemen Agribisnis edisi ke-2. Erlangga, Jakarta
Kotler, P.1987. Pemasaran, Analisis, Perencanaan dan Pengendalian. Erlangga. Jakarta
              . Dan A.B. Susanto, 1989. Manajemen Pemasaran di Indonesia. Salemba Empat, Jakarta.
             ., 1990. Manajemen Pemasaran. Erlangga, Jakarta.
Kartasapoetra, G. 1992. Marketing Produk Pertanian Untuk Industri. Rineka Cipta, Jakarta.
Lamb, C., Joseph, Hair, Carl, M., 2001. Pemasaran. Salemba Empat. Jakarta.
Radiosunu, 1986. Manajemen Pemasaran; Suatu Pendekatan Analisis. BPFE, Yogyakarta.
Rangkuti, F., 2004. Anaisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sahib Sarogini, W.R. 2001. Pengantar Bisnis. Salemba Emban Patria, Jakarta.
Sudiono, A., 2002. Pemasaran Pertanian. UMM Press. Malang.
Swastha dan Irawan. 1979. Manajeen Pemasaran Modern. Liberty Offest,. Yogyakarta.









SOSIOLOGI PEDESAAN DAN PERTANIAN


1.      a. Pengertian sosiologi menurut para ahli yaitu :
1)         Emile Durkheim
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
2)         Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
3)         Soejono Sukamto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
4)         William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
5)         Allan Jhonson
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.
6)         Menurut Roucek & Waren,
sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.
7)         Menurut Soerjono Soekanto,
sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris, serta bersifat umum.



8)         Pitirim Sorokin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
9)         Roucek dan Warren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
10)     William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
11)     J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
12)     Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
13)     Paul B. Horton
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
Kesimpulannya sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat.
Selain itu, Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.

b. Pengertian pedesaan menurut para ahli :
1)      Sutardjo Kartohadikusumo
Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.
2)      C.S. Kansil
Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia
3)       Bintarto
Desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di situ(suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
4)      Paul H. Landis
Desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :
a.       Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b.      Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
c.       Cara berusaha (ekonomi) adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti: iklim, keadaan, alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
d.      Sistem kehidupannya berkelompok
e.       Termasuk kedalam masyarakat homogen dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat
f.       Homogenitas Sosial
g.      Hubungan primer
h.      Kontrol sosial yang ketat
i.        Gotong-royong
j.        Ikatan sosial
k.      Magis religius
5)      Priyotamtomo (2001)
Pengertian “pedesaan” mencakup wilayah yang disebut “rural” dibedakan dengan “urban”. Secara lengkap pedesaan diartikan sebagai kawasan tempat tinggal dan kerja yang secara jelas dapat dipisahkan dari kawasan yang lain yang disebut “kota”.

2.      a. Pengertian sosiologi pedesaan :
1)      menurut siti azizah :
Sebuah ilmu yang melukiskan dan mengkaji hubungan antar individu, individu dengan kelompok maupun sesama kelompok yang ada di lingkungan pedesaan
2)      Priyotamtomo (2001)
sosiologi pedesaan merupakan suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan antar kelompok yang ada di lingkungan pedesaan.
b. Perbedaan sosiologi pedesaan dan sosiologi pertanian :
Menurut Planck (1993:3) Sosiologi Pertanian (Agricultural Sociology) sering disamakan dengan Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology). Tetapi ini hanya berlaku jika penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Semakin sedikit kehidupan penduduk di desa ditandai oleh kegiatan pertanian, semakin pantas sosiologi pertanian dipisahkan dari sosiologi pedesaan.
Dengan mempertimbangkan kasus-kasus di pedesaan Indonesia yang umumnya sektor pertanian masih relatif dominan baik sebagai sektor primer maupun sekunder, dalam praktek agak sulit untuk membedakan secara tegas pokok bahasan dan agenda kajian tentang sosiologi pedesaan dan pertanian. Tumpang tindih dan saling terkait antara kedua pendekatan bidang sosiologi tersebut akan sangat mungkin terjadi di pedesaan Indonesia.
Sektor pertanian masih dominan di berbagai Negara berkembang. Dengan mengingat pentingnya faktor pertanian bagi keberadaan desa, maka dapat dipahami bahwa kebanyakan batasan sosiologi pedesaan masih selalu berkisar pada aspek pertanian.
Tidak hanya di pedesaan Indonesia, sebagian besar masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang masih memiliki ketergantungan pada sektor pertanian, bahkan menurut Raharjo (1999:12) pertanian memang masih merupakan karakteristik pokok dari umumnya desa-desa di dunia. Dilihat dari eksistensinya, desa merupakan fenomena yang muncul dengan mulai dikenalnya cocok tanam di dunia ini. Dengan mengingat pentingnya faktor pertanian bagi keberadaan desa, maka dapat dipahami bahwa kebanyakan batasan sosiologi pedesaan masih selalu berkisar pada aspek pertanian.
Dalam pembahasan selanjutnya ini menggunakan dua disiplin ilmu itu (Sosiologi Pertanian dan Sosiologi Pedesaan) sebagai pendekatan. Pertimbangan utamanya adalah mengingat kemajemukan masyarakat pedesaan Indonesia. Dilihat dari tingkat perkembangannya, masih terdapat sejumlah masyarakat desa kita yang masih terbelakang, sehingga masih tepat untuk dianalisis lewat kerangka Sosiologi Pedesaan. Di lain pihak telah terdapat sejumlah desa yang telah maju sehingga lebih tepat untuk dijelaskan lewat kerangka Sosiologi Pertanian.

3.      Keutamaan mempelajari sosiologi pedesaan yaitu :
1)      Ilmu sosiologi selalu erat kaitannya dengan semua ilmu.
2)      Dunia peternakan tidak hanya mempelajari tentang obyek peternakan, tetapi juga subyek dari dunia peternakan itu sendiri.
3)      Mempermudah difusi inovasi dalam bidang peternakan.
4)      Berkaitan erat dengan upaya pembangunan (khususnya bidang ekonomi).
5)      Mengetahui norma-norma dalam masyarakat desa.
6)      Mengetahui problem-problem sosial yang saling mempengaruhi dengan ilmu-ilmu pertanian.
Disamping keutamaan diatas dengan mempelajari sosiologi pedesaan kta bisa mengumpulkan secara sistematis atau secara bermakna tentang keterangan-keterangan mengenai masyarakat pedesaan dan segala tingkah laku atau aktifitas masyarakat pedesaan dan menelaah hubungan-hubungannya. Sosiologi pedesaan membantu dalam mengambil lukisan seteliti-litinya tingkah laku, sikap, perassan, motif, dan bagian-bagian masyarakat desa yang umumnya hidup dalam lingkungan pedesaan.

MANAJEMEN AGRIBISNIS


KOMPONEN FUNGSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
Manajemen agribisnis memiliki beberapa fungsi-fungsi diantaranya:
1.        Fungsi perencanaan
Fungsi peencanaan merupakan semua kegiatan yang ditujukan untuk menyusun program kerja selama periode tertentu pada masa yang akan datang berdasarkan visi, misi, tujuan serta sasaran organisasi.
unsur-unsur perencanaan meliputi :
a.                             Tujuan : menerangkan tujuan yang hendak dicapai dari kegiatan yang dilakukan. Tujuan ini bersifat non material maupun non moral.
b.                            Politik : merupakan peraturan-peraturan yang digariskan bagi tindakan-tindakan organisasi yang dihubungkan dengan tujuan yang dicapai.
c.                             Prosedur : urutan-urutan pelaksanaan yang dilalui dan diikuti oleh kariyawan atau orang yang mengikuti kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.
d.                            Budget : ihktisar dari masukan yang diharapkan akan diperoleh dikaitkan dengan output yang dikeluarkan dalam bentuk angka.
e.                             Program: serangkaian tindakan yang akan dilakukan diwaktu  yang akan datang, terdiri dari penggabungan politik, prosedur dan budget.
2.        Fungsi pengorganisasian
Fungsi pengorganisasian adalah  upaya dalam mengorganisasikan semua sumberdaya perusahaan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.
Unsur organisasi ada 2 yaitu :
  1. Hasil akhir yang ingin dicapai.
  2. kegiatan yang dilakukan saat ini untuk mencapi tujuan tersebut.
Fungsi pengorganisasian sangat terkait juga dengan alokasi optimal sumberdaya perusahaan sehingga diperoleh keterpaduan tugas-tugas dan peranan masing-masing sumberdaya yang optimal dalam aktivitas organisasi.
Efektivitas sebuah organisasi sangat tergantung pada kemampuan manajemennya untuk menggerakkan semua sumberdaya perusahaan guna mencapai tujuannya. Sumberdaya manusia sebagai penggerak utama sumberdaya perusahaan lainnya harus memiliki kemampuan prima dan kerja yang profesional serta ditempatkan pada posisi yang tepat. Semboyan yang paling terkenal untuk penempatan manusia pada posisi yang tepat guna mencapai efektivitas organisasi adalah the right man on the right place.
3. Fungsi pelaksanaan
Fungsi pelaksanaan merupaka suatu penekanan pada proses pelaksanaan kegiatan organisasi sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Terbagi menjadi tiga fungsi yaitu kepemimpinan, pengarahan, dan koordinasi. Fungsi kepemimpinan lebih menekankan bagaimana seorang pemimpin menyalurkan semua kemampuan individu pada aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Fungsi pengarahan lebih menekankan pada bagaimana karyawan diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi. Dan fungsi koordinasi lebih menekankan pada hubungan koordinasi antar individu, antar kelompok, atas berbagai aktivitas organisasi sehingga diperoleh harmonisasi dalam setiap pelaksanaan kegiatan.
4. Fungsi pengawasan
Fungsi pengawasan adalah menekankan pada bagaimana membangun sistem pengawasan dan melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana yang telah dibuat agar tetap berjalan.
Fungsi pengawasan dilakukan secara terus-menerus untuk menjamin agar pelaksanaan rencana dapat berjalan dengan baik. Pengawasan berbeda dengan supervisi. Pengawasan lebih menekankan pada bagaimana suatu sistem pengawasan dapat berjalan sebagaimana mestinya, sedangkan supervise menekankan pada bagaimana individu-individu bekerja sesuai prosedur kerja yang ada. Pengawasan dapat dilakukan oleh individu-individu, sistem, dan atau lingkungan. Di lain pihak, sepervisi hanya dapat dilakukan oleh supervisor yang berwenang.
5. Fungsi evaluasi
Fungsi evaluasi merupakan hal yang menekankan pada upaya untuk menilai proses pelaksanaan rencana, mengenai ada tidaknya penyimpangan, dan tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan berdasarkan rencana yang telah dibuat.
Fungsi evaluasi ditujukan pada suatu obyek tertentu dan dalam periode tertentu. Misalnya, mengevaluasi pelaksanaan proyek agribisnis yang dilaksanakan selama dua tahun. Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam fungsi evaluasi antara lain adalah apa hambatan hambatan dalam pelaksanaanya dan bagaimana hasilnya.