Rabu, 22 September 2010
SALURAN TATANIAGA PADA TERNAK AYAM
I. PENDAHULUAN
Salah satu tujuan dalam pembangunan sektor pertanian adalah terpenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus meningkat. Swasembada pangan harus dimantapkan dalam arti luas tidak hanya terbatas pada beras akan tetapi mencakup kebutuhan pangan rakyat secara total termasuk hasil ternak yang merupakan sumber karbohidrat, protein dan lemak. Kondisi ini akan mendorong terciptanya sistem pangan yang berkelanjutan.
Dalam kerangka agribisnis sebagai suatu pendekatan pengelolaan usaha yang secara menyeluruh, maka penanganan peternakan sebagai rangkaian kegiatan beberapa sub sistem yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Sub-sub sistem tersebut dapat dijabarkan dalam bentuk kegiatan peternakan (on-farm activities) dan kegiatan luar peternakan (of-farm activities) yang mencakup: 1) pengadaaan sarana produksi 2) industri pengolahan hasil 3) tataniaga 4) jasa-jasa penunjang (Bungaran, 1993; Priyadi, 2004).
Usaha peternakan ayam broiler (ras) ditinjau dari aspek finansial merupakan salah satu usaha di bidang agribisnis yang memberikan keuntungan (Suharno, 2002; Priyadi, 2004). Dalam menjalankan usaha ayam broiler terdapat 2 jenis pengelolaan, yakni dikelola secara mandiri (peternak mandiri) dan dikelola dalam bentuk plasma-inti (peternak plasma inti). Para pedagang dalam menjalankan usahanya benar-benar dikelola sebagai usaha memperoleh pendapatan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Lain halnya dengan para peternak yang dalam menjalankan usahanya relatif kurang memberikan keuntungan, sehingga sebagian kecil para peternak dalam melakukan usahanya sebagai usaha sampingan.
II. PEMBAHASAN
Tataniaga yang efisien adalah sampainya produk ke konsumen akhir menurut tempat, waktu, dan bentuk yang diinginkan konsumen dengan biaya yang serendah-rendahnya serta adanya pembagian yang adil dari harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terkait dalam kegiatan produksi dan tataniaga tersebut (Mubyarto, 1992).
Efisiensi tataniaga merupakan salah satu komponenen penting dalam menciptakan sistem tataniaga yang dapat memberikan keuntungan kepada berbagai pihak yang terkait dalam tataniaga ayam, seperti: peternak, pedagang dan konsumen. Melalui pelaksanaan tataniaga yang efisien pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan tingkat harga.
Faktor-faktor yang mendukung terciptanya tataniaga yang efisien mencakup: struktur pasar, lembaga tataniaga yang terlibat, dan transmisi harga. Pengukuran efisiensi tataniaga pertanian secara umum dapat dibedakan secara kualitatif dan secara kuantatif. Ukuran secara kualitatif sebagai upaya mengungkapkan keterkaitan tataniaga terhadap kesejahteraan masyarakat yang menggunakan pendekatan teknik S-C-P, yaitu; market strcture, market conduct dan market performance (Sukartawi, 1993). Adapun pengukuran secara kuantatif digunakan beberapa konsep antara lain: 1) Elastisistas Transmisi Harga dan 2) Marjin Tataniaga.
Efisiensi tataniaga akan tercipta apabila berada dalam mekanisme pasar yang bersaing sempurna dengan besarnya marjin tataniaga konstan. Indikator lain yang digunakan untuk mengukur efisiensi tataniaga adalah bagian yang diterima oleh peternak (farmer share). Berkaitan marjin tataniaga dan efisiensi, Raju dan Oppen (1980-1982) disitasi dalam Priyadi (2004) menyatakan terdapat dua ukuran efisiensi tataniaga, yaitu: 1) efisiensi operasional, dan 2) efisiensi harga. Ukuran efisiensi operasional dicerminkan oleh biaya tataniaga dan marjin tataniaga. Efisiensi harga dicerminkan oleh korelasi harga sebagai akibat pergerakan produk dari pasar satu ke pasar yang lain. Marjin tataniaga lebih sering digunakan untuk analisis efisiensi tataniaga, karena dapat menggambarkan penyebaran marjin tataniaga, dan efisiensi operasional (Sukartawi, 1993).
Tataniaga Ayam Broiler
Tataniaga yang terjadi pada suatu komoditas tidak terlepas dari pengaruh struktur pasar yang terjadi. Di samping itu, pada perdagangan ayam broiler (ras) saluran tataniaga dipengaruhi juga adanya produk yang dihasilkan secara periodik dan produsen relatif tersebar. Sebagai konsekuensinya harga daging ayam sangat dipengaruhi fluktuasi pasokan.
Secara umum usaha para peternak mandiri ayam broiler, hasil produksinya dijual kepada para pedagang pengumpul yang terdapat di desa-desa kemudian ke pedagang besar atau ke pedagang-pedagang pengecer yang berada dalam 1 wilayah maupun di luar wilayah kabupaten.
Gambar 1. Saluran Tataniaga Ayam Broiler
Pada gambar di atas, peternak mandiri dalam melakukan penjualan sebagian besar adalah kepada pedagang pengumpul. Untuk peternak plasma, produksi ayam broiler semuanya dijual kepada pedagang pengumpul yang ditunjuk perusahaan inti. Para pedagang pengumpul dalam memperoleh komoditas dagangannya adalah menerima penjualan dari para peternak yang langsung menjual kepada mereka tetapi yang paling banyak dengan "sistem jemput bola".
Para pedagang besar dalam upaya memperoleh komoditas dagangannya memperoleh pasokan dari para peternak dan pedagang pengumpul yang langsung datang.
Berdasarkan gambar terdapat 5 saluran dalam sistem pemasaran ayam ras pedaging (broiler) yaitu:
Saluran I : Peternak – P. Pengumpul – P.Eceran – Konsumen
Saluran II : Peternak – P. Pengumpul –Konsumen
Saluran III: Peternak – P. Pengumpul – P.Besar – P. Eceran – Konsumen
Saluran IV: Peternak – P. Besar – P. Eceran– Konsumen
Saluran V : Peternak – P. Eceran – Konsumen
Peternak plasma menggunakan saluran I, II, dan III karena peternak plasma menjual produksi ayam broiler semuanya dijual kepada pedagang pengumpul yang ditunjuk perusahaan inti. Sedang peternak mandiri memasarkan produksi melalui kelima saluran pemasaran.
Tataniaga Ayam Kampung petelur
Produsen/peternak
Pengumpul/pemasok
Supermarket Pengecer
Konsumen/exportir
Gambar 2. Saluran Tataniaga Ayam Kampung Petelur
Bagi peternak ayam kampung petelur yang bermodal besar dengan produk yang kontinu, akan dapat memotong jalur pemasaran, yaitu dengan cara menjual langsung ke toko-toko besar atau langsung diekspor. Namun, bagi peternak kecil mungkin hal ini masih sulit dilakukan mengingat produk yang dihasilkan tidak bisa kontinu dan jumlahnya belum mencukupi. Oleh karena itu pemasaran lebih cenderung menggunakan jalur lain, misalnya melalui pemasok, pengecer, atau langsung ke konsumen.
Dari gambar 2 di atas terlihat bahwa beberapa kemungkinan jalur penjualan telur dari peternak. Sedikitnya ada lima kemungkinan yang dapat dilakukan oleh petenak, yaitu pemasok, pengecer, supermarket, eksportir, atau langsung ke konsumen. Dari kelima kemungkinan tersebut yang paling banyak dilakukan oleh peternak adalah melalui pemasok, pengecer, atau langsung dijual ke konsumen.
Pemasok itu sendiri terdiri dari beberapa pedagang perantara, mulai dari yang kecil, menengah, sampai yang besar. Biasanya di setiap daerah selalu ada pemasokyang dapat menampung produksi telur ayam kampung . Pedagang pengecer pun bervariasi mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari para pedagang sayur-sayuran keliling, pedagang pengecer di pasar, sampai toko-toko kelontong dan barang keperluan sehari-hari (took seba ada dipisahkan karena mempunyai karakteristik system penjualan yang agak berbeda). Sedangkan yang dapat digolongkan sebagai konsumen langsung adalah ibu rumah tangga, penjual jamu, atau rumah makan. Penjualan ke toko serba ada dan eksportir biasanya hanya dialkukan oleh peternak yang cukup besar karena memerlukan kualitas dan kontinuitas produksi yang baik. Dalam kasus-kasus tertentu, seringkali para pemasok mendatangi langsung para peternak nuntuk mendapatkan telur ayam kampung (Sujionohadi, 2007).
KESIMPULAN
Bentuk usaha ternak ayam ras pedaging adalah sistem plasma dan sistem mandiri. Pada peternak plasma menggunakan tiga saluran pemasaran dan yang dominan saluran peternak – pedagang pengumpul – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen. Sedang peternak mandiri lebih bervariasi ada lima saluran pemasaran dan yang dominan adalah saluran peternak – pedagang pengecer – konsumen.
Ada lima kemungkinan jalur penjualan telur ayam kampung yang dapat dilakukan oleh petenak, yaitu pemasok, pengecer, supermarket, eksportir, atau langsung ke konsumen. Dari kelima kemungkinan tersebut yang paling banyak dilakukan oleh peternak adalah melalui pemasok, pengecer, atau langsung dijual ke konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Mubyarto. 1992. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3S.
Priyadi, Unggul et al. 2004 Analisis Distribusi Ayam Broiler di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No. 2, Desember 2004 Hal: 193 – 205.
Soekartawi. 1993. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sujionohadi, Kliwon dan Ade Iwan Setiawan. 2007. Ayam Kampung Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sabtu, 12 Juni 2010
Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan
A. Latar Belakang
Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani yang sangat penting. Sapi perah sebagai penghasil susu berperan sangat penting sebagai pengumpul bahan-bahan yang tidak bermanfaat sama sekali bagi manusia seperti rumput, limbah, dan hasil ikutan lainnya dari produk pertanian. Air susu sebagai sumber gizi berupa protein hewani yang sangat besar manfaatnya bagi bayi, sebagai masa pertumbuhan, orang dewasa dan lanjut usia. Susu memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga sangat menunjang pertumbuhan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.
Susu sapi mengandung semua bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sapi yang dilahirkan. Susu juga dapat digunakan sebagai bahan minuman manusia yang sempurna karena di dalamnya mengandung zat gizi dalam perbandingan yang optimal, mudah dicerna, dan tidak ada sisa yang terbuang. Air susu sebagai sumber gizi berupa protein hewani sangat besar manfaatnya bagi bayi, bagi mereka yang sedang dalam proses tumbuh, bagi orang dewasa dan bahkan bagi yang berusia lanjut. Susu dengan kandungan protein yang cukup tinggi dapat menunjang pertumbuhan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.
Peningkatan permintaan produk susu yang tidak diimbangi dengan penambahan produksi sapi tentu saja akan mengakibatkan kebutuhan akan susu tidak dapat terpenuhi. Pemenuhan produk susu dengan penambahan populasi ternak sapi perah membutuhkan proses yang panjang. Hal ini membuktikan bahwa pengembangan usaha ternak sapi perah memiliki peluang dan prospek usaha yang sangat cerah.
Efisiensi pengembangbiakan dan pengembangan usaha ternak perah dapat dicapai apabila peternak memiliki perhatian terhadap tata laksana pemeliharaan dan manajemen pengelolaan yang baik. Adanya manajemen dalam pengelolaan merupakan sesuatu hal yang wajib bagi seseorang pengusaha ternak untuk dimengerti dan dipahami. Jika semuanya tersebut dapat dikuasai oleh peternak maka akan menghasilkan hasil yang maksimal.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari pelaksanaan Praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan ini adalah:
a. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami suatu perusahaan peternakan dari sisi manajemen perusahaan dan analisis finansial.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang manajemen perusahaan peternakan khususnya tentang analisis finansial.
c. Mahasiswa lebih mudah dalam memahami dan menguasai Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan dan dapat menerangkan di lapangan.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan adalah dapat diperoleh wawasan dan pengetahuan baru tentang manajemen perusahaan peternakan yaitu Peternakan Sapi Perah Umbul Jaya yang ditinjau dari segi finansial perusaahaan sehingga dapat diketahui sumber-sumber input dan output dari perusahaan peternakan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Keberhasilan suatu peternakan tergantung kepada tata laksana yang dilakukan. Tanpa tata laksana yang teratur dan baik produksi yang dihasilkan ternak tidak akan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan suatu kerugian dan kehancuran yang cukup besar akan senantiasa mengancam, peranan manajer dalam suatu usaha perusahaan peternakan sangat menonjol / kehadiran tenaga terlatih yang sangat terampil melakukan segala tata laksana peternakan disertai penataan perlengkapan dan peralatan. Perusahaan peternakan yang disesuaikan dengan faktor fisik dan ekonomi akan menentukan keberhasilan tujuan tersebut (Santosa, 2001).
Salah satu usaha yang masih bisa dikembangkan peternak di tengah kondisi perekonomian yang mencekik ini adalah sapi perah. Produktivitas sapi perah sebagai penghasil susu utama, salah satunya ditentukan oleh pakan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan sapi perah. Zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi perah digunakan untuk hidup pokok dan produksi, kebutuhan sapi perah akan zat-zat makanan erat kaitannya dengan bobot badan dan produksi susu (Nur, 2004).
Pada saat ini di daerah tropis sekurang-kurangnya terdapat 3 tipe perusahaan sapi perah:
1. Produksi tingkat pedesaan (subsisten)
2. Peternak sapi perah, biasanya skala menengah, namun banyak pada skala kecil.
3. Produsen skala besar.
Patut diketahui bahwa sebagian besar produsen air susu di daerah tropik sebagian besar merupakan penduduk pedesaan yang tindakan pertamanya mencakup kebutuhan keluarganya dan kemudian menjual sisa atau kelebihan hasilnya sebagai air susu segar atau hasil pengolahannya (Reksohadiprodjo, 1995).
Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan pengembangan sapi perah di Indonesia mengalami kelambanan walaupun populasi sapi perah meningkat pesat, di antaranya yaitu :
1. Permintaan akan komoditi susu segar tidak menunjukkan peningkatan yang pesat walau peningkatan akan komoditi protein hewani telah mengalami peningkatan yang sangat pesat.
2. Kurangnya tenaga inseminator pada daerah tertentu, dimana di daerah tersebut banyak peternak sapi perah yang menginginkannya.
3. Sebagai akibat perkembangan ternak perah, maka daerah sekitar lokasi peternakan akan mengalami kekurangan rumput gajah (rumput hijau) yang merupakan sumber makanan bergizi bagi ternak sapi-sapi perah.
4. Masalah penyakit yang dapat menyerang ternak sapi perah.
5. Tidak semua peternak dapat memasarkan hasil produksinya dengan baik dan lancar
(Siregar,1992).
Ada beberapa hal yang sering menimbulkan hambatan bagi usaha ternak sapi perah, antara lain :
1. Iklim. Negara kita yang beriklim tropis sehingga sering mengalami temperatur yang membumbung tinggi sehingga merupakan suatu hal yang sangat bertentangan dengan kehidupan sapi perah.
2. Permodalan. Pada umumnya masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan atau pegunungan terhalang oleh permodalan finansial dan skill kurang walaupun temperatur memungkinkan usaha sapi perah.
3. Pemasaran yang belum maju, sebab produksi susu di dalam negeri mendapat saingan berat dengan susu kaleng, daya beli rakyat yang masih rendah, dan higiene produksi air susu dari peternak rakyat kurang sempurna.
4. Kekurangan tenaga ahli.
5. Komunikasi (sarana angkutan) yang sulit.
(AAK,1995).
III. MATERI DAN METODE
A. Materi Praktikum
Materi yang digunakan dalam praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan adalah Perusahaan Peternakan Sapi Perah “ Umbul Jaya”.
B. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Mei 2010 di Perusahaan Peternakan Sapi Perah “Umbul Jaya” yang berlokasi di Jalan Mojo no. 2, Kelurahan Karang Asem, Kecamatan Laweyan, Surakarta.
C. Jenis Data Praktikum
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan pemilik/ manajer perusahaan.
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu berasal dari catatan yang ada di perusahaan.
D. Metode Pelaksanaan Praktikum
Metode pelaksanaan praktikum yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode observasi dan wawancara secara langsung dengan pemilik/ manajer Perusahaan Peternakan Sapi Perah “Umbul Jaya”.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Umum Perusahaan
a. Keadaan Populasi Ternak, Modal Sekarang, Harga, dll
Perusahaan sapi perah “Umbul Jaya” terletak di jalan Mojo no. 2 Karangasem Rt 05 / 8, Laweyan, Surakarta. Perusahaan ini didirikan pada th 60-an dengan nama “Umbul Sari”. Pergantian nama Umbul Sari menjadi Umbul Jaya diharapkan mampu meningkatkan produksi susu dan meningkatkan populasi sapi perah yang ada di perusahaan sapi perah tersebut.
Tujuan dan motivasi pendirian perusahaan sapi perah “Umbul Jaya“ adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beban kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga memberikan motivasi pada Bapak Jumadi CP untuk memulai usaha sapi perah, dengan modal awal 5 ekor sapi perah PFH masa produksi (laktasi) lahan kandang seluas 7000 m2, pengalaman blantik dan pengalaman belajar selama satu bulan di perusahaan sapi perah yang dimiliki bapak Jumadi CP inilah perusahaan sapi perah Umbul Jaya sekarang sudah memiliki ternak sebanyak 35 ekor sapi perah yaitu sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Harga sapi untuk bakalan seharga Rp 3.500.000,00, harga untuk pejantan Rp 9.000.000,00 dan harga untuk betina atau indukan adalah Rp 10.000.000,00.
Usaha peningkatan sapi perah di Umbul Jaya ini melalui pembelian sapi maupun dengan membesarkan pedet dari sapi-sapi yang melahirkan, namun demikian peningkatan populasi sapi perah Umbul Jaya mempunyai hambatan- hambatan yaitu kerugian dalam perdagangan sapi perah dan bangunan kandang yang tidak memungkinkan untuk penambahan sapi. Sehingga usaha peningkatan jumlah sapi di Umbul Jaya terlihat terhenti.
b. Kondisi produksi dan wilayah pemasaran produk
Peningkatan keuntungan selain dari penjualan susu segar di perusahaan sapi perah Umbul Jaya juga diperoleh dari penjualan dari sapi perah laktasi ke pasar dan pembuatan produk selain susu segar. Pembuatan produk selain susu segar seperti susu coklat, susu kopi, susu strawberi, dan susu kacang hijau dihentikan pada tahun 1997. Penyebabnya adalah melambunganya harga gula dan kebutuhan lain setelah krisis ekonomi di Indonesia. Pemasaran susu segar yang sulit sejak awal pendirian ”Umbul Jaya“ sampai tahun 1997 menjadi mudah setelah harga jual produk produk susu, seperti susu kaleng, susu bubuk dan produk susu lain di pasaran melambung tinggi pasca krisis ekonomi.
Peternakan Umbul Jaya mampu menghasilkan susu sebanyak 100 liter per hari dengan interval 2 kali pemerahan sehari terhadap sapi yang laktasi sebanyak 12 ekor. Produksi susu tersebut naik turun, karena tergantung dari cuaca, keadaan tersebut dapat diketahui dari makanan yang diberikan ke sapi. Produksi susu dari sapi-sapi tersebut dirasa kurang sebagai perusahaan penghasil susu di wilayah Solo sehingga perlu ditingkatkan, antara lain dengan penambahan jumlah sapi perah laktasi dengan mengawinkan sapi-sapi dara yang ada atau dengan membeli sapi jadi yang sudah laktasi.
Produk utama peternakan sapi perah Umbul Jaya berupa susu segar dengan harga Rp 5.000,00/liter. Pemasaran susu dilakukan dengan menjual ke Pasar Gede, serta dijual di lokasi peternakan itu sendiri dengan adanya pembeli yang langsung datang ke peternakan “Umbul Jaya”. Namun, kadang-kadang susu yang dipasarkan tidak semua dapat habis dalam waktu itu juga, sehingga ada susu yang tersisa. Sisa susu ini dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain bisa dilakukan dengan memperluas lokasi pemasaran atau dengan menggunakan jasa loper yang bisa menjualkannya di warung-warung atau terminal-terminal.
c. Proses produksi yang dijalankan
Pada hasil pengamatan, pemberian pakan hijauan diberikan satu kali dalam sehari. Pemberian pakan hijauan ini diberikan + pada jam 15.00 WIB sebelum diberi pakan hijauan sapi-sapi ini terlebih dahulu diberi makan konsentrat dengan formulasi pakan yang dibuat sendiri. Setelah satu jam pemberian konsentrat barulah hijauan diberikan. Hijauan yang diberikan sudah dalam bentuk dipotong-potong. Hijauan yang diberikan adalah rumput raja dengan total pemberian 10 kg/ ekor/ hari Hijauan ini diperoleh dari membeli dengan harga Rp 400,00 – Rp 500,00 /kg.
Pakan konsentrat di perusahaan Umbul Jaya dibuat dengan formulasi pencampuran yang dilakukan sendiri dengan formulasi bekatul, ampas tahu dan polar. Pakan konsentrat di UD. Umbul Jaya diberikan dua kali dalam sehari yaitu pada pagi hari dan siang hari. Rata-rata pemberian konsentrat ini setiap kali pemberian yaitu 15 kg/ekor/hari.
Proses perkawinan sapi perah di Umbul Jaya dilakukan dengan IB dan perkawinan alami. Perusahaan Umbul Jaya ini sapi perah dara mulai dikawinkan pertama kali sekitar umur + 18 bulan dngan berat kira- kira 275 kg. Pada sapi dara yang pertama kali dikawinkan dilakukan dengan IB dan perkawinan selanjutnya dengan perkawinan alami. Cara penetapan kebuntingan dilakukan oleh buruh dengan pengamatan ulang birahi, kebuntingan akan diketahui apabila ternak tidak birahi lagi 3 – 4 minggu setelah perkawinan.
Pada setiap usaha pasti terdapat hambatan atau kendala yang dapat menggangu kelancaran kegiatan produksi, tak terkecuali pada perusahaan sapi perah. Salah satu kendala adalah mengenai kesehatan sapi yang kadang terganggu. Di Umbul Jaya penyakit yang sering menyerang sapi adalah mastitis, kembung dan diare. Penyakit ini biasanya didiagnosa oleh pihak perusahaan sendiri, karena pemilik peternakan itu telah hafal tanda tanda suatu ternak terserang penyakit karena pemilik sapi tersebut telah mempunyai pengalaman memelihara sapi sudah cukup lama. Meskipun sapi terkadang diserang penyakit, pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi oleh Dinas Peternakan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Namun apabila ada tanda-tanda suatu penyakit yang tidak dapat ditanggulangi oleh peternak sendiri barulah pemilik peternakan tersebut memanggil mantri hewan.
Untuk menjaga kesehatan sapi-sapinya peternak juga sering memberikan obat tradisional yang berasal dari temu hitam, daun papaya, dan tempe busuk. Cara pembuatannya adalah 1 kg temu hitam ditambah 5 lembar daun papaya dan 6 bungkus tempe busuk. Semua bahan ditumbuk dan didiamkan selama semalam kemudian pagi harinya diberikan kepada sapi. Cara pemberiannya yaitu dengan membungkus jamu tersebut dengan daun pisang kemudian diberikan pada sapi. Pemberian jamu tersebut bertujuan untuk meningkatkan nafsu makan, dan dapat menanggulangi berbagai macam penyakit.
d. Sumberdaya yang dimiliki
Populasi ternak sapi yang ada sebanyak 35 ekor sapi perah yaitu sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Peralatan yang dimilki merupakan peralatan yang menunjang dalam operasional, seperti halnya: sapu, pompa air, ember, selang, milk can, alat pencacah hijauan (chopper), keranjang, sabit dan lain-lain. Investasi atau modal perusahaan yang dimiliki yaitu tanah 7000 m2 yang terdiri dari luas kandang ternak 400 m2, luas lahan 5600 m2, dan bangunan 1000 m2. Gudang alat dan pakan terdapat pada bagian depan. Sumber daya manusianya (SDM) merupakan tenaga kerja yang berasal dari wilayah Boyolali yang terdiri dari 2 orang dan 2 orang dari warga sekitar. Pekerja adalah lulusan SMP dan seorang adalah lulusan SD.
Dalam operasional perusahaan, perusahan sapi perah Umbul Jaya tidak terdapat struktur organisasi maupun job diskripsi yang jelas. Perusahaan ini dijalankan berdasarkan perintah dari pemilik yang juga merangkap sebagai pengelola langsung ke karyawan. Karyawan di perusahaan sapi perah Umbul Jaya ini bekerja berdasarkan kemauan dan kebiasaan serta sikap tidak mengeluh selama bekerja. Gaji karyawan per bulan sebesar + Rp 400.000, 00. Jaminan kesehatan dan kesejahteraan karyawan di perusahaan ini tidak ada. Terlihat dengan tidak adanya asuransi maupun perhatian yang lebih terhadap karyawan. Pekerjaan membersihkan halaman, membuat ransum pakan melebihi jam kerja tidak diperhitungkan sebagai jam lembur tetapi hanya sebagai pekerjaan biasa. Perumahan karyawan yang kurang memadai dan hanya ditempat di tempat yang kosong seperti bekas kamar susu. Hal ini memperlihatkan bahwa perusahaan sapi perah Umbul Jaya kurang memberikan jaminan kesejahteraan bagi karyawannya.
e. Denah Lokasi
Perusahaan sapi perah ini pada awalnya berada pada posisi yang sangat strategis dan memenuhi syarat lokasi perkandangan, seperti yang diungkapkan Reksohadiprojo (1995) yaitu lokasi kandang sapi perah diusahakan dekat sungai jalan raya, dekat sumber air dan sumber pakan serta sekat dengan daerah pemasaran yaitu kota Surakarta tepatnya di Pasar Gede.
Tugu adipura
U
Gambar 1. Denah Lokasi Perusahaan UD. Umbul Jaya
Gambar 2. Desain Layout Kandang di Perusahaan UD. Umbul Jaya
Keterangan :
1. Ruko (dikontrakkan)
2. Rumah pemilik
3. Mess/ tempat tinggal karyawan
4. Gudang pakan
5. Kandang ternak
6. Tempat pengolahan limbah
Dilihat dari lokasi dan layout perkandangan, perusahan sapi Umbul Jaya telah memenui syarat lokasi maupun syarat-syarat perkandangan yang baik. Letak kantor terletak di sebelah selatan gudang pakan, kandang terletak di sebelah utara dekat sungai. Kandang ini terdiri dari kandang pedet, kandang sapi dara, kandang sapi dewasa, kandang laktasi, kandang pejantan, serta kandang karantina. Kamar susu terletak di sebelah timur dan sekarang sudah tidak dipakai lagi. Gudang pakan terletak di antara tempat pemotongan rumput dan kantor. Perumahan karyawan berada di sebelah timur kandang dan selatan kandang. Dari segi lokasi perusahaan ini terletak dekat dengan sungai, dekat dengan sumber air, sumber pakan, dekat dengan jalan raya, dan daerah pemasaran.
Kekurangan dari perusahaan ini adalah kurangnya fasilitas air yang memadai, karena bila listrik mati akan terjadi kekurangan air sehingga dibuat bak penampung air, kurangnya pemasaran dari produk susu, bahkan penduduk sekitar ada yang tidak tahu kalau lokasi tersebut adalah peternakan sapi perah. Kadang terjadi kekurangan pakan karena pakan yang langka dan cara penaggulangannya yaitu mengganti dengan jenis pakan yang lain. Kurangnya sanitasi di perusahaan ini juga terjadi karena kadang bila air sungai tidak mengalir maka limbah sulit dialirkan.
f. Penanggulangan limbah ternak/kotoran ternak
Kotoran sapi (feses) ataupun ternak lainnya sering menimbulkan benturan dengan kepentingan orang lain. Di satu pihak kita sedang menggalakkan peternakan untuk dapat menghasilkan produk secara maksimal baik kualitas maupun kuantitasnya, di lain pihak akan mendapatkan protes dari penduduk sekitarnya jika penanganan feses tidak dilakukan secara baik, karena adanya pencemaran yang timbul dari kotoran ternak tadi.
Peternakan “Umbul Jaya” ini merupakan peternakan skala kecil yang lokasinya tidak jauh dari lokasi pemukiman penduduk. Bahkan rumah peternaknya sendiri berada di lokasi peternakan. Dengan adanya lokasi peternakan yang dekat dengan pemukiman penduduk, maka pencemaran lingkungan pun tidak dapat dihindari. Pengambilan kotoran ternak sapi perah biasanya dilakukan pada pagi dan siang hari. Menurut Setiawan (1996), pengambilan kotoran di pagi dan siang hari ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu segera tercipta lingkungan yang bersih dan pemerahan susu dilakukan pada kondisi lingkungan yang bersih sehingga kebersihan susu lebih terjamin.
Kotoran sapi perah di “Umbul Jaya” dialirkan ke lubang penimbunan dengan cara mengguyur atau menyiram kotoran sapi tersebut dengan air ke arah parit yang kemudian ditempatkan di lubang penimbunan. Kotoran yang ada pada lubang penimbunan, langsung dibuang ke sungai tanpa dilakukan pemrosesan lebih dulu, karena memang peternakan ini bersebelahan dengan sungai yang cukup besar. Penanganan feses yang kurang baik akan menganggu dan menimbulkan pencemaran daerah sekitarnya. Untuk mengurangi resiko pencemaran lingkungan, peternak dapat memanfaatkan kotoran ternak tersebut untuk hal yang bermanfaat, misalnya diolah menjadi pupuk.
Pencemaran yang diakibatkan oleh limbah yang dihasilkan oleh perusahaan tidak begitu ditanggapi oleh warga sekitar dengan alasan bahwa perusahaan sapi perah tersebut sudah berdiri lama bahkan jauh sebelum terdapat pemukiman penduduk, di samping itu limbah yang dihasilkan berupa feses ataupun urine sapi tidak begitu mengganggu warga sekitar perusahaan.
g. Peran perusahaan dalam memberdayakan masyarakat sekitar
Didukung dengan kekuatan sumber daya manusia yang bertempat tinggal disekitar lokasi peternakan, UD. Umbul Jaya terus menempa diri untuk dapat mengembangkan usaha agribisnis sehingga dapat memberi keuntungan secara bisnis dan peningkatan kualitas kehidupan bagi seluruh komponen yang manjadi keluarga besar UD. Umbul Jaya.
Sumber daya tenaga yang melimpah dari penduduk disekitar lokasi peternakan menjadikan suatu keuntungan tersendiri dari UD. Umbul Jaya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan saling menjaga UD. Umbul Jaya juga menggunakan warga sekitar sebagai karyawan/pekerja dipeternakan. Sosialisasi terhadap warga disekitar peternakan juga sering dilakukan untuk menghindari komplain dari warga yang sering mengeluh karena polusi yang dihasilkan baik suara maupun bau yang ditimbulkan.
h. SWOT analysis dalam pengembangan usaha peternakan
Dalam mempertahankan kondisi perusahaan yang tetap produksi, maka perusahaan harus mempunyai kekuatan yaitu permintaan akan susu semakin meningkat dengan hasil susu sebanyak 100 lt/hari dari 12 ekor sapi. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik maka produksi susu akan menghasilkan produksi tinggi. Kekuatan yang mendukung perusahaan ini adalah keuletan dalam usaha dan mempertahankan kelangsungan dari perusahaan itu sendiri. Dengan dukungan personal perusahaan yang kuat masalah tersebut dapat diatasi dengan lancer yaitu dengan menjual produk langsung ke konsumen dan perusahaanlah yang menentukan harga langsung. Bahan pakan yang mahal dapat diatasi dengan mencampur paka dengan bahan pakan (bekatul) yang lebih murah tanpa mengurangi kandungan nutrisinya.
Setiap perusahan pasti mempunyai halangan dan hambatan dalam menjalankan usahanya, tidak terkecuali UD. Umbul Jaya. Hambatan yang sangat terasa yaitu harga jual susu yang masih rendah, karena yang menjadi dasar dari biaya operasional setiap hari hanya dari penjualalan susu, sehingga bila harga susu tetap terus rendah bisa dipastikan tidak bisa menutup biaya operasionalnya. Selain itu, harga bahan baku pakan yang kian hari kian merangkak naik menjadikan masalah tersendiri yang sangat membebani. Sedangkan kelemahan yang dihadapi adalah biaya pakan yang besar sebab pakan dengan membeli yang menyebabkan pembengkakan pengeluaran apalagi pada saat musim kemarau, tetapi pengeluaran yang besar tersebut bias diimbangi dengan penjualan sapi afkir atau sapi yang sudah tidak produktif.
Sebagai langkah kedepan, usaha sapi potong saat ini telah/mulai dikembangkan melalui trading atau pembibitan sendiri. Selain dari segi akan kebutuhan susu yang semakin meningkat dan harga susu yang cukup stabil dan cenderung naik, maka perusahaan ini mempunyai peluang untik masa depannya. Selain di daerah tersebut hanya perusahaan ini satu-satunya perusahaan sapi perah, maka peluang untuk membuka usaha ini semakin besar, karena tidak ada pesaing dan lokasinya yang mudah dijangkau yaitu di sekitar kota Solo. Dengan kekuatan sumber daya manusia yang bertempat tinggal disekitar lokasi usaha peternakan, UD. Umbul Jaya terus menempa diri untuk dapat mengembangkan usaha agribisnis sehingga dapat memberi keuntungan secara bisnis dan peningkatan kualitas kehidupan bagi seluruh koponen yang menjadi keluarga besar UD. Umbul Jaya.
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang peternakan, perusahaan Umbul Jaya pastilah mempunyai beberapa hal yang dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan perusahaan ini sendiri. Ancaman tersebut antara lain adalah masalh limbah yang mungkin akan mengganggu masyarakat sekitar sehingga dapat menyebabkan protes dari warga. Ancaman lain adalah adanya kondisi perekonomian yang tidak stabil, yaitu harga pakan yang terus naik dan harga susu yang turuyn dapat menyebabkan adanya kerugian pada perusahaan. Ancaman lain adalah produk susus yang berasal dari Boyolali yang dijual ke Solo dapat menjadi pesaing dalam proses penjualan susu, karena harganya lebih murah.
B. Analisis Finansial
Kebutuhan dana dari perusahaan peternakan sapi perah “Umbul Jaya” dapat dirincikan sebagai berikut:
a. Modal Investasi
Tanah+ Bangunan 7000 m2 (Rp 1.400.000,00/m2) = Rp 9.800.000.000,00
Peralatan = Rp 1.800.000,00+
Total modal investasi = Rp 9.801.800.000,00
b. Modal Kerja Tetap (Fixed Cost)
Gaji dan upah
Tenaga kerja ( 4 orang @ Rp 400.000,00) = Rp 19.200.000,00
Perawatan dan Pengelolaan
Obat, vaksin dan vitamin = Rp 600.000,00
Sumbangan dll. =Rp 500.000,00+
Total fixed cost = Rp 20. 300.000,00
c. Modal kerja variable (Variable cost)
Pembelian pakan ternak:
Rumput gajah (Rp 300.000,00/5 hari) = Rp 21.900.000,00
Bekatul (8 kg/ekor/hari) = Rp 204.400.000,00
Ampas tahu (100 kg/hari) = Rp 9.490.000,00
Pollard (120 kg/hari) = Rp 219.000.000,00+
Total variable cost =Rp 454.790.000,00
Total modal investasi + fixed cost +
variable cost = Rp10.276.890.000,00
Laba dan Rentabilitas
Produk yang dipasarkan yaitu berupa susu sapi perah segar dengan harga per liter Rp 5.000,00
Penjualan susu setiap bulan dari 12 ekor sapi laktasi:
100 x 12 x 5.000 x 365 = Rp2.190.000.000,00
Penjualan sapi afkir setiap tahun:
Rp 7.000.000,00 x 2 ekor = Rp 14.000.000,00 +
Total penerimaan selama satu tahun = Rp2.204.000.000,00
Biaya produksi selama satu tahun
a. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Tenaga kerja ( 4 orang @ Rp 400.000,00) = Rp 19.200.000,00
Rekening listrik dan air (12 x Rp 160.000,00) = Rp 1.920.000,00
Pajak bumi bangunan = Rp 1.890.000,00
Penyusutan peralatan dan bangunan
1. Chopper = Rp 300.000,00
2. Kandang, gudang pakan, kamar susu = Rp 5.500.000,00
3. Rumah penjaga = Rp 3.990.000,00 +
Total fixed cost = Rp 32.800.000,00
b. Biaya variable (Variable Cost)
Biaya pakan ternak = Rp 454.790.000,00
Peralatan pendukung = Rp 800.000,00
Obat, vaksin dan vitamin = Rp 600.000,00
Sumbangan dll. = Rp 500.000,00
Bonus gaji karyawan = Rp 800.000,00+
Total variable cost = Rp 457.490.000,00
Total biaya produksi selama satu tahun
= Biaya tetap + biaya variable
= Rp 32.800.000,00 + Rp 457.490.000,00
=Rp 490.290.000,00
Perhitungan Analisis Finansial
a) Output – Input Analisis
Keuntungan = Input – Output
= Rp 2.204.000.000,00 – Rp 490.290.000,00
= Rp 1.713.710.000,00
b) Rentabilitas (%)
= Laba x 100 %
Modal
= Rp 1.713.710.000,00 x 100%
Rp 10.276.890.000,00
= 0,17 %
c) Payback Period of Credit (PPC)
PPC = Investasi x 1 tahun
Keuntungan
= Rp 10.276.890.000,00 x 1 tahun
Rp 1.713.710.000,00
= 5,99 Tahun
d) Break Even Point (rupiah)
BEP = Fixed cost
(1-(variable cost/penjualan)
= Rp 32.800.000,00
(1-( Rp 457.490.000,00/ Rp 2.204.000.000,00)
= Rp 41518987,34
e) Asset Turn Over (ATO)
ATO = Hasil produksi per tahun/modal
= Rp 2.204.000.000,00
Rp 10.276.890.000,00
= 0,21 kali
f) EBIT
HPP = Variable cost + Biaya penj.(1% dari hasil prod.) + Fixed cost
= Rp 457.490.000,00 + ( 1% x Rp 2.204.000.000,00) +
Rp 32.800.000,00
= Rp 512.330.000,00
EBIT = (Hasil prod - HPP) - Biaya administrasi (1% dari hasil prod.)
= Rp 2.204.000.000,00 - Rp 512.330.000,00 –
(1% x Rp 2.204.000.000,00)
= Rp 1.669.630.000,00
g) Profit Margin
Profit margin = ( EBIT ) x 100%
Hasil Prod.
= Rp 1.669.630.000,00 x 100%
Rp 2.204.000.000,00
= 75,75 %
h) ROI
ROI = ATO x Profit Margin
= 0,21 x 75,75 %
= 15,91%
i) BCR
BCR = Total Benefit
Total Cost
= Rp 1.713.710.000,00
Rp 490.290.000,00
= 3,49
j) Efisiensi Usaha
Efisiensi Usaha = Investasi x 100%
Keuntungan
= Rp 10.276.890.000,00 x 100%
Rp 1.713.710.000,00
= 5,99 %
B. Pembahasan
Setiap perusahaan perlu analisis finansial yang berfungsi untuk mengetahui kondisi perusahaan yang bersangkutan. Hal ini bertujuan jika perusahaan mengalami kerugian dapat dilakukan upaya perbaikan disegala bidang untuk menghindari kebangkrutan, sebaliknya apabila perusahaan mengalami keuntungan akan dapat mengembangkan perusahaan menjadi lebih besar dan berkembang pesat. Hal ini juga dilakukan oleh UD.Umbul Jaya.
Dengan memilki 35 ekor sapi yang terdiri dari sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Dari ke-12 ekor sapi perah yang berproduksi hanya menghasilkan 100 liter susu tiap harinya. Penghasilan utama dari perusahaan ini berupa produk susu murni yang langsung dijual kekonsumen dengan harga jual susu Rp 5.000,00 per liter. Dari hasil input yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 2.204.000.000,00 dan total biaya sebesar Rp 490.290.000,00, sehingga diperoleh keuntungan dalam satu tahun sebesar Rp 1.713.710.000,00.
BCR (Benefit Cost Ratio) merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya. Dengan kata lain, BCR merupakan hasil perbandingan antara nilai total benefit dengan total biaya sebagai indikator biar diterima atau tidaknya investasi yang dijalankan dalam perusahaan. Nilai BCR dari UD. Umbul Jaya sebesar 3,49 % dan itu artinya nilai investasi yang dijalankan menguntungkan perusahaan, karena memilki nilai BCR lebih dari satu ( 1 ). Sedangkan PPC (Payback Period of Credit) adalah waktu pengembalian investasi setelah investasi ditanamkan dalam perusahaan. Nilai PPC (Payback Period of Credit) dari UD. Umbul Jaya adalah 5,99 tahun.
BEP (Break Event Poin) merupakan nilai dimana keuntungan yang diterima perusahaan sama nilainya dengan total biaya yang dikeluarkan, dengan anggapan bahwa harga jual dari produk sudah tertentu ehingga perusahaan tidak utnung atau rugi. BEP yang dihasilkan sebesar Rp Rp 41518987,34. Rentabilitas adalah perbandingan antara laba dengan jumlah modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Rentabilitas yang dihasilkan adalah sebesar 0,17 %.
Asset Turn Over (ATO) adalah ratio antara hasil produksi per tahun dibandingkan dengan jumlah modal. ATO dari perusahaan ini sebesar 0,21 kali dengan profit margin 75,75 %. Sedangkan ROI merupakan nilai hasil perkalian antara Asset Turn Over (ATO) dengan profit margin, sehingga dapat diketahui seberapa besar persentase pengembalian nilai investasi yang ditanamkan perusahaan. sebesar 15,91 %. Dan nilai EBIT UD. Umbul Jaya adalah Rp 1.669.630.000,00.
Secara garis besar perusahaan sapi perah UD. Umbul Jaya setiap tahun mengalami keuntungan, sehingga sampai saat ini perusahaan masih tetap berdiri kokoh dan dalam jangka panjang perusahaan masih ingin mengembangkan usaha yang ada agar lebih maju lagi.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil serangkaian praktikum ini dapat diambil kesimpulan antara lain:
1. Perusahaan sapi perah “Umbul Jaya” terletak di jalan Mojo no. 2 Karangasem Rt 05 / 8, Laweyan, Surakarta.
2. UD. Umbul Jaya bergerak di bidang peternakan sapi perah dengan hasil utama berupa susu segar.
3. Investasi awal dari modal sendiri sejumlah 5 ekor sapi yang digunakan untuk mendirikan perusahaan secara utuh.
4. Dengan memilki 35 ekor sapi yang terdiri dari sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Dari ke-12 ekor sapi perah yang berproduksi menghasilkan 100 liter susu tiap harinya.
5. Dari hasil input yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 2.204.000.000,00 dan total biaya sebesar Rp 490.290.000,00, sehingga diperoleh keuntungan dalam satu tahun sebesar Rp 1.713.710.000,00.
6. Investasi yang dijalankan sangat menguntungkan perusahaan karena mempunyai nilai BCR sebesar 3,49 %, nilai PPC 5,99 tahun, dan nilai ATO perusahaan sebesar 0,21 kali, profit margin 75,75 %. Sedangkan ROI sebesar 15,91 % dan nilai EBIT adalah Rp 1.669.630.000,00, sehingga perusahaan mampu untuk berkembang lebih maju lagi.
7. Usaha peternakan ini masih layak untuk diteruskan karena masih menguntungkan.
B. Saran
Saran kami adalah untuk menunjang kegiatan produksi dimasa yang akan datang diusahakan UD. Umbul Jaya bisa menghasilkan suatu produk yang dapat langsung dimanfaatkan oleh konsumen dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Serta menjaga hubungan yang baik dengan warga sekitar lokasi peternakan dengan jalan merekrut pegawai memberikan sosialisasi usaha yang dijalankan terhadap penduduk sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
AAK, 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius.Yogyakarta.
Nur, K.S., 2004. Mengupayakan Usaha Sapi Perah Tetap Bertahan. Poultry Indonesia. Gappi. No 291. Pp 64-65.
Reksohadiprojo, S., 1995 Pengantar Ilmu Peternakan Tropik Edisi 2. BPFE. Yogyakarta.
Santosa, U., 2001. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, S., 1992. Sapi Perah Jenis, Teknis Pemeliharaan Dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kamis, 22 April 2010
Pengawasan Pemasaran Daging di Pasar Gede Solo

PENGAWASAN PEMASARAN DAGING DI PASAR GEDE SOLO
Di pasar Gede terdapat berbagai jenis barang dagangan yang merupakan dagangan unggulan/ciri khas pasar Gede, yaitu : ikan laut, daging babi, daging sapi, ayam goreng ditempat, ayam potong, dan ayam hidup.
Kondisi pemasaran daging di Pasar Gede Solo dapat digambarkan seperti foto di atas.
Kios daging di antaranya yang menjual daging sapi dan daging babi yang ada di Pasar Gede sudah berada pada ruangan tersendiri dipisahkan dengan kios barang kebutuhan rumah tangga yang lainnya seperti sayuran, makanan atau penganan kecil, dan buah-buahan kecuali pada kios daging ayam. Tetapi kios-kios tersebut masih berada dalam satu komplek dengan kios hasil laut. Penempatan daging ayam masih berada dalam satu ruangan dengan bahan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kondisi tersebut menyebabkan kurangnya kebersihan pada daging yang dijual. Sehingga kurang terjaminnya keamanan bagi para konsumen dari produk daging tersebut. Meskipun sebenarnya di setiap kios disediakan ember-ember berisi air tetapi air yang digunakan oleh para pedagang kurang terjamin kebersihannya. Air yang digunakan untuk mencuci daging oleh para pedagang tidak dalam keadaan mengalir dan tidak diganti meskipun kondisi air sudah terlihat keruh. Bahkan ember-ember berisi air tersebut digunakan untuk merendam daging ayam oleh para pedagang.
Selain itu daging yang dijual di Pasar Gede sudah tidak dalam kondisi segar karena ternak tidak dipotong di tempat. Daging yang dijual oleh para pedagang berasal dari RPA dan RPH yang berada di daerah Solo dan Sukoharjo. Bahkan ada pula pedagang nakal yang meletakkan daging-daging siap jual pada keranjang bambu dan diletakkan di bawah meja. Sehingga jelas sekali dari pihak pedagang sendiri kurang bisa menjaga kebersihan daging siap jual.
Dari pihak konsumen sendiri juga kurang adanya kepedulian terhadap kebersihan produk daging yang akan dikonsumsi. Bahkan meskipun di kios penjualan daging sudah diberi plakat petunjuk mengenai daging apa yang dijual oleh pedagang tersebut, konsumen kurang tahu daging apa yang dijual tersebut karena konsumen kurang tahu mengenai ciri-ciri fisik daging yang layak atau ASUH (Aman. Sehat, Utuh, dan Halal) untuk dikonsumsi.
Melihat beberapa kekurangan yang terjadi di Pasar Gede tersebut maka perlu adanya sistem pengawasan pasar yang lebih ketat dari pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) serta Dinas Kesehatan (Dinkes). Penting pula adanya razia dadakan yang dilakukan oleh petugas terhadap pedagang. Perlu juga diadakan sosialisasi kepada para pedagang mengenai penanganan daging segar dan system pemasaran daging yang baik. Selain itu dari pihak pengelola Pasar Gede sebaiknya melengkapi fasilitas bagi para pedagang seperti adanya freezer bagi pedagang daging yang dapat digunakan untuk mempertahankan kesegaran daging yang dijual. Untuk memperbaiki kondisi pemasaran daging di Pasar Gede diperlukan adanya kerjasama yang baik antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan), Dinas Kesehatan (Dinkes), pedagang dan konsumen.
Selasa, 06 April 2010
Pemanfaatan Limbah Peternakan sebagai Biogas
Limbah adalah sesuatu yang tidak mungkin terpisahkan dari industri dan manusia, limbah merupakan momok yang selalu menghantui. Limbah dapat menyebabkab kerusakan lingkungan yang cukup hebat. Itulah sebabnya berbagai upaya dilakukan untuk meredam efek dari limbah, berbagai peraturan ditegakkan untuk menanggulanginya. Tetapi masih saja banyak pelanggaran.
Kalau dikaji limbah-limbah industri ataupun dari manusia sangat jarang yang diolah, dikarenakan instalasi pengolahannya masih tergolong mahal dan tidak menguntungkan bagi pemiliknya. Sehingga cenderung pemilik limbah ini langsung membuang limbah tersebut ke sungai, laut ataupun diresapkan kedalam tanah. Akibatnya sangat luar biasa, pencemaran air sungai maupun air tanah sangat tinggi dan diikuti dengan bau yang kurang sedap. Selanjutnya penyakit akan bertebaran dimana-mana, yang pada akhirnya masyarakat juga yang dirugikan.
Limbah peternakan khususnya ternak sapi merupakan bahan buangan dari usaha peternakan sapi yang selama ini juga menjadi salah satu sumber masalah dalam kehidupan manusia sebagai penyebab menurunnya mutu lingkungan melalui pencemaran lingkungan, menggangu kesehatan manusia dan juga sebagai salah satu penyumbang emisi gas efek rumah kaca. Pada umumnya limbah peternakan hanya digunakan untuk pembuatan pupuk organik. Untuk itu sudah selayaknya perlu adanya usaha pengolahan limbah peternakan menjadi suatu produk yang bisa dimanfaatkan manusia dan bersifat ramah lingkungan.
Pengolahan limbah peternakan melalui proses anaerob atau fermentasi perlu digalakkan karena dapat menghasilkan biogas yang menjadi salah satu jenis bioenergi. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang mahal dan terbatas, mengurangi pencemaran lingkungan dan menjadikan peluang usaha bagi peternak karena produknya terutama pupuk kandang banyak dibutuhkan masyarakat.
MATERI DAN METODE
Biogas merupakan renewable energy yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam (Houdkova et.al., 2008). Biogas juga sebagai salah satu jenis bioenergi yang didefinisikan sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Gas metan ini sudah lama digunakan oleh warga Mesir, China, dan Roma kuno untuk dibakar dan digunakan sebagai penghasil panas. Sedangkan proses fermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan gas metan ini pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta (1776). Hasil identifikasi gas yang dapat terbakar ini dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan Becham (1868) murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882) adalah orang pertama yang memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan gas metan.Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion (Pambudi, 2008). Biogas yang terbentuk dapat dijadikan bahan bakar karena mengandung gas metan (CH4) dalam persentase yang cukup tinggi.
Cara Pembuatan
1. Materi
Biogas atau sering pula disebut gas bio merupakan gas yang timbul jika bahan-bahan seperti kotoran hewan, kotoran manusia, ataupun sampah, direndam di dalam air dan disimpan di tempat tertutup atau anaerob (tanpa oksigen dari udara). Proses kimia terbentuknya gas cukup rumit, tetapi cara menghasilkannya tidak sesulit proses pembentukannya. Hanya dengan teknologi sederhana gas ini dapat dihasilkan dengan baik.
Sumber bahan untuk menghasilkan biogas yang utama adalah kotoran ternak sapi, kerbau, babi, kuda dan unggas; dapat juga berasal dari sampah organik.
Komponen biogas: CH4 (metana) ± 60 % , CO2 (karbon dioksida) ± 38 %, (N2, O2, H2, & H2S) ± 2 % .
2. Metode
Cara Pengoperasian Unit Pengolahan (Digester) Biogas :
a. Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1 : 2 (bahan biogas)
b. Masukkan bahan biogas ke dalam digester melalui lubang pengisian (inlet) hingga bahan yang dimaksukkan ke digester ada sedikit yang keluar melalui lubang pengeluaran (outlet), selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas di dalam digester.
c. Setelah kurang lebih 8 hari biogas yang terbentuk di dalam digester sudah cukup banyak. Pada sistem pengolahan biogas yang menggunakan bahan plastik, penampung biogas akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar, kompor biogas dapat dioperasikan.
d. Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak kira-kira 10 % dari volume digester. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge secara otomatis akan keluar dari lubang pengeluaran (outlet) setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat digunakan sebagai pupuk kandang/pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.
PEMBAHASAN
A. Sejarah Biogas
Sejarah penemuan proses anaerobik digestion untuk menghasilkan biogas tersebar di benua Eropa. Penemuan ilmuwan Volta terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian, Avogadro mengidentifikasikan tentang gas metana. Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion. Tahun 1884 Pasteour melakukan penelitian tentang biogas menggunakan kotoran hewan. Era penelitian Pasteour menjadi landasan untuk penelitian biogas hingga saat ini.
B. Biogas dari Limbah Peternakan Sapi
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Namun di sisi lain perkembangan atau pertumbuhan industri peternakan menimbulkan masalah bagi lingkungan seperti menumpuknya limbah peternakan termasuknya di dalamnya limbah peternakan sapi. Limbah ini menjadi polutan karena dekomposisi kotoran ternak berupa BOD dan COD (Biological/Chemical Oxygen Demand), bakteri patogen sehingga menyebabkan polusi air (terkontaminasinya air bawah tanah, air permukaan), polusi udara dengan debu dan bau yang ditimbulkannya.
Biogas merupakan renewable energy yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam (Houdkova et.al., 2008). Biogas juga sebagai salah satu jenis bioenergi yang didefinisikan sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Gas metan ini sudah lama digunakan oleh warga Mesir, China, dan Roma kuno untuk dibakar dan digunakan sebagai penghasil panas. Sedangkan proses fermentasi lebih lanjut untuk menghasilkan gas metan ini pertama kali ditemukan oleh Alessandro Volta (1776). Hasil identifikasi gas yang dapat terbakar ini dilakukan oleh Willam Henry pada tahun 1806. Dan Becham (1868) murid Louis Pasteur dan Tappeiner (1882) adalah orang pertama yang memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan gas metan. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion (Pambudi, 2008). Biogas yang terbentuk dapat dijadikan bahan bakar karena mengandung gas metan (CH4) dalam persentase yang cukup tinggi.
C. Komponen Penyusun Biogas
Komposisi biogas:
Komponen %
Metana (CH4) 55-75
Karbon dioksida (CO2) 25-45
Nitrogen (N2) 0-0.3
Hidrogen (H2) 1-5
Hidrogen sulfida (H2S) 0-3
Oksigen (O2) 0.1-0.5
Air 2-7 (20-40o C)
Nilai kesetaraan biogas dan energi yang dihasilkan:
Aplikasi 1m3 biogas setara dengan
1 m3 biogas Elpiji 0,46 kg
Minyak tanah 0,62 liter
Minyak solar 0,52 liter
Kayu bakar 3,50 kg
Dapat menghasilkan 1,25 kwh listrik
60—100 watt lampu bohlam selama enam jam
Potensi produksi gas dari berbagai jenis kotoran
Jenis Kotoran Produksi gas per kg (m3)
Sapi/kerbau 0,023 – 0,040
Babi 0,040 – 0,059
Unggas 0,065 – 0,116
Manusia 0,020 – 0,028
D. Keuntungan Penggunaan Biogas
Biogas sebagai salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui dapat menjawab kebutuhan akan energi sekaligus menyediakan kebutuhan hara tanah dari pupuk cair dan padat yang merupakan hasil sampingannya serta mengurangi efek rumah kaca. Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif dapat mengurangi penggunaan kayu bakar. Dengan demikian dapat mengurangi usaha penebangan hutan, sehingga ekosistem hutan terjaga. Biogas menghasilkan api biru yang bersih dan tidak menghasilkan asap.
Energi biogas sangat potensial untuk dikembangkan kerena produksi biogas peternakan ditunjang oleh kondisi yang kondusif dari perkembangkan dunia peternakan sapi di Indonesia saat ini. Disamping itu, kenaikan tarif listrik, kenaikan harga LPG (Liquefied Petroleum Gas), premium, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel dan minyak bakar telah mendorong pengembangan sumber energi elternatif yang murah, berkelanjutan dan ramah lingkungan (Nurhasanah dkk., 2006).
Peningkatan kebutuhan susu dan pencanangan swasembada daging tahun 2010 di Indonesia telah merubah pola pengembangan agribisnis peternakan dari skala kecil menjadi skala menengah/besar. Di beberapa daerah telah berkembang koperasi susu, peternakan sapi pedaging melalui kemitraan dengan perkebunaan kelapa sawit dan sebagainya. Kondisi ini mendukung ketersediaan bahan baku biogas secara kontinyu dalam jumlah yang cukup untuk memproduksi biogas.
Pemanfaatan limbah peternakan khususnya kotoran ternak sapi menjadi biogas mendukung konsep zero waste sehingga sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dapat dicapai.
Beberapa keuntungan penggunaan kotoran ternak sebagai penghasil biogas sebagai berikut :
1. Mengurangi pencemaran lingkungan terhadap air dan tanah, pencemaran udara (bau).
2. Memanfaatkan limbah ternak tersebut sebagai bahan bakar biogas yang dapat digunakan sebagai energi alternatif untuk keperluan rumah tangga.
3. Mengurangi biaya pengeluaran peternak untuk kebutuhan energi bagi kegiatan rumah tangga yang berarti dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.
4. Melaksanakan pengkajian terhadap kemungkinan dimanfaatkannya biogas untuk menjadi energi listrik untuk diterapkan di lokasi yang masih belum memiliki akses listrik.
5. Melaksanakan pengkajian terhadap kemungkinan dimanfaatkannya kegiatan ini sebagai usulan untuk mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism).
E. Pengolahan Biogas
Pengolahan limbah peternakan sapi menjadi biogas pada prinsipnya menggunakan metode dan peralatan yang sama dengan pengolahan biogas dari biomassa yang lain. Adapun alat penghasil biogas secara anaerobik pertama dibangun pada tahun 1900. Pada akhir abad ke-19, riset untuk menjadikan gas metan sebagai biogas dilakukan oleh Jerman dan Perancis pada masa antara dua Perang Dunia. Selama Perang Dunia II, banyak petani di Inggris dan Benua Eropa yang membuat alat penghasil biogas kecil yang digunakan untuk menggerakkan traktor. Akibat kemudahan dalam memperoleh BBM dan harganya yang murah pada tahun 1950-an, proses pemakaian biogas ini mulai ditinggalkan. Tetapi, di negara-negara berkembang kebutuhan akan sumber energi yang murah dan selalu tersedia selalu ada. Oleh karena itu, di India kegiatan produksi biogas terus dilakukan semenjak abad ke-19. Saat ini, negara berkembang lainnya, seperti China, Filipina, Korea, Taiwan, dan Papua Nugini telah melakukan berbagai riset dan pengembangan alat penghasil biogas. Selain di negara berkembang, teknologi biogas juga telah dikembangkan di negara maju seperti Jerman.
Pada prinsipnya teknologi biogas adalah teknologi yang memanfaatkan proses fermentasi (pembusukan) dari sampah organik secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri metan sehingga dihasilkan gas metan (Nandiyanto, 2007). Menurut Haryati (2006), proses pencernaan anaerobik merupakan dasar dari reaktor biogas yaitu proses pemecahan bahan organik oleh aktifitas bakteri metanogenik dan bakteri asidogenik pada kondisi tanpa udara, bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga. Gas metan adalah gas yang mengandung satu atom C dan 4 atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Gas metan yang dihasilkan kemudian dapat dibakar sehingga dihasilkan energi panas. Bahan organik yang bisa digunakan sebagai bahan baku industri ini adalah sampah organik, limbah yang sebagian besar terdiri dari kotoran dan potongan-potongan kecil sisa-sisa tanaman, seperti jerami dan sebagainya serta air yang cukup banyak.
Jika dilihat dari segi pengolahan limbah, proses anaerobik juga memberikan beberapa keuntungan lain yaitu menurunkan nilai COD dan BOD, total solid, volatile solid, nitrogen nitrat dan nitrogen organic, bakteri coliform dan patogen lainnya, telur insek, parasit, dan bau.
Proses pencernaan anaerobik, yang merupakan dasar dari reaktor biogas yaitu proses pemecahan bahan organik oleh aktifitas bakteri metanogenik dan bakteri asidogenik pada kondisi tanpa udara. Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga.
Pembentukan biogas meliputi tiga tahap proses yaitu:
1. Hidrolisis, pada tahap ini terjadi penguraian bahan-bahan organik mudah larut dan pemecahan bahan organik yang komplek menjadi sederhana dengan bantuan air (perubahan struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer).
2. Pengasaman, pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari perombakan gula-gula sederhana tadi yaitu asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan ammonia.
3. Metanogenik, pada tahap metanogenik terjadi proses pembentukan gas metan. Bakteri pereduksi sulfat juga terdapat dalam proses ini yang akan mereduksi sulfat dan komponen sulfur lainnya menjadi hydrogen sulfida.
Cara Pengoperasian Unit Pengolahan (Digester) Biogas seperti terjabar dalam Seri Bioenergi Pedesaan Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian tahun 2009 sebagai berikut :
1. Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1 : 2 (bahan biogas).
2. Masukkan bahan biogas ke dalam digester melalui lubang pengisian (inlet) hingga bahan yang dimasukkan ke digester ada sedikit yang keluar melalui lubang pengeluaran (outlet), selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas di dalam digester.
3. Setelah kurang lebih 8 hari biogas yang terbentuk di dalam digester sudah cukup banyak. Pada sistem pengolahan biogas yang menggunakan bahan plastik, penampung biogas akan terlihat mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Biogas sudah dapat digunakan sebagai bahan bakar, kompor biogas dapat dioperasikan.
4. Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak kira-kira 10% dari volume digester. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge secara otomatis akan keluar dari lubang pengeluaran (outlet) setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas tersebut dapat digunakan sebagai pupuk kandang/pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun kering.
Biogas yang dihasilkan dapat ditampung dalam penampung plastik atau digunakan langsung pada kompor untuk memasak, menggerakan generator listrik, patromas biogas, penghangat ruang/kotak penetasan telur dan lain sebagainya.
Untuk memanfaatkan kotoran ternak sapi menjadi biogas, diperlukan beberapa syarat yang terkait dengan aspek teknis, infrastruktur, manajemen dan sumber daya manusia. Bila faktor tersebut dapat dipenuhi, maka pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas sebagai penyediaan energi di pedesaan dapat berjalan dengan optimal.
Terdapat sepuluh faktor yang dapat mempengaruhi optimasi pemanfaatan kotoran ternak sapi menjadi biogas yaitu:
1. Ketersediaan ternak
Jenis jumlah dan sebaran ternak di suatu daerah dapat menjadi potensi bagi pengembangan biogas. Hal ini karena biogas dijalankan dengan memanfaatkan kotoran ternak. Kotoran ternak yang dapat diproses menjadi biogas berasal dari ternak ruminansia dan non ruminansia seperti sapi potong, sapi perah dan babi; serta unggas.
Jenis ternak mempengaruhi jumlah kotoran yang dihasilkannya. Untuk menjalankan biogas skala individual atau rumah tangga diperlukan kotoran ternak dari 3 ekor sapi, atau 7 ekor babi, atau 400 ekor ayam.
2. Kepemilikan Ternak
Jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak menjadi dasar pemilihan jenis dan kapasitas biogas yang dapat digunakan. Saat ini biogas kapasitas rumah tangga terkecil dapat dijalankan dengan kotoran ternak yang berasal dari 3 ekor sapi atau 7 ekor babi atau 400 ekor ayam. Bila ternak yang dimiliki lebih dari jumlah tersebut, maka dapat dipilihkan biogas dengan kapasitas yang lebih besar (berbahan fiber atau semen) atau beberapa biogas skala rumah tangga.
3. Pola Pemeliharaan Ternak
Ketersediaan kotoran ternak perlu dijaga agar biogas dapat berfungsi optimal. Kotoran ternak lebih mudah didapatkan bila ternak dipelihara dengan cara dikandangkan dibandingkan dengan cara digembalakan.
4. Ketersediaan Lahan
Untuk membangun biogas diperlukan lahan disekitar kandang yang luasannya bergantung pada jenis dan kapasitas biogas. Lahan yang dibutuhkan untuk membangun biogas skala terkecil (skala rumah tangga) adalah 14 m2 (7m x 2m). Sedangkan skala komunal terkecil membutuhkan lahan sebesar 40m2 (8m x 5m).
5. Tenaga Kerja
Untuk mengoperasikan biogas diperlukan tenaga kerja yang berasal dari peternak/pengelola itu sendiri. Hal ini penting mengingat biogas dapat berfungsi optimal bila pengisian kotoran ke dalam reaktor dilakukan dengan baik serta dilakukan perawatan peralatannya.
Banyak kasus mengenai tidak beroperasinya atau tidak optimalnya biogas disebabkan karena: pertama, tidak adanya tenaga kerja yang menangani unit tersebut; kedua, peternak/pengelola tidak memiliki waktu untuk melakukan pengisian kotoran karena memiliki pekerjaan lain selain memelihara ternak.
6. Manajemen Limbah/Kotoran
Manajemen limbah/kotoran terkait dengan penentuan komposisi padat cair kotoran ternak yang sesuai untuk menghasilkan biogas, frekuensi pemasukan kotoran, dan pengangkutan atau pengaliran kotoran ternak ke dalam raktor.
Bahan baku (raw material) reaktor biogas adalah kotoran ternak yang komposisi padat cairnya sesuai yaitu 1 berbanding 2. Pada peternakan sapi perah komposisi padat cair kotoran ternak biasanya telah sesuai, namun pada peternakan sapi potong perlu penambahan air agar komposisinya menjadi sesuai.
Frekuensi pemasukan kotoran dilakukan secara berkala setiap hari atau setiap 2 hari sekali tergantung dari jumlah kotoran yang tersedia dan sarana penunjang yang dimiliki. Pemasukan kotoran ini dapat dilakukan secara manual dengan cara diangkut atau melalui saluran.
7. Kebutuhan Energi
Pengelolaan kotoran ternak melalui proses reaktor an-aerobik akan menghasilkan gas yang dapat digunakan sebagai energi. Dengan demikian, kebutuhan peternak akan energi dari sumber biogas harus menjadi salah satu faktor yang utama. Hal ini mengingat, bila energi lain berupa listrik, minyak tanah atau kayu bakar mudah, murah dan tersedia dengan cukup di lingkungan peternak, maka energi yang bersumber dari biogas tidak menarik untuk dimanfaatkan.Bila energi dari sumber lain tersedia, peternak dapat diarahkan untuk mengolah kotoran ternaknya menjadi kompos atau kompos cacing (kascing).
8. Jarak (kandang-reaktor biogas-rumah)
Energi yang dihasilkan dari reaktor biogas dapat dimanfaatkan untuk memasak, menyalakan petromak, menjalankan generator listrik, mesin penghangat telur/ungas dll. Selain itu air panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk proses sanitasi sapi perah.Pemanfaatan energi ini dapat optimal bila jarak antara kandang ternak, reaktor biogas dan rumah peternak tidak telampau jauh dan masih memungkinkan dijangkau instalasi penyaluran biogas. Karena secara umum pemanfaatan energi biogas dilakukan di rumah peternak baik untuk memasak dan keperluan lainnya.
9. Pengelolaan Hasil Samping Biogas
Pengelolaan hasil samping biogas ditujukan untuk memanfaatkannya menjadi pupuk cair atau pupuk padat (kompos). Pengeolahannya relatif sederhana yaitu untuk pupuk cair dilakukan fermentasi dengan penambahan bioaktivator agar unsur haranya dapat lebih baik, sedangkan untuk membuat pupuk kompos hasil samping biogas perlu dikurangi kandungan airnya dengan cara diendapkan, disaring atau dijemur.
Pupuk yang dihasilkan tersebut dapat digunakan sendiri atau dijual kepada kelompok tani setempat dan menjadi sumber tambahan pandapatan bagi peternak.
10. Sarana Pendukung
Sarana pendukung dalam pemanfaatan biogas terdiri dari saluran air/drainase, air dan peralatan kerja. Sarana ini dapat mempermudah operasional dan perawatan instalasi biogas. Saluran air dapat digunakan untuk mengalirkan kotoran ternak dari kandang ke reaktor biogas sehingga kotoran tidak perlu diangkut secara manual. Air digunakan untuk membersihkan kandang ternak dan juga digunakan untuk membuat komposisi padat cair kotoran ternak yang sesuai. Sedangkan peralatan kerja digunakan untuk mempermudah/meringankan pekerjaan/perawatan instalasi biogas.
11. Pupuk dari limbah biogas
Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah dan padi. Slurry kotoran sapi mengadung 1,8 - 2,4% nitrogen, 1,0 - 1,2% fosfor (P205), 0,6 - 0,8% potassium (K20), dan 50 - 75% bahan organik .
Digester Biogas
Salah satu hal terpenting dalam membuat biogas adalah memilih digester. Ada 3 tipe digester gas bio yang dikembangkan selama ini, yaitu:
1) Fixed dome plant, yang dikembangkan di China,
Pada fixed dome plant, digesternya tetap. Penampung gas ada pada bagian atas digester. Ketika gas mulai timbul, gas tersebut menekan slurry ke bak slurry. Jika pasokan kotoran ternak terus menerus, gas yang timbul akan terus menekan slurry hingga meluap keluar dari bak slurry. Gas yang timbul digunakan/dikeluarkan lewat pipa gas yang diberi katup/kran.
Keuntungan: tidak ada bagian yang bergerak, awet (berumur panjang), dibuat di dalam tanah sehingga terlindung dari berbagai cuaca atau gangguan lain dan tidak membutuhkan ruangan (diatas tanah).
Kerugian: Kadang-kadang timbul kebocoran, karena porositas dan retak-retak, tekanan gasnya berubah-ubah karena tidak ada katup tekanan.
2) Floating drum plant yang lebih banyak dipakai di India dengan varian plastic cover biogas plant.
Floating drum plant terdiri dari satu digester dan penampung gas yang bisa bergerak. Penampung gas ini akan bergerak keatas ketika gas bertambah dan turun lagi ketika gas berkurang, seiring dengan penggunaan dan produksi gasnya.
Keuntungan: Tekanan gasnya konstan karena penampung gas yang bergerak mengikuti jumlah gas. Jumlah gas bisa dengan mudah diketahui dengan melihat naik turunya drum.
Kerugian: Konstruksi pada drum agak rumit. Biasanya drum terbuat dari logam (besi), sehingga mudah berkarat, akibatnya pada bagian ini tidak begitu awet (sering diganti). Bahkan jika digesternya juga terbuat dari drum logam (besi), digeseter tipe ini tidak begitu awet.
3) Plug-flow plant atau balloon plant yang banyak di buat di Taiwan, Etiopia, Kolombia Vietnam dan Kamboja.
Konstruksi balloon plant lebih sederhana, terbuat dari plastic yang pada ujung-ujungnya dipasang pipa masuk untuk kotoran ternak dan pipa keluar peluapan slurry. Sedangkan pada bagian atas dipasang pipa keluar gas.
Keuntungan: biayanya murah, mudah diangkut, konstruksinya sederhana, mudah pemeliharaan dan pengoperasiannya.
Kerugian: tidak awet, mudah rusak, cara pembuatan harus sangat teliti dan hati-hati (karena bahan mudah rusak), bahan yang memenuhi syarat sulit diperoleh.
Bagian-bagian pokok digester gas bio adalah:
1) bak penampung kotoran ternak,
2) digester,
3) bak slurry,
4) penampung gas,
5) pipa gas keluar,
6) pipa keluar slurry,
7) pipa masuk kotoran ternak.
F. Potensi Pengembangan Biogas dari Limbah Peternakan Sapi di Indonesia
Pada umumnya peternak sapi di Indonesia mempunyai rata- rata 2 – 5 ekor sapi dengan lokasi yang tersebar tidak berkelompok. Sehingga penanganan limbahnya baik itu limbah padat, cair maupun gas seperti feses dan urin maupun sisa pakan dibuang ke lingkungan sehingga menyebabkan pencemaran. Pengolahan limbah secara sederhana hanya dengan pemanfaatannya sebagai pupuk organik (Deptan, 2006).
Diketahui sapi dengan bobot 450 kg menghasilkan limbah berupa feses dan urin lebih kurang 25 kg per hari (Deptan, 2006). Dan apabila tidak dilakukan penanganan secara baik maka akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan udara, tanah dan air serta penyebaran penyakit menular. Sehingga sangat diperlukan usaha untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan peternakan sapi salah satunya dengan melakukan penanganan yang baik terhadap limbah yang dihasilkan melalui biogas.
Hasil biogas dari rata 3 – 5 ekor sapi tersebut setara dengan 1-2 liter minyak tanah/hari (Deptan, 2006). Dengan demikian keluarga peternak yang sebelumnya menggunakan minyak tanah untuk memasak bisa menghemat penggunaan minyak tanah 1-2 liter/hari. Pemanfaatan biogas di Indonesia sebagai energi alternatif sangat memungkinkan untuk diterapkan di masyarakat, apalagi sekarang ini harga bahan bakar minyak yang makin mahal dan kadang-kadang langka keberadaannya. Besarnya potensi Limbah biomassa padat di seluruh Indonesia seperti kayu dari kegiatan industri pengolahan hutan, pertanian dan perkebunan; limbah kotoran hewan, misalnya kotoran sapi, kerbau, kuda, dan babi juga dijumpai di seluruh provinsi Indonesia dengan kualitas yang berbeda-beda.
Teknologi biogas adalah suatu teknologi yang dapat digunakan dimana saja selama tersedia limbah yang akan diolah dan cukup air. Di negara maju perkembangan teknologi biogas sejalan dengan perkembangan teknologi lainnya. Untuk kondisi di Indonesia, teknologi biogas dapat dibangun dengan kepemilikan kolektif dan dipelihara secara bersama. Seperti yang dicanangkan oleh Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Republik Indonesia melalui program Pengembangan Biogas Ternak bersama Masyarakat (BATAMAS) yang dimulai pada tahun 2006.
Beberapa alasan mengapa biogas belum popular penggunaannya di kalangan peternak atau kalaupun sudah ada banyak yang tidak lagi beroperasi, yaitu kurang sosialisasi, teknologi yang diterapkan kurang praktis dan perlu pemeliharaan yang seksama dan kurangnya pengetahuan para petani tentang pemeliharaan digester.
Teknologi biogas dapat dikembangkan dengan input teknologi yang sederhana dengan bahan-bahan yang tersedia di pasaran lokal. Energi biogas juga dapat diperoleh dari air buangan rumah tangga; kotoran cair dari peternakan ayam, babi; sampah organik dari pasar, industri makanan dan sebagainya.
Disamping itu, usaha lain yang dapat bersinergi dengan kegiatan ini adalah peternakan cacing untuk pakan ikan/unggas, industri tahu/tempe dapat menghasilkan ampas tahu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan sapi dan limbah cairnya sebagai bahan input produksi biogas. Industri kecil pendukung juga dapat berkembang, seperti industri bata merah, industri kompor gas, industri lampu penerangan, pemanas air dan sebagainya. Sehingga pengembangan teknologi biogas secara langsung maupun tidak langsung diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan.
Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi pada industri kecil berbasis pengolahan hasil pertanian dapat memberikan multiple effect dan dapat menjadi penggerak dinamika pembangunan pedesaan. Selain itu, dapat juga dipergunakan untuk meningkatkan nilai tambah dengan cara pemberian green labelling pada produk-produk olahan yang di proses dengan menggunaan green energy.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Pengolahan Limbah Ternak menjadi Biogas. http://gayul.wordpress.com/. Diakses pada hari Senin, 22 Maret 2010 jam 14.00 WIB.
Anonim, 2010. Biogas.
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Istimewa:Masuk_log&returnto=Biogas. Diakses pada hari Rabu, 24 Maret 2010 jam 17.00 WIB.
Anonim. 2010. Cara Membuat Biogas dari Kotoran Sapi. http://pb-jlarem.blogspot.com/2010/02/cara-membuat-biogas-dari-kotoran-sapi.html. Diakses pada hari Rabu, 24 Maret 2010 jam 17.10 WIB.
Departemen Pertanian. 2009. Pemanfaatan Limbah dan Kotoran Ternak menjadi Energi Biogas. Seri Bioenergi Perdesaan: Direktorat Pengolahan Hasil Pertanian. Departemen Pertanian
Haryati, Tuti. 2006. Biogas: Limbah Peternakan yang Menjadi Sumbar Energi Alternatif. Wartazoa Vol 16 no 3 tahun 2006.
Personalia Perusahaan
PERSONALIA PERUSAHAAN
Jurusan/Program Studi Peternakan
Oleh:
1. Febri Isra H H0507000
2. Kurniasih N H0507000
3. Hary Setiawan H0507044
4. Muji Sumiyati H0507054
5. Novi Dwi I H0507056
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
PENDAHULUAN
Manajemen sumber daya manusia merupakan manajemen yang khusus mempelajari bidang personalia atau kepegawaian. Oleh sebab itu, manajemen personalia dapat diberikan pengertian sebagai berikut; suatu ilmu dan seni untuk melaksanakan antara lain planning, organizing, controlling, sehingga efektifitas dan efisiensi personalia dapat ditingkatkan semaksimal mungkin.
Memang sukses tidaknya suatu perusahaan atau instansi tidak hanya tergantung pada kegiatan bidang personalia, tetapi peranannya cukup besar. Namun sebenarnya, manajemen personalia telah diterapkan oleh nenek moyang kita, hal ini ditandai dengan bangunan Borobudur, Piramida di Mesir, dan sebagainya. Karena situasi dan kondisi berubah serta kebutuhan mendesak sejak abad ke 20, manajemen personalia mulai dikembangkan dan diusahakan untuk diterapkan.
ISI
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Sementara itu, Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal; dalam berbagai bidang seperti industri, pendidikan, kesehatan, bisnis, finansial dan sebagainya. Dengan kata lain efektif menyangkut tujuan dan efisien menyangkut cara dan lamanya suatu proses mencapai tujuan tersebut.
Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya. Pada umumnya ada empat (4) fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.
Ilmu manajemen merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang disistemisasi, dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap penyelesaian masalah dalam manajemen. Namun selain itu, beberapa ahli seperti Follet menganggap manajemen adalah sebuah seni. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan memerlukan kharisma, stabilitas emosi, kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antara manusia yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan sulit dipelajari.
Dalam makalah ini, akan diberikan gambaran mengenai pembahasan-pembahasan tentang Manajemen Personalia, yang ada antara lain :
1. Analisa jabatan
2. Seleksi
3. Latihan
4. Mutasi
5. Promosi
6. Kompensasi
7. Semangat dan kegairahan kerja
8. Pemutusan hubungan kerja
PEMBAHASAN
Sebenarnya manajemen personalia adalah manajemen yang mengkhususkan diri dalam bidang personalia atau dalam kepegawaiaan. Oleh karena itulah manajemen personalia dapat didefenisikan sebagai berikut: Manajemen personalia adalah suatu ilmu dan seni untuk melaksanakan antara lain planning, organizing dan kontroling sehingga efektifitas dan efisiensi personalia dapat ditingkatkan semaksimal mungkin. Memang harus kita ketahui bahwa sukses tidaknya suatu perusahaan/instansi tidak hanya tergantung dari kegiatan dalam bidang personalia, meskipun demikian peranan manajemen personalia cukup besar andilnya terhadap sukses tidaknya perusahaan tersebut.
Manajemen personalia telah dilaksanakan sejak dulu oleh nenek moyang kita, hal ini terbukti dengan adanya bangunan seperti Borobudur, Piramid di Mesir dan sebagainya. Meskipun demikian karena situasi dan kondisi berubah serta kebutuhan yang mendesak, maka sejak abad ke-20 manajemen personalia mulai dikembangkan dan diusahakan untuk diterapkan.
Untuk dapat mengembangkan manajemen personalia maka kita harus sadar bahwa manusia bukanlah benda mati sebab manusia mempunyai perasaan, mereka dapat gembira dan sakit hati , mereka dapat senan dan susah , mereka bukan hanya memerlukan kebutuhan materi tetapi juga mereka juga sering mengharapkan penghargaan dan pengakuaan .
Tugas-tugas manajemen personalia adalah mencakup:
1. Menetapkan analisa jabatan
2. Menarik karyawan
3. Seleksi
4. Melatih
5. Menempatkannya
6. Memberikan kompensasi yang adil dan merata
7. Memotivasi karyawan
A. ANALISA JABATAN
Analisa jabatan/job analysis adalah suatu kegiatan untuk memberikan analisa pada setiap jabatan sehingga dengan demikian akan memberikan pula gambaran tentang syarat-syarat yang diperlukan bagi setiap karyawan untuk jabatan tertentu. Hal ini berarti akan merupakan landasan atau pedoman untuk penerimaan dan penempatan karyawan, di samping sebagai landasan atau pedoman kegiatan lainnya dalam bidang manajemen personalia.
Sebenarnya analisa jabatan adalah juga merupakan informasi tentang jabatan itu sendiri dan syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat memangku jabatan tersebut dengan baik. Tentang jabatan itu sendiri ditunjukan dalam gambaran jabatan atau deskripsi jabatan sedangkan tentang syarat-syarat yang diperlukanh informasi jabatan ditujunjukan dalam syarat-syarat jabatan. Dengan demikian berarti pengertian analisa jabatan yang pokok terdiri dari 2 hal yaitu:
1. Deskripsi jabatan /job description
2. Syarat-syarat jabatan/job specification
Deskripsi jabatan adalah penjelasan tentang suatu jabatan, tugas-tugasnya, tanggung jawabnya, wewenangnya dan sebagainya.
Syarat-syarat jabatan dibuat berdasarkan skripsi jabatan jadi syarat jabatan adalah merupakan suatu informasi tentang syarat-syarat yang diperlukan. Untuk membuat deskripsi jabatan agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran serta dobel pekerjaan, maka dalam membuat deskripsi jabatan tidak boleh dilepaskan dengan deskripsi jabatan keseluruhan jabatan.
Analisa jabatan sebenarnya dapat dipakai juga sebagai landasan atau pedoman untuk penerimaan dan penempatan karyawan serta penentuan jumlah kebutuhan karyawan. Selain sebagai landasan hal-hal tersebut di atas, maka analisa jabatan dapat juga dipakai sebagai landasan kegiatan-kegiatan lain dalam bidang personalia, yang diantaranya:
1. Sebagai landasan untuk melaksanakan mutasi
2. Sebagai landasan untuk melaksanakan promosi
3. Sebagai landasan untuk melaksanakan latihan/training
4. Sebagai landasan untuk melaksanakan kompensasi
5. Sebagai landasan untuk melaksanakan syarat-syarat lingkungan kerja
6. Sebagai landasan untuk melaksanakan pemenuhan kebutuhan peralatan
B. SELEKSI
Seleksi adalah kegiatan suatu perusahaan untuk dapat memilih karyawan yang palinmg tepat dan dalam jumlah yang tepat pula dari calon-calon yang dapat ditariknya. Untuk dapat memilih karyawan yang paling tepat dan dalam jumlah yang tepat pula, maka diperlukan suatu metode seleksi yang tepat pula.
Seleksi berhubungan erat dengan analisa jabatan. Hal ini terjadi karena karyawan atau pegawai yang diseleksi tersebut harus disesuaikan dengan analisa jabatan yang telah dilakukan sebelumnya. Adapun hal-hal yang diseleksi meliputi:
a. Pendidikan
b. Pengalaman
c. Pengetahuan
d. Kecerdasan
e. Kesehatan
f. Umur
g. Bakat
h. Kepribadian
i. Jenis kelamin, dan lain sebagainya
Setiap perusahaan harus dapat melakukan seleksi secara efeksif dan efisien, dengan demikian metode seleksi yang dilaksanakan tersebut harus dapat memilih atau menetapkan karyawan yagn paling tepat. Meskipun demikian amsalah efisiensi dalam pelaksanaan metode seleksipun perlu diperhatikan. Efisiensi di sini adalah dalam arti pengorbanan uang, energi, waktu dan sebagainya.
Dalam melakukan seleksi perlu memperhatikan beberapa hal yaitu :
a. Seleksi harus efektif dan efisien
b. Seleksi harus memperhatikan peraturan dan ketentuan pemerintah yang berlaku
c. Petugas seleksi harus jujur dan efektif
d. Keahlian petugas seleksi tidak boleh diabaikan
e. Pengertian "orang yang tepat pada tempat yang tepat" harus diartikan secara dinamis
Bagaimanapun usaha kita dalam melakukan seleksi masih ada kemungkinan terjadi kekeliruan, maka perlu adanya masa percobaan untuk mengurangi resiko yang mungkin timbul.
C. LATIHAN
Latihan/training adalah suatu kegiatan dari perusahaan yang bermaksud untuk dapat emperbaiki dan memperkembangkan sikap tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dari para karyawan sesuai dengan keinginan dari perusahaan yang bersangkutan. Proses latihan dilaksanakan setelah terjadi penerimaan karyawan sebab latihan hanya diberikan pada karyawan dari perusahaan yang bersangkutan.
Sebenarnya peranan latihan saat ini makin menonjol setelah ada kecendrungan bagi perusahaan untuk menerima juga karyawan yang belum berpengalaman. Ini mungkin berdasarkan pertimbangan bahwa cara ini mungkin lebih baik. Ataupun mungkin pertimbangan bahwa usaha mendapatkan karyawan yang sudah berpengalaman agak sulit karena pada umumnya mereka sudah bekerja pada perusahaan yang lain.
Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai dengan mengadakan latihan yang antara lain sebagai berikut:
a. Pekerjaan diharapkan lebih cepat dan lebih baik
b. Penggunaan bahan dapat lebih hemat
c. Penggunaan mesin dan peralatan diharapkan dapat lebih lama
d. Angka kecelakaan diharapkan lebih kecil
e. Tanggung jawab diharapkan lebih besar
f. Biaya produksi diharapkan lebih rendah
g. Kelangsungan perusahaan diharapkan lebih terjamin
Keuntungan yang dapat diperoleh dengan latihan adalah sebagai berikut:
a. Mengurangi pengawasan
b. Meningkatkan rasa harga diri
c. Meningkatkan kerja sama antar pegawai
d. Memudahkan pelaksanaan mutasi dan promosi
e. Memudahkan pelaksanaan pendelegasian wewenang
Dalam melaksanakan latihan, pasti memiliki efek samping yang timbul yang tidak diingini yaitu:
a. Hilangnya sebagian waktu yang produktif
b. Biaya yang terlalu tinggi
c. Harapan dari karyawan yang terlalu besar
d. Berpindahnya karyawan yang telah mendapat latihan.
Dalam pelaksanaan latihan tidak ada ketentuan secara mutlak mana yang lebih baik antara melaksanakan latihan/training sendiri atau menyerahkan latihan tersebut kepada pihak ketiga seperti yang banyak dilakukan oleh perusahaan pada saat ini. Karena semua itu tergantung pada situasi dan kondisi serta tujuan masing-masing.
Suatu metode yang tepat misalnya akan sia-sia apabila instrukturnya tidak dapat menyampaikan pelajaran-pelajaran dengan baik kepada mereka yang diajar. Oleh karena itu dalam penyelenggaraan latihan kita harus hati-hati dalam memilih instruktur.
D. MUTASI
Mutasi adalah merupakan suatu kegiatan rutin dari suatu perusahaan untuk dapat melaksanakan prinsip "the right man on the right place". Dengan demikian mutasi yang dijalankan oleh perusahaan agar pekerjaan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.
Untuk melaksanakan mutasi antara lain dapat didasarkan kepada alasan yaitu: kemampuan kerja, rasa tanggung jawab, kesenangan dan sebagainya. Agar mutasi dan pemindahan yang kita laksanakan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi maka perlu adanya evaluasi pada setiap pekerja terus menerus secara obyektif.
Untuk pelaksanaan harus didasarkan pada pertimbangan yang matang, sebab bila tidak demikian maka mutasi yang dilakukan itu bukannya merupakan tindakan yang menguntungkan tetapi justru merugikan perusahaan tersebut. Dalam melaksanakan mutasi maka perusahaan tersebut harus mengusahakan sedemikian rupa, sehingga mutasi tersebut tidaklah dirasakan sebagai suatu hukuman oleh karyawan yang bersangkutan.
Dalam rangka usaha untuk memacu persaingan sehat agar para karyawan lebih berprestasi dalam kerjanya, maka kita dapat melaksanakan mutasi agar persaingan sehat dpat tercapai. Dalam rangka tujuan jangka panjang, maka mutasi hendaknya ditujukan untuk persiapan daloam pelaksanaan promosi, sehingga untuk itu pemilihan orang yang akan dipromosikan adalah kader-kader yang akan dipromosikan.
Karena pelaksanaan mutasi menyangkut bidang-bidang lain secara berantai, maka dalam melaksanakan mutasi hendaknya secara terkoordinir.
E. PROMOSI
Promosi dan mutasi adalah kedua-duanya merupakan pemindahan karyawan dari suatu jabatan ke jabatan yang lain. Promosi adalah proses kegiatan pemindahan karyawan dari suatu jabatan ke jabatan yang lain yang lebih tinggi.
Pada umumnya promosi selalu diikuti oleh tugas, tanggung jawab dan wewenang yang lebih tinggi dari jabatan yang diduduki sebelumnya, dan pada umumnya promosi juga diikuti oleh peningkatan income serta fasilitas-fasilitas yang lain. Dalam pelaksanaan promosi harus memperhatikan syarat-syarat tertentu antara lain pengalaman, tingkat pendidikan, loyalitas, kejujuran dan sebagainya.
Agar promosi yang dilakukan tidak terjadi kesalahan maka evaluasi harus dilakukan secara rutin, lengkap dan obyektif, dan agar dalam pelaksanaan promosi moral yang tinggi selalu dapat terjaga,maka hendaknya dapat selalu ditetapkan syarat-syarat promosi yang tegas dan jelas.
Pelaksanaan promosi juga memiliki efek samping, yang kadang kala tidak bisa dihindarkan. Adapun efek samping tersebut yaitu:
a. Timbulnya kesalahan dalam promosi
b. Adanya ras iri hati antar pegawai yang dipromosikan dengan yang tidak dipromosikan
c. Berkesan pelaksanaan promosi yang dipaksakan
Adapun syarat-syarat yang perlu ditetapkan dalam melaksanakan promosi yaitu:
a. Pengalaman
b. Tingkat pendidikan
c. Loyalitas
d. Kejujuran
e. Tanggung jawab
f. Kepandaian bergaul
g. Prestasi kerja
h. Inisiatif dan kreatif
Syarat-syarat promosi ini harus dinyatakan secara tegas. Untuk dapat dipromosikan maka perlu setiap karyawan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Syarat-syarat tesebut hendaknya menjamin kestabilan perusahaan dan mampu meningkatkan moral kerja dari para karyawannya. Selain itu dengan penetapan syarat-syarat yang tegas dan jelas, akan dapat mencegah dan meminimalkan kemungkinan timbulnya pilih kasih di dalam melaksanakan promosi.
F. KOMPENSASI
Kompensasi adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada para karyawannya yang dapat dinilai dengan uang dan mempunyai kecendrungan diberikan secara tetap. Kompensasi ini adalah merupakan masalah yang penting karena justru adanya kompensasi seseorang mau menjadi karyawan dari suatu perusahaan tetentu.
Masalah kompensasi bukan hanya penting karena merupakan dorongan utama seseorang menjadi karyawan, tetapi besar pula pengaruhnya terhadap semangat dan kegairahan kerja mereka. Agar kompensasi yang diberikan mempunyai dampak yang positif maka minimal jumlah yang diberikan haruslah dapat memenuhi kebutuhan secara minimal, serta sesuai dengan peraturan yang sedang berlaku.
Selain harus dapat memenuhi kebutuhan minimal, maka kompensasi yang diberi hendaknya dapat mengikat mereka, sebeb dengan demikian peraturan keluar masuknya karyawan dapat ditekan sekecil mungkin. Kompensasi yang diberikan harus mampu pula meningkatkan semangat dan kegairahan kerja, sehingga efektivitas dan efisiensi karyawan dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Untuk dapat meningkatkan semangat dan kegairahan kerja maka dalam menetapkan jumlah kompensasi haus selalu bersifat dinamis, artinya sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi.
Suatu kompensasi yang dirasakan tidak adil dapat menimbulkan keresahan dengan akibatnya, meskipun dibandingkan dengan perusahaan yang lain jumlah kompensasi yang diberikan telah lebih tinggi.
Biasanya kompensasi yang diberikan didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yaitu:
a. Berat ringannya pekerjaan
b. Sulit mudahnya pekerjaan
c. Besar kecilnya resiko pekerjaan
d. Perlu tidaknya keterampilan dalam pekerjaan
G. SEMANGAT DAN KEGAIRAHAN KERJA
Semangat dan kegairahan kerja pada hakekatnya adalah merupakan perwujudan dari moral yang tinggi. Bahkan ada yang mengidentikan atau menterjemahkan secara bebas, moral kerja yang tinggi adalah semangat dan kegairahan kerja.
Semangat kerja adalah melakukan pekerjaan secara lebih giat. Sedang kegairahan kerja adalah kesenangan kerja yang mendalam terhadap pekerjaan. Bahkan turunnya/rendahnya semangat dan kergairahan kerja sebenarnya dapat diketahui dengan jalan melihat indikasi-indikasi yang mungkin yang mungkin timbul yaitu antara lain turun/rendahnya produktivits kerja, tingkat absensi yang naik/tinggi dan sebagainya. Sebab turunnya semangat dan kegairahan kerja harus kita ketahui sebab dengan demikian dapat meningkatkan kegairah kerja.
Pada umumnya turunnya semangat dan kegairahan kerja karena ketidakpuasan pegawai/karyawan yang bersangkutan baik secara materi maupun non materi. Untuk dapat meningkatkan semangat dan kegairahan kerja maka dapat dilakukan antara lain dengan dengan jalan: memberikan gaji cukup, memperhatikan kebutuhan rohani, memberikan kesempatan pada mereka untuk maju, sekali perlu menciptakan suasana santai, harga diri perlu mendapatkan perhatian, tmpatkan para karyawan pada posisi yang tepat, berikan kesempatan kepada mereka untuk maju, perasaan aman untuk menghadapi masa depan, usahan para karyawan memiliki loyalitas, pemberian insentif yang terarah, fasilitas yang menyenangkan dan sebagainya.
H. PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA
Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian dapat terjadi setelah karyawan dapat diterima dalam perusahaan tersebut kemudian keluar atau dikeluarkan. Pemutusan hubungan kerja pada prinsipnya dapat terjadi karena salah satu atau kedua belah pihak merasa rugi bilamana hubungan kerja tersebut dilanjutkan. Pemutusan hubungan kerja membawa akibat beban kewajiban pada perusahaan yang bersangkutan. Meskipun demikian tidak semua pemutusan hubungan kerja memberikan beban kewajiban kepada perusahaan.
Sebenarnya kalau kita meneliti secara lebih lanjut, maka pemutusan hubungan kerja bagaimanapun akibatnya akan tetap merugikan perusahaan atau instansi tersebut. Untuk memperkecil resiko akibat pemutusan hubungan kerja, maka perusahaan tersebut dapat melakukan masa percobaan pada karyawan yang telah diterimanya.
Sebenarnya alasan pemutusan hubungan kerja bukan hanya karena ketidakjujuran dari para karyawannya, tetapi juga alas an-alasan lain yang dianggap merugikan misalnya: ketidakmampuan bekerja, malas, pemabuk, tidak patuh, sering absen dan sebagainya. Pemutusan hubungan kerja ini menurut pandangan dari perusahaan akan menimbulkan kerugian yang lebih kecil daripada meneruskan hubungan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2009. Manajemen Personalia.http://id.wikipedia.org/wiki/manajemen.
Diakses pada hari Rabu, 24 Maret 2009 jam 20.00 WIB.
tanda-tanda keamanan pada makanan
Tanda “tanpa pengawet” berarti makanan ini dalam proses produksinya tidak menggunakan bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi.
Tanda “halal” berarti bahwa makanan ini sesuai dengan syariat Islam dan dalam produksinya tanpa menggunakan bahan yang mengandung lemak babi dan dalam penyembelihannya sesuai dengan syariat Islam.
Tanda “expired date” berarti tanggal yang menunjukkan makanan tersebut masih memenuhi syarat mutu dan keamanan untuk dikonsumsi.
Tanggal kadaluwarsa ini merupakan batas akhir makanan ini dijamin mutunya sepanjang penyimpanannya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh produsen.
Tanda keamanan “keep refrigerator” ini merupakan tanda petunjuk cara penyimpanan makanan ini yang akan mempengaruhi sifat dan mutu produk pangan tersebut yaitu harus disimpan dalam kondisi beku.
Tanda “BPOM” merupakan tanda nomor pendaftaran pangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah (Departemen Kesehatan/Badan POM), yang berarti makanan ini sudah sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku dan telah memiliki ijin edar.
Tanda “halal” dan “MUI” berarti bahwa makanan ini sesuai dengan syariat Islam dan dalam produksinya tanpa menggunakan bahan yang mengandung lemak babi dan dalam penyembelihannya sesuai dengan syariat Islam.
Senin, 05 April 2010
Kesehatan Ternak


A. Latar Belakang
Kesehatan hewan adalah suatu status kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusun dan cairan tubuh yang kandungannya secara fisiologis fungsi normal. Kerusakan sel mungkin terjadi secara normal sebagai akibat proses pertumbuhan yang dinamis demi kelangsungan hidup, sehingga terjadi pergantian sel tubuh yang rusak atau mati bagi hewan yang sehat. Di lain pihak, keusakan mungkin saja tidak mengalami pergantian bagi hewan yang mengalami gangguan karena serangan penyakit atau gangguan lain yang rusak fungsi sel dan jaringan.
Ayam merupakan komoditi peternakan yang memiliki kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat pada umumnya. Seiring degan pesatnya pertumbuhan industri perunggasan khususnya ayam petelur, secara otomatis memerlukan perbaikan dan pengembangan manajemen untuk keberhasilan suatu usaha peternakan ayam petelur.
Tata laksana pengendalian penyakit adalah faktor penting yang terkait langsung dengan pelaku usaha peternakan, pada kenyataan dilapangan faktor tersebut cenderung mendapatkan perhatian yang kurang. Namun demikian dapat dilihat kenyataan di lapangan bahwa tata laksana pengendalian penyakit yang benar dalam peternakan ayam memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan usaha peternakan ayam. Ayam yang terkena penyakit sangat menurun produktifitasnya bahkan penyakit yang menular dapat mengakibatkan kematian ayam yang tinggi, dan akhirnya akan merugikan suatu usaha peternakan ayam.
1
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Ilmu Kesehatan Ternak ini adalah :
a. Agar mahasiswa dapat membedakan ayam yang sakit dan sehat.
b. Agar mahasiswa dapat mengetahui jenis vaksin dan cara penggunaannya, serta mahasiswa dapat melakukan proses vaksinasi.
C. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Ilmu Kesehatan Ternak ini dilaksanakan tanggal 24 Oktober 2009 bertempat di Kandang Percobaan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desa Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.
A. Kesehatan Ternak
Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya. Upaya pengendalian penyakit pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan melalui cara pemeliharaan yang baik, sehingga peternak memperoleh pendapatan secara maksimal. Upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui usaha pencegahan penyakit dan atau pengobatan pada ternak yang sakit. Namun demikian usaha pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan pengobatan (Jahja dan Retno, 1993).
Penyakit coccidiosis dikenal juga dengan istilah penyakit berak darah. Coccidiosis disebabkan oleh protozoa genus Eimeria. Akibat penyakit coccidiosis ayam mengalami diare dan radang usus (enteritis). Coccidiosis menyerang ayam muda dan terjadi di bawah kondisi litter yang hangat dan kelembaban tinggi (litter basah).Coccidiosis menyebar dalam bentuk sel tunggal (oocysts) yang dikeluarkan melalui kotoran. Oocysts ini tidak bersifat infeksi dan dapat hidup di luar tubuh ayam selama 2-4 hari . Jika termakan ayam, oocysts akan menuju ke saluran usus. Di dalam usus oocysts akan berkembang dan membelah diri. Proses perkembangan tersebut membutuhkan waktu 4-7 hari. Coccidia menjadi parasit yang hidup di jaringan epitel dan saluran usus sehingga menyebabkan kerusakan dinding usus. Perusakan dinding usus disebabkan oleh jumlah oocysts yang terdaapt di saluran usus cukup banyak sehingga adanya proses perkembanagan oocysts akan menghancurkan sel-sel jaringan lebih banyak (Fadilah, 2008).
3
Cacing pita adalah cacing pipih dorsoventral yang berbentuk pita memanjang dan memiliki segmen-segmen, merupakan parasit dalam saluran pencernaan. Cacing pita bersifat hermafrodit yaitu organ reproduksi jantan dan betina terdapat pada setiap segmen dewasa. Bagian-bagian tubuh cacing pita terdiri dari skoleks, leher, dan strobilla. Skoleks dilengkapi dengan empat batil isap dan rostellum yang digunakan sebagai alat untuk menempel pada mukosa usus inangnya. Pada batil isap dan rostellum dilengkapi juga dengan kait-kait tetapi tergantung pada spesiesnya. Bagian leher adalah bagian yang paling aktif dalam pembentukan segmen baru. Strobilla adalah bagian tubuh cacing pita yang paling besar yang terdiri dari segmen-segmen. Strobilla terdiri dari segmen muda, segmen dewasa dan segmen gravid. Pertumbuhan normal cacing pita dewasa memiliki tiga stadium perkembangan segmen yaitu muda (immature), dewasa (mature) dan gravid. Segmen muda memiliki ciri morfologi yaitu adanya perkembangan awal dari organ reproduksi, sedangkan segmen dewasa perkembangannya sudah sempurna dan lengkap. Morfologi segmen dewasa sering digunakan sebagai salah satu kriteria untuk mengidentifikasi cacing pita. Segmen gravid membentuk kantung-kantung yang penuh berisi telur. Segmen gravid akan mengalami proses destrobilisasi dan keluar bersama-sama tinja inang definitif. Tinja inang inilah yang menjadi pembawa sumber infeksi yang sangat potensial (Retnani, 2007).
Pengendalian penyakit ayam, pengertian dan ruang lingkupnya. Dalam usaha peternakan ayam dikenal ada tiga perangkat utama yang menentukan kesuksesan usaha yaitu penggunaan bibit unggul, pemberian ransum yang bermutu, pelakasanaan tata laksana secara efisien, dan pengendalian penyakit secara benar dan tepat (Sudarmono, 2003).
Ayam yang sehat antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut, posisi berdiri terlihat normal tidak lumpuh (bengkak atau bengkok pada kaki dan sayap), kepala dan wajah tampak normal (tidak bengkak), tidak keluar lendir dari hidung, warna pial dan jengger terlihat bersih atau kering tidak ada perubahan warna, dan bulu di sekitar kloaka terlihat bersih atau kering tidak lengket oleh kotoran ayam (Anonimus, 2009).
Endoparasit adalah parasit yang hidup di dalam tubuh ternak, umumnya berupa berbagai jenis cacing dalam saluran pencernaan. Semua jenis umur ayam memungkinkan terserang endoparasit. Gejalanya adalah ayam lesu, pucat, kondisi tubuh menurun, dan dapat mengakibatkan kematian karena komplikasi. Apabila ayam mati dibedah, pada saluran pencernakannya terdapat banyak cacing dan terjadi kerusakan pada organ-organ lainnya. Pertumbuhan ayam muda pun terhambat serta produksi ayam yang tengah bertelur cepat menurun (Sundaryani, 2007).
B. Vaksinasi
Vaksinasi adalah suatu tindakan dimana hewan dengan sengaja dimasuki agen penyakit (disebut antigen) yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangasang pembentukan daya tahan atau daya kebal tubuh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman untuk tidak menimbulkan penyakit. Agen tersebut biasanya substansi biologis yang terdiri dari sejumlah jasad renik dari jenis penyakit yang diupayakan untuk dicegah agar tidak menyerang. Apabila kegagalan vaksinasi terjadi, paramedis harus segera menghubungi dokter hewan untuk melakukan analisis kegagalan vaksinasi. Dokter hewan akan menetukan apakah vaksinasi ulang perlu dilakukan (Akoso, 1993).
Cara pemberian vaksin yaitu melalui tetes, suntik/injeksi, melalui air minum, wing-web, dan semprot. Melalui tetes yaitu dengan tetes mata, hidung, atau mulut. Melalui injeksi yaitu subcutan/dibawah kulit dan intra muscular/dalam daging atau otot. Melalui air minum adalah dengan mencampur vaksin dengan air minum, agar efektif ternak dipuasakan dahulu selama 2 jam sehingga air mengandung vaksin dapat segera dikonsumsi. Injeksi subcutan dilakukan dengan memberikan vaksin di daerah leher dengan jarum tidak masuk ke daging melainkan berada diantara daging dan kulit. Dan cara terakhir adalah semprot, cara ini harus dilakukan ketika tidak ada angin sedang berhembus ke kandang, sehingga virus dalam vaksin akan terbang keluar, tidak dihirup oleh ayam. Menurut penelitian terakhir cara inilah yang terbaik (Rasyaf, 1994).
Anak ayam umur 2-16 minggu (mendekati dewasa kelamin) rawan terhadap penyakit Marek's. Walaupun dapat juga menyerang unggas lain seperti puyuh, kalkun dll, namun vaksinasi pasda unggas tersebut tidak lumrah. Ayam dan kalkun dapat diimunisasi terhadap NCD (New Castle Disease). Vaksin aktif dengan virus lemah dianjurkan melalui berbagai cara., seperti melalui air minum, tetes mata, tetes hidung, atau semprot. Sedangkan vaksin inaktif dianjurkan untuk pullet melalui vaksinasi injeksi intramuscular atau subcutan (Jacob et al., 2006).
Vaksin untuk melawan ND biasanya dibuat dari virus jenis ringan (lentogenic) dan sedang (mesogenic). Vaksin ini akan memberikan proteksi terhadap semua bentuk ND. Cara melakukan vaksinasi dengan tetes mata (intra ocular) yaitu melaksanakan vaksinasi dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam. Vaksinasi ND melalui suntik daging dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin ke dalam daging, biasanya bagian dada atau paha. Vaksin yang disuntikkan bisa berupa vaksin live atau vaksin killed (Fadilah et al., 2007).
Jenis-jenis vaksin ND antara lain vaksin ND inaktif / vaksin kill (vaksin yang mengandung virus yang sudah diinaktifkan) dan vaksin ND aktif yaitu vaksin yang mengandung virus yang masih hidup atau masih aktif, tetapi sifatnya sudah tidak ganas lagi bagi ayam yang divaksin. Virus ini tidak lagi dapat membuat ayam yang divaksin sakit, tetapi merangsang ayam untuk membentuk antibody (zat penolak) sehingga timbul kekebalan. Berdasarkan jenis virus yang digunakan sebagai bahan, vaksin aktif ND dibedakan menjadi vaksin lentogenik dan vaksin mesogenik (Sundaryani, 2007).
Pemberian vaksin ND ini bertujuan mencegah timbulnya penyakit New Castle Disease pada unggas. Vaksin ini juga dilakukan dengan 3 cara yaitu dengan pemberian tetes mata, metode injeksi subcutan dan injeksi intramuskuler pada dada (Anonimus, 2009).
A. Kesehatan Ternak
1. Materi
a. Ayam hidup
b. Pinset
c. Pisau
d. Gunting
e. Tissue
f. Jarum pentul
g. Kapas
h. Ether
2. Metode
a. Memberi ether pada kapas, kemudian menempelkannya pada hidung ayam sampai ayam pingsan
b. Setelah ayam pingsan, kemudian membelah ayam pada bagian perut, sayap difiksasi terlebih dahulu
c. Mengamati organ-organ ayam yang telah dibelah
d. Mengamati tiap organ ayam bentuk dan warnanya
e. Mencatat hasil pengamatan
B. Vaksinasi
1. Materi
a. Automatic injection
b. Alat penggores
c. Spuit
d. Kapas
e. Alkhohol
f. Vaksin cacar
g. 7
h. Vaksin ND La Sota
i. Vitamin, obat, dan anti parasit
2. Metode
a. Mempersiapkan automatic injection
b. Memasukkan vaksin ke automatic injection
c. Mempersiapkan ayam yang akan divaksin
d. Menyuntikkan vaksin ke daerah intramuscular dari ayam
A. Kesehatan Ternak
1. Hasil
Tabel 1. Pengamatan eksterior
| Nama Organ | Keterangan | Penyakit |
| Mata | Bening | - |
| Bulu | Halus, mengkilap | - |
| Hidung | Normal | - |
| Sikap | Lincah | - |
| Gerakan | Lincah | - |
Sumber : Laporan Sementara
Tabel 2. Pengamatan organ dalam
| Nama Organ | Warna | Bentuk | Penyakit |
| Lidah Tenggorokan Kerongkongan Tembolok Proventrikulus Duodenum Usus Halus Usus Besar Ceca Pankreas Hati Empedu Ginjal Limpa | Merah Merah muda Putih Kuning Merah muda Merah Merah Merah Merah pucat Kuning kemerahan Merah muda Hijau tua Merah tua Merah | Runcing Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal | - - - - Terdapat cacing pita Terdapat cacing pipih - - - - - - - |
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
9
Pada unggas yang terserang cacing pita akan mengalami kekurusan, kelesuan, dan anemia yang pada akhirnya akan diikuti dengan merosotnya produksi. Siklus hidup cacing pita yang juga dikenal dengan cestoda pada unggas umumnya melewati inang perantara/vektor seperti kepiting, kutu air, crustacea dan katak (unggas air). Sedang pada unggas darat (ayam) lebih sering menggunakan inang perantara insekta terbang (lalat, kumbang) dan cacing tanah. Karena vektor yang berupa insekta terbang inilah yang menjadikan cacing pita mudah tersebar secara luas. Selain itu, telur-telur cacing pita pada umumnya mempunyai kemampuan yang hebat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Melihat akibat yang ditimbulkannya cukup merugikan, peternak perlu mewaspadai serangan cacing pita tersebut (Anonimus, 2009).
Menurut F.X Suwarta (1990) yang disitasi oleh Anonimus (2009) pada beberapa spesies cacing pita yang biasa menyerang unggas dan sering ditemukan di daerah tropis, yaitu: Davainea proglotina. Ukuran cacing ini sangat kecil, dengan panjang 0,5-3 mm dan mempunyai 3-9 proglotid. Telur-telur yang dihasilkan berada dalam parenkim dari segmen-segmennya yang telah masak. Ukuran telurnya berdiameter 30-40 mikron. Segmen yang mengandung telur yang masak akan dilepaskan bersama-sama dengan feses, dan telurnya akan bersifat aktif pada rumput. Telur-telur tersebut dapat termakan oleh siput/bekicot, dan kemudian berkembang dalam tubuh bekicot. Untuk unggas yang terserang cacing pita cukup efektif jika diobati dengan senyawa tin. Di N-butyl tin dilaurate dengan dosis 250 mg dalam pakan yang diberikan selama 48 jam sangat efektif untuk memberantas raillietina. Untuk amoebotaenia dan davainea dengan menggunakan dosis 500 mg per kg pakan.
B. Vaksinasi
1. Hasil
Tabel 3. Macam-macam vaksin dan obat-obatan
| Vaksin | Dosis | Cara pemberian |
| ND | 1 tetes | Tetes mata |
| Cacar ND La Sota | 1 goresan 3 ml | Digores pada sayap Disuntikkan pada paha |
| B Kompleks Biosolamin | 3 ml 3 ml | Injeksi intramuskular Injeksi intramuskular |
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Pencegahan suatu penyakit adalah suatu tindakan untuk melindungi individu terhadap serangan penyakit atau menurunkan keganasannya. Vaksinasi merupakan salah satu di antara berbagai cara yang efektif untuk melindungi individu terhadap serangan berbagai macam penyakit tertentu. Tindakan vaksinasi adalah salah satu usaha agar hewan yang divaksinasi memiliki daya kebal sehingga terlindung dari serangan penyakit.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan: ternak harus sehat, jenis dan tipe vaksin, umur ternak dan cara atau metode dalam melakukan vaksinasi, perlakuan terhadap vaksin dan penanganan ternak sebelum dan setelah vaksinasi. Pada praktikum yang dilakukan vaksin yang digunakan antara lain : ND (tetes dan injeksi) dan cacar. Untuk hewan besar diberi vitamin berupa B- kompleks dan Biosolamin.
Vaksin ND ini digunakan untuk mencegah penyakit New Castle Disease dan Infectious Bronchitis. Cara pemberian vaksin ini ada dua cara yaitu dengan tetes mata dan suntik injeksi intramuskular pada bagian paha. Perbedaan metode vaksin ini dikarenakan perbedaan umur ayam yang akan divaksin. Untuk pemberian vaksin ND secara tetes biasanya dilakukan pada anak ayam di tempat penetasan atau pada masa brooding (masa penghangatan) di kandang. Vaksin dilarutkan sesuai dengan konsentrasi dan dosis yang disyaratkan vaksin harus benar-benar mengenai mukosa mata. Pelarut dituangkan ke dalam botol vaksin sehingga terisi 2/3 dari botol tersebut, botol lalu ditutup dan dikocok sampai rata (dengan cara goyangkan dengan arah seperti angka delapan). Selanjutnya diteteskan pada mucosa mata 1 tetes/ ekor sesuai dengan konsentrasi. Vaksin ND dapat juga diberikan dengan penyuntikan pada intramuscular dada dan sub kutan. Vaksin tersebut adalah vaksin ND La Sota. Dosis untuk vaksin ND La Sota adalah 3 ml per ekor dan tidak tergantung dari berat dan umur ayam. Vaksin ini diberikan dalam jangka 1 tahun sekali.
Jenis-jenis vaksin ND antara lain vaksin ND inaktif / vaksin kill (vaksin yang mengandung virus yang sudah diinaktifkan) dan vaksin ND aktif yaitu vaksin yang mengandung virus yang masih hidup atau masih aktif, tetapi sifatnya sudah tidak ganas lagi bagi ayam yang divaksin. Virus ini tidak lagi dapat membuat ayam yang divaksin sakit, tetapi merangsang ayam untuk membentuk antibody (zat penolak) sehingga timbul kekebalan. Berdasarkan jenis virus yang digunakan sebagai bahan, vaksin aktif ND dibedakan menjadi vaksin lentogenik dan vaksin mesogenik (Sundaryani, 2007).
Fowl Pox penyebab virus dari famili Pox. Gejalanya terdapat bungkul cacar pada hidung, pial, dan telinga serta terjadi peradangan pada mulut. Vaksinasi cacar ini sangat berbeda dengan vaksin-vaksin lainnya. Pemberian vaksin ini dilakukan dengan metode tusuk sayap. Vaksin ini dikemas dalam satu vial berbentuk cairan emulsi. Vaksinasi Wing Web (tusuk sayap) dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Pelarut (khusus untuk jenis vaksin tersebut) dituangkan ke dalam botol vaksin sehingga terisi 2/3 dari botol tersebut. Botol lalu ditutup, dikocok sampai rata.
b. Larutan vaksin dituangkan ke dalam pelarut, lalu botol ditutup dan dikocok rapat.
c. Jarum penusuk yang sudah disediakan dicelupkan ke dalam larutan vaksin.
d. Lipat sayap ditusuk dari arah sebelah dalam ke arah luar sampai tembus. Hati-hati jangan samapai menusuk pembuluh darah, tulang, dan otot (daging) ayam.
(Sundaryani, 2007).
Dalam praktikum, pada vaksinasi fowl pox dilakukan pada ayam umur 10 minggu. Vaksinasi dilakukan dengan cara:
1. Mensterilkan jarum penusuk terlebih dahulu.
2. Melarutkan vaksin ke dalam botol pelarut dengan mengocoknya.
3. Mencelupkan jarum penusuk pada larutan vaksin.
4. Menggoreskan jarum penusuk pada lipatan sayap ayam.
Pemberian vaksin ini berfungsi untuk mencegah terjadinya penyakit Fowl Pox.
Pada hewan besar seperti sapi, kambing, dan domba diberikan injeksi intramuscular multivitamin B-complex dan biosolamin. Metode injeksi tersebut pada daerah sub cutan atau intra muscular. Fungsi dari B-complex adalah untuk metabolisme karbohidrat, asam lemak dan protein, imunitas, menambah nafsu makan, dan membantu tumbuh kembang. Dosis yang diberikan sekitar 3 ml per ekor. Biosolamin juga dilakukan dengan cara injeksi. Fungsi dari pemberian biosalamin sebagai penguat otot, biasanya ini diberikan pada sapi yang pincang dan habis melahirkan.
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kami ambil dari praktikum Ilmu Kesehatan Ternak adalah sebagai berikut:
a. Pada organ lidah, tenggorokan, kerongkongan, tembolok, proventrikulus, usus besar, ceca, pancreas, hati, empedu, ginjal, dan limpa dalam keadaan normal.
b. Pada bagian duodenum terdapat cacing pita dan usus halus terdapat cacing pipih.
c. Cacing pita menyebabkan penyakit Cestodosis, sedangkan cacing pipih menyebabkan penyakit Coccidiosis.
d. Pemberian vaksinasi pada unggas dilakukan dengan tiga cara, antara lain : tetes mata, injection dan goresan. Pemberian vaksin cacar Fowl Pox dilakukan dengan cara digores pada bagian lipatan sayap. Pemberian vaksin ND dilakukan 2 cara yaitu tetes mata dan injection.
e. Pemberian vaksin Fowl Pox berfungsi untuk mencegah terjadinya penyakit Fowl Pox. Vaksin ND untuk mencegah penyakit Newcastle Disease dan Infectious Bronchitis.
f. Pada hewan besar seperti sapi, kambing, dan domba diberikan injeksi intramuscular multivitamin B-complex dan biosolamin.
g. Fungsi dari pemberian B-complex adalah untuk metabolisme karbohidrat, asam lemak & protein, imunitas, menambah nafsu makan dan membantu tumbuh kembang. Fungsi dari pemberian biosalamin sebagai penguat otot.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan sebagai pertimbangan untuk praktikum selanjutnya adalah :
a. Sebaiknya teknik penyuntikan dilakukan tiap mahasiswa agar mahasiswa lebih mengerti tekniknya.
b. 14
Akoso, B. T. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Anonim. 2009. Waspada Cacing Pita pada Unggas. http://www.poultryindonesia.com/. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2009.
. 2009. Kasus Cacingan pada Ayam. http://infovet.blogspot.com/2009_10_26_archive.html. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2009.
. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Cestodosis Pada Ayam Buras. http//.poultryindonesia. com. Diakses pada tanggal 26 Oktober 2009.
Fadilah et al., 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta Selatan.
Fadilah, Roni dan Agustin Polana. 2008. Aneka Penyakit pada Ayam dan Cara Mengatasinya. Agromedia. Jakarta Selatan.
Jahja dan Retno. 1993. Petunjuk Mendiagnosa Penyakit Ayam. Medion. Bandung.
J.P. Jacob, G.D. Butchaer, and F.B. Mather. 2006. Vaccination of Small Poultry Flock . University of Florida, Institute of Food and Agricultural Sciences (UF/IFAS) . Florida.
Murtidjo, Bambang Agus. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Kanisius . Yogyakarta.
Rasyaf, M . 1994. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadana. Jakarta.
Retnani E & Hadi UK. 2007. Beberapa aspek Cestodosis dan Peran Serangga yang Berpotensi Sebagai Inang Antaranya pada Ayam Petelur [Laporan Akhir Penelitian]. Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Sudarmono, A.S. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Penebar Swadaya . Jakarta.
Sundaryani, T. 2007. Teknik Vaksinasi dan Pengendalian Penyakit Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta.
Gambar 1. Vaksinasi ND
Gambar 2. Vaksinasi ND La Sota
Gambar 3. Cacing pita pada usus halus penyebab penyakit Cestodosis
Gambar 4. Cacing pipih pada usus halus penyebab penyakit Coccidiosis
Ga
Gambar 5. Vaksin yang digunakan pada praktikum
Gambar 6. Peralatan untuk vaksinasi
Gambar 7. Pemberian vitamin pada kambing dan sapi