Sabtu, 12 Juni 2010

Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani yang sangat penting. Sapi perah sebagai penghasil susu berperan sangat penting sebagai pengumpul bahan-bahan yang tidak bermanfaat sama sekali bagi manusia seperti rumput, limbah, dan hasil ikutan lainnya dari produk pertanian. Air susu sebagai sumber gizi berupa protein hewani yang sangat besar manfaatnya bagi bayi, sebagai masa pertumbuhan, orang dewasa dan lanjut usia. Susu memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga sangat menunjang pertumbuhan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.
Susu sapi mengandung semua bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sapi yang dilahirkan. Susu juga dapat digunakan sebagai bahan minuman manusia yang sempurna karena di dalamnya mengandung zat gizi dalam perbandingan yang optimal, mudah dicerna, dan tidak ada sisa yang terbuang. Air susu sebagai sumber gizi berupa protein hewani sangat besar manfaatnya bagi bayi, bagi mereka yang sedang dalam proses tumbuh, bagi orang dewasa dan bahkan bagi yang berusia lanjut. Susu dengan kandungan protein yang cukup tinggi dapat menunjang pertumbuhan, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.
Peningkatan permintaan produk susu yang tidak diimbangi dengan penambahan produksi sapi tentu saja akan mengakibatkan kebutuhan akan susu tidak dapat terpenuhi. Pemenuhan produk susu dengan penambahan populasi ternak sapi perah membutuhkan proses yang panjang. Hal ini membuktikan bahwa pengembangan usaha ternak sapi perah memiliki peluang dan prospek usaha yang sangat cerah.
Efisiensi pengembangbiakan dan pengembangan usaha ternak perah dapat dicapai apabila peternak memiliki perhatian terhadap tata laksana pemeliharaan dan manajemen pengelolaan yang baik. Adanya manajemen dalam pengelolaan merupakan sesuatu hal yang wajib bagi seseorang pengusaha ternak untuk dimengerti dan dipahami. Jika semuanya tersebut dapat dikuasai oleh peternak maka akan menghasilkan hasil yang maksimal.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari pelaksanaan Praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan ini adalah:
a. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami suatu perusahaan peternakan dari sisi manajemen perusahaan dan analisis finansial.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang manajemen perusahaan peternakan khususnya tentang analisis finansial.
c. Mahasiswa lebih mudah dalam memahami dan menguasai Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan dan dapat menerangkan di lapangan.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan adalah dapat diperoleh wawasan dan pengetahuan baru tentang manajemen perusahaan peternakan yaitu Peternakan Sapi Perah Umbul Jaya yang ditinjau dari segi finansial perusaahaan sehingga dapat diketahui sumber-sumber input dan output dari perusahaan peternakan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan suatu peternakan tergantung kepada tata laksana yang dilakukan. Tanpa tata laksana yang teratur dan baik produksi yang dihasilkan ternak tidak akan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan suatu kerugian dan kehancuran yang cukup besar akan senantiasa mengancam, peranan manajer dalam suatu usaha perusahaan peternakan sangat menonjol / kehadiran tenaga terlatih yang sangat terampil melakukan segala tata laksana peternakan disertai penataan perlengkapan dan peralatan. Perusahaan peternakan yang disesuaikan dengan faktor fisik dan ekonomi akan menentukan keberhasilan tujuan tersebut (Santosa, 2001).
Salah satu usaha yang masih bisa dikembangkan peternak di tengah kondisi perekonomian yang mencekik ini adalah sapi perah. Produktivitas sapi perah sebagai penghasil susu utama, salah satunya ditentukan oleh pakan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan sapi perah. Zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi perah digunakan untuk hidup pokok dan produksi, kebutuhan sapi perah akan zat-zat makanan erat kaitannya dengan bobot badan dan produksi susu (Nur, 2004).
Pada saat ini di daerah tropis sekurang-kurangnya terdapat 3 tipe perusahaan sapi perah:
1. Produksi tingkat pedesaan (subsisten)
2. Peternak sapi perah, biasanya skala menengah, namun banyak pada skala kecil.
3. Produsen skala besar.
Patut diketahui bahwa sebagian besar produsen air susu di daerah tropik sebagian besar merupakan penduduk pedesaan yang tindakan pertamanya mencakup kebutuhan keluarganya dan kemudian menjual sisa atau kelebihan hasilnya sebagai air susu segar atau hasil pengolahannya (Reksohadiprodjo, 1995).
Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan pengembangan sapi perah di Indonesia mengalami kelambanan walaupun populasi sapi perah meningkat pesat, di antaranya yaitu :
1. Permintaan akan komoditi susu segar tidak menunjukkan peningkatan yang pesat walau peningkatan akan komoditi protein hewani telah mengalami peningkatan yang sangat pesat.
2. Kurangnya tenaga inseminator pada daerah tertentu, dimana di daerah tersebut banyak peternak sapi perah yang menginginkannya.
3. Sebagai akibat perkembangan ternak perah, maka daerah sekitar lokasi peternakan akan mengalami kekurangan rumput gajah (rumput hijau) yang merupakan sumber makanan bergizi bagi ternak sapi-sapi perah.
4. Masalah penyakit yang dapat menyerang ternak sapi perah.
5. Tidak semua peternak dapat memasarkan hasil produksinya dengan baik dan lancar
(Siregar,1992).
Ada beberapa hal yang sering menimbulkan hambatan bagi usaha ternak sapi perah, antara lain :
1. Iklim. Negara kita yang beriklim tropis sehingga sering mengalami temperatur yang membumbung tinggi sehingga merupakan suatu hal yang sangat bertentangan dengan kehidupan sapi perah.
2. Permodalan. Pada umumnya masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan atau pegunungan terhalang oleh permodalan finansial dan skill kurang walaupun temperatur memungkinkan usaha sapi perah.
3. Pemasaran yang belum maju, sebab produksi susu di dalam negeri mendapat saingan berat dengan susu kaleng, daya beli rakyat yang masih rendah, dan higiene produksi air susu dari peternak rakyat kurang sempurna.
4. Kekurangan tenaga ahli.
5. Komunikasi (sarana angkutan) yang sulit.
(AAK,1995).


III. MATERI DAN METODE

A. Materi Praktikum
Materi yang digunakan dalam praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan adalah Perusahaan Peternakan Sapi Perah “ Umbul Jaya”.
B. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan dilaksanakan pada hari Minggu, 16 Mei 2010 di Perusahaan Peternakan Sapi Perah “Umbul Jaya” yang berlokasi di Jalan Mojo no. 2, Kelurahan Karang Asem, Kecamatan Laweyan, Surakarta.
C. Jenis Data Praktikum
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan pemilik/ manajer perusahaan.
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu berasal dari catatan yang ada di perusahaan.
D. Metode Pelaksanaan Praktikum
Metode pelaksanaan praktikum yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode observasi dan wawancara secara langsung dengan pemilik/ manajer Perusahaan Peternakan Sapi Perah “Umbul Jaya”.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Perusahaan
a. Keadaan Populasi Ternak, Modal Sekarang, Harga, dll
Perusahaan sapi perah “Umbul Jaya” terletak di jalan Mojo no. 2 Karangasem Rt 05 / 8, Laweyan, Surakarta. Perusahaan ini didirikan pada th 60-an dengan nama “Umbul Sari”. Pergantian nama Umbul Sari menjadi Umbul Jaya diharapkan mampu meningkatkan produksi susu dan meningkatkan populasi sapi perah yang ada di perusahaan sapi perah tersebut.
Tujuan dan motivasi pendirian perusahaan sapi perah “Umbul Jaya“ adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beban kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga memberikan motivasi pada Bapak Jumadi CP untuk memulai usaha sapi perah, dengan modal awal 5 ekor sapi perah PFH masa produksi (laktasi) lahan kandang seluas 7000 m2, pengalaman blantik dan pengalaman belajar selama satu bulan di perusahaan sapi perah yang dimiliki bapak Jumadi CP inilah perusahaan sapi perah Umbul Jaya sekarang sudah memiliki ternak sebanyak 35 ekor sapi perah yaitu sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Harga sapi untuk bakalan seharga Rp 3.500.000,00, harga untuk pejantan Rp 9.000.000,00 dan harga untuk betina atau indukan adalah Rp 10.000.000,00.
Usaha peningkatan sapi perah di Umbul Jaya ini melalui pembelian sapi maupun dengan membesarkan pedet dari sapi-sapi yang melahirkan, namun demikian peningkatan populasi sapi perah Umbul Jaya mempunyai hambatan- hambatan yaitu kerugian dalam perdagangan sapi perah dan bangunan kandang yang tidak memungkinkan untuk penambahan sapi. Sehingga usaha peningkatan jumlah sapi di Umbul Jaya terlihat terhenti.
b. Kondisi produksi dan wilayah pemasaran produk
Peningkatan keuntungan selain dari penjualan susu segar di perusahaan sapi perah Umbul Jaya juga diperoleh dari penjualan dari sapi perah laktasi ke pasar dan pembuatan produk selain susu segar. Pembuatan produk selain susu segar seperti susu coklat, susu kopi, susu strawberi, dan susu kacang hijau dihentikan pada tahun 1997. Penyebabnya adalah melambunganya harga gula dan kebutuhan lain setelah krisis ekonomi di Indonesia. Pemasaran susu segar yang sulit sejak awal pendirian ”Umbul Jaya“ sampai tahun 1997 menjadi mudah setelah harga jual produk produk susu, seperti susu kaleng, susu bubuk dan produk susu lain di pasaran melambung tinggi pasca krisis ekonomi.
Peternakan Umbul Jaya mampu menghasilkan susu sebanyak 100 liter per hari dengan interval 2 kali pemerahan sehari terhadap sapi yang laktasi sebanyak 12 ekor. Produksi susu tersebut naik turun, karena tergantung dari cuaca, keadaan tersebut dapat diketahui dari makanan yang diberikan ke sapi. Produksi susu dari sapi-sapi tersebut dirasa kurang sebagai perusahaan penghasil susu di wilayah Solo sehingga perlu ditingkatkan, antara lain dengan penambahan jumlah sapi perah laktasi dengan mengawinkan sapi-sapi dara yang ada atau dengan membeli sapi jadi yang sudah laktasi.
Produk utama peternakan sapi perah Umbul Jaya berupa susu segar dengan harga Rp 5.000,00/liter. Pemasaran susu dilakukan dengan menjual ke Pasar Gede, serta dijual di lokasi peternakan itu sendiri dengan adanya pembeli yang langsung datang ke peternakan “Umbul Jaya”. Namun, kadang-kadang susu yang dipasarkan tidak semua dapat habis dalam waktu itu juga, sehingga ada susu yang tersisa. Sisa susu ini dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri. Untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain bisa dilakukan dengan memperluas lokasi pemasaran atau dengan menggunakan jasa loper yang bisa menjualkannya di warung-warung atau terminal-terminal.
c. Proses produksi yang dijalankan
Pada hasil pengamatan, pemberian pakan hijauan diberikan satu kali dalam sehari. Pemberian pakan hijauan ini diberikan + pada jam 15.00 WIB sebelum diberi pakan hijauan sapi-sapi ini terlebih dahulu diberi makan konsentrat dengan formulasi pakan yang dibuat sendiri. Setelah satu jam pemberian konsentrat barulah hijauan diberikan. Hijauan yang diberikan sudah dalam bentuk dipotong-potong. Hijauan yang diberikan adalah rumput raja dengan total pemberian 10 kg/ ekor/ hari Hijauan ini diperoleh dari membeli dengan harga Rp 400,00 – Rp 500,00 /kg.
Pakan konsentrat di perusahaan Umbul Jaya dibuat dengan formulasi pencampuran yang dilakukan sendiri dengan formulasi bekatul, ampas tahu dan polar. Pakan konsentrat di UD. Umbul Jaya diberikan dua kali dalam sehari yaitu pada pagi hari dan siang hari. Rata-rata pemberian konsentrat ini setiap kali pemberian yaitu 15 kg/ekor/hari.
Proses perkawinan sapi perah di Umbul Jaya dilakukan dengan IB dan perkawinan alami. Perusahaan Umbul Jaya ini sapi perah dara mulai dikawinkan pertama kali sekitar umur + 18 bulan dngan berat kira- kira 275 kg. Pada sapi dara yang pertama kali dikawinkan dilakukan dengan IB dan perkawinan selanjutnya dengan perkawinan alami. Cara penetapan kebuntingan dilakukan oleh buruh dengan pengamatan ulang birahi, kebuntingan akan diketahui apabila ternak tidak birahi lagi 3 – 4 minggu setelah perkawinan.
Pada setiap usaha pasti terdapat hambatan atau kendala yang dapat menggangu kelancaran kegiatan produksi, tak terkecuali pada perusahaan sapi perah. Salah satu kendala adalah mengenai kesehatan sapi yang kadang terganggu. Di Umbul Jaya penyakit yang sering menyerang sapi adalah mastitis, kembung dan diare. Penyakit ini biasanya didiagnosa oleh pihak perusahaan sendiri, karena pemilik peternakan itu telah hafal tanda tanda suatu ternak terserang penyakit karena pemilik sapi tersebut telah mempunyai pengalaman memelihara sapi sudah cukup lama. Meskipun sapi terkadang diserang penyakit, pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi oleh Dinas Peternakan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Namun apabila ada tanda-tanda suatu penyakit yang tidak dapat ditanggulangi oleh peternak sendiri barulah pemilik peternakan tersebut memanggil mantri hewan.
Untuk menjaga kesehatan sapi-sapinya peternak juga sering memberikan obat tradisional yang berasal dari temu hitam, daun papaya, dan tempe busuk. Cara pembuatannya adalah 1 kg temu hitam ditambah 5 lembar daun papaya dan 6 bungkus tempe busuk. Semua bahan ditumbuk dan didiamkan selama semalam kemudian pagi harinya diberikan kepada sapi. Cara pemberiannya yaitu dengan membungkus jamu tersebut dengan daun pisang kemudian diberikan pada sapi. Pemberian jamu tersebut bertujuan untuk meningkatkan nafsu makan, dan dapat menanggulangi berbagai macam penyakit.
d. Sumberdaya yang dimiliki
Populasi ternak sapi yang ada sebanyak 35 ekor sapi perah yaitu sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Peralatan yang dimilki merupakan peralatan yang menunjang dalam operasional, seperti halnya: sapu, pompa air, ember, selang, milk can, alat pencacah hijauan (chopper), keranjang, sabit dan lain-lain. Investasi atau modal perusahaan yang dimiliki yaitu tanah 7000 m2 yang terdiri dari luas kandang ternak 400 m2, luas lahan 5600 m2, dan bangunan 1000 m2. Gudang alat dan pakan terdapat pada bagian depan. Sumber daya manusianya (SDM) merupakan tenaga kerja yang berasal dari wilayah Boyolali yang terdiri dari 2 orang dan 2 orang dari warga sekitar. Pekerja adalah lulusan SMP dan seorang adalah lulusan SD.
Dalam operasional perusahaan, perusahan sapi perah Umbul Jaya tidak terdapat struktur organisasi maupun job diskripsi yang jelas. Perusahaan ini dijalankan berdasarkan perintah dari pemilik yang juga merangkap sebagai pengelola langsung ke karyawan. Karyawan di perusahaan sapi perah Umbul Jaya ini bekerja berdasarkan kemauan dan kebiasaan serta sikap tidak mengeluh selama bekerja. Gaji karyawan per bulan sebesar + Rp 400.000, 00. Jaminan kesehatan dan kesejahteraan karyawan di perusahaan ini tidak ada. Terlihat dengan tidak adanya asuransi maupun perhatian yang lebih terhadap karyawan. Pekerjaan membersihkan halaman, membuat ransum pakan melebihi jam kerja tidak diperhitungkan sebagai jam lembur tetapi hanya sebagai pekerjaan biasa. Perumahan karyawan yang kurang memadai dan hanya ditempat di tempat yang kosong seperti bekas kamar susu. Hal ini memperlihatkan bahwa perusahaan sapi perah Umbul Jaya kurang memberikan jaminan kesejahteraan bagi karyawannya.
e. Denah Lokasi
Perusahaan sapi perah ini pada awalnya berada pada posisi yang sangat strategis dan memenuhi syarat lokasi perkandangan, seperti yang diungkapkan Reksohadiprojo (1995) yaitu lokasi kandang sapi perah diusahakan dekat sungai jalan raya, dekat sumber air dan sumber pakan serta sekat dengan daerah pemasaran yaitu kota Surakarta tepatnya di Pasar Gede.




Tugu adipura


U









Gambar 1. Denah Lokasi Perusahaan UD. Umbul Jaya






























Gambar 2. Desain Layout Kandang di Perusahaan UD. Umbul Jaya
Keterangan :
1. Ruko (dikontrakkan)
2. Rumah pemilik
3. Mess/ tempat tinggal karyawan
4. Gudang pakan
5. Kandang ternak
6. Tempat pengolahan limbah

Dilihat dari lokasi dan layout perkandangan, perusahan sapi Umbul Jaya telah memenui syarat lokasi maupun syarat-syarat perkandangan yang baik. Letak kantor terletak di sebelah selatan gudang pakan, kandang terletak di sebelah utara dekat sungai. Kandang ini terdiri dari kandang pedet, kandang sapi dara, kandang sapi dewasa, kandang laktasi, kandang pejantan, serta kandang karantina. Kamar susu terletak di sebelah timur dan sekarang sudah tidak dipakai lagi. Gudang pakan terletak di antara tempat pemotongan rumput dan kantor. Perumahan karyawan berada di sebelah timur kandang dan selatan kandang. Dari segi lokasi perusahaan ini terletak dekat dengan sungai, dekat dengan sumber air, sumber pakan, dekat dengan jalan raya, dan daerah pemasaran.
Kekurangan dari perusahaan ini adalah kurangnya fasilitas air yang memadai, karena bila listrik mati akan terjadi kekurangan air sehingga dibuat bak penampung air, kurangnya pemasaran dari produk susu, bahkan penduduk sekitar ada yang tidak tahu kalau lokasi tersebut adalah peternakan sapi perah. Kadang terjadi kekurangan pakan karena pakan yang langka dan cara penaggulangannya yaitu mengganti dengan jenis pakan yang lain. Kurangnya sanitasi di perusahaan ini juga terjadi karena kadang bila air sungai tidak mengalir maka limbah sulit dialirkan.
f. Penanggulangan limbah ternak/kotoran ternak
Kotoran sapi (feses) ataupun ternak lainnya sering menimbulkan benturan dengan kepentingan orang lain. Di satu pihak kita sedang menggalakkan peternakan untuk dapat menghasilkan produk secara maksimal baik kualitas maupun kuantitasnya, di lain pihak akan mendapatkan protes dari penduduk sekitarnya jika penanganan feses tidak dilakukan secara baik, karena adanya pencemaran yang timbul dari kotoran ternak tadi.
Peternakan “Umbul Jaya” ini merupakan peternakan skala kecil yang lokasinya tidak jauh dari lokasi pemukiman penduduk. Bahkan rumah peternaknya sendiri berada di lokasi peternakan. Dengan adanya lokasi peternakan yang dekat dengan pemukiman penduduk, maka pencemaran lingkungan pun tidak dapat dihindari. Pengambilan kotoran ternak sapi perah biasanya dilakukan pada pagi dan siang hari. Menurut Setiawan (1996), pengambilan kotoran di pagi dan siang hari ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu segera tercipta lingkungan yang bersih dan pemerahan susu dilakukan pada kondisi lingkungan yang bersih sehingga kebersihan susu lebih terjamin.
Kotoran sapi perah di “Umbul Jaya” dialirkan ke lubang penimbunan dengan cara mengguyur atau menyiram kotoran sapi tersebut dengan air ke arah parit yang kemudian ditempatkan di lubang penimbunan. Kotoran yang ada pada lubang penimbunan, langsung dibuang ke sungai tanpa dilakukan pemrosesan lebih dulu, karena memang peternakan ini bersebelahan dengan sungai yang cukup besar. Penanganan feses yang kurang baik akan menganggu dan menimbulkan pencemaran daerah sekitarnya. Untuk mengurangi resiko pencemaran lingkungan, peternak dapat memanfaatkan kotoran ternak tersebut untuk hal yang bermanfaat, misalnya diolah menjadi pupuk.
Pencemaran yang diakibatkan oleh limbah yang dihasilkan oleh perusahaan tidak begitu ditanggapi oleh warga sekitar dengan alasan bahwa perusahaan sapi perah tersebut sudah berdiri lama bahkan jauh sebelum terdapat pemukiman penduduk, di samping itu limbah yang dihasilkan berupa feses ataupun urine sapi tidak begitu mengganggu warga sekitar perusahaan.
g. Peran perusahaan dalam memberdayakan masyarakat sekitar
Didukung dengan kekuatan sumber daya manusia yang bertempat tinggal disekitar lokasi peternakan, UD. Umbul Jaya terus menempa diri untuk dapat mengembangkan usaha agribisnis sehingga dapat memberi keuntungan secara bisnis dan peningkatan kualitas kehidupan bagi seluruh komponen yang manjadi keluarga besar UD. Umbul Jaya.
Sumber daya tenaga yang melimpah dari penduduk disekitar lokasi peternakan menjadikan suatu keuntungan tersendiri dari UD. Umbul Jaya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan saling menjaga UD. Umbul Jaya juga menggunakan warga sekitar sebagai karyawan/pekerja dipeternakan. Sosialisasi terhadap warga disekitar peternakan juga sering dilakukan untuk menghindari komplain dari warga yang sering mengeluh karena polusi yang dihasilkan baik suara maupun bau yang ditimbulkan.
h. SWOT analysis dalam pengembangan usaha peternakan
Dalam mempertahankan kondisi perusahaan yang tetap produksi, maka perusahaan harus mempunyai kekuatan yaitu permintaan akan susu semakin meningkat dengan hasil susu sebanyak 100 lt/hari dari 12 ekor sapi. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik maka produksi susu akan menghasilkan produksi tinggi. Kekuatan yang mendukung perusahaan ini adalah keuletan dalam usaha dan mempertahankan kelangsungan dari perusahaan itu sendiri. Dengan dukungan personal perusahaan yang kuat masalah tersebut dapat diatasi dengan lancer yaitu dengan menjual produk langsung ke konsumen dan perusahaanlah yang menentukan harga langsung. Bahan pakan yang mahal dapat diatasi dengan mencampur paka dengan bahan pakan (bekatul) yang lebih murah tanpa mengurangi kandungan nutrisinya.
Setiap perusahan pasti mempunyai halangan dan hambatan dalam menjalankan usahanya, tidak terkecuali UD. Umbul Jaya. Hambatan yang sangat terasa yaitu harga jual susu yang masih rendah, karena yang menjadi dasar dari biaya operasional setiap hari hanya dari penjualalan susu, sehingga bila harga susu tetap terus rendah bisa dipastikan tidak bisa menutup biaya operasionalnya. Selain itu, harga bahan baku pakan yang kian hari kian merangkak naik menjadikan masalah tersendiri yang sangat membebani. Sedangkan kelemahan yang dihadapi adalah biaya pakan yang besar sebab pakan dengan membeli yang menyebabkan pembengkakan pengeluaran apalagi pada saat musim kemarau, tetapi pengeluaran yang besar tersebut bias diimbangi dengan penjualan sapi afkir atau sapi yang sudah tidak produktif.
Sebagai langkah kedepan, usaha sapi potong saat ini telah/mulai dikembangkan melalui trading atau pembibitan sendiri. Selain dari segi akan kebutuhan susu yang semakin meningkat dan harga susu yang cukup stabil dan cenderung naik, maka perusahaan ini mempunyai peluang untik masa depannya. Selain di daerah tersebut hanya perusahaan ini satu-satunya perusahaan sapi perah, maka peluang untuk membuka usaha ini semakin besar, karena tidak ada pesaing dan lokasinya yang mudah dijangkau yaitu di sekitar kota Solo. Dengan kekuatan sumber daya manusia yang bertempat tinggal disekitar lokasi usaha peternakan, UD. Umbul Jaya terus menempa diri untuk dapat mengembangkan usaha agribisnis sehingga dapat memberi keuntungan secara bisnis dan peningkatan kualitas kehidupan bagi seluruh koponen yang menjadi keluarga besar UD. Umbul Jaya.
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang peternakan, perusahaan Umbul Jaya pastilah mempunyai beberapa hal yang dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan perusahaan ini sendiri. Ancaman tersebut antara lain adalah masalh limbah yang mungkin akan mengganggu masyarakat sekitar sehingga dapat menyebabkan protes dari warga. Ancaman lain adalah adanya kondisi perekonomian yang tidak stabil, yaitu harga pakan yang terus naik dan harga susu yang turuyn dapat menyebabkan adanya kerugian pada perusahaan. Ancaman lain adalah produk susus yang berasal dari Boyolali yang dijual ke Solo dapat menjadi pesaing dalam proses penjualan susu, karena harganya lebih murah.

B. Analisis Finansial
Kebutuhan dana dari perusahaan peternakan sapi perah “Umbul Jaya” dapat dirincikan sebagai berikut:
a. Modal Investasi
Tanah+ Bangunan 7000 m2 (Rp 1.400.000,00/m2) = Rp 9.800.000.000,00
Peralatan = Rp 1.800.000,00+
Total modal investasi = Rp 9.801.800.000,00


b. Modal Kerja Tetap (Fixed Cost)
Gaji dan upah
Tenaga kerja ( 4 orang @ Rp 400.000,00) = Rp 19.200.000,00
Perawatan dan Pengelolaan
Obat, vaksin dan vitamin = Rp 600.000,00
Sumbangan dll. =Rp 500.000,00+
Total fixed cost = Rp 20. 300.000,00
c. Modal kerja variable (Variable cost)
Pembelian pakan ternak:
Rumput gajah (Rp 300.000,00/5 hari) = Rp 21.900.000,00
Bekatul (8 kg/ekor/hari) = Rp 204.400.000,00
Ampas tahu (100 kg/hari) = Rp 9.490.000,00
Pollard (120 kg/hari) = Rp 219.000.000,00+
Total variable cost =Rp 454.790.000,00
Total modal investasi + fixed cost +
variable cost = Rp10.276.890.000,00

Laba dan Rentabilitas
Produk yang dipasarkan yaitu berupa susu sapi perah segar dengan harga per liter Rp 5.000,00
Penjualan susu setiap bulan dari 12 ekor sapi laktasi:
100 x 12 x 5.000 x 365 = Rp2.190.000.000,00
Penjualan sapi afkir setiap tahun:
Rp 7.000.000,00 x 2 ekor = Rp 14.000.000,00 +
Total penerimaan selama satu tahun = Rp2.204.000.000,00






Biaya produksi selama satu tahun
a. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Tenaga kerja ( 4 orang @ Rp 400.000,00) = Rp 19.200.000,00
Rekening listrik dan air (12 x Rp 160.000,00) = Rp 1.920.000,00
Pajak bumi bangunan = Rp 1.890.000,00
Penyusutan peralatan dan bangunan
1. Chopper = Rp 300.000,00
2. Kandang, gudang pakan, kamar susu = Rp 5.500.000,00
3. Rumah penjaga = Rp 3.990.000,00 +
Total fixed cost = Rp 32.800.000,00

b. Biaya variable (Variable Cost)
Biaya pakan ternak = Rp 454.790.000,00
Peralatan pendukung = Rp 800.000,00
Obat, vaksin dan vitamin = Rp 600.000,00
Sumbangan dll. = Rp 500.000,00
Bonus gaji karyawan = Rp 800.000,00+
Total variable cost = Rp 457.490.000,00

Total biaya produksi selama satu tahun
= Biaya tetap + biaya variable
= Rp 32.800.000,00 + Rp 457.490.000,00
=Rp 490.290.000,00

 Perhitungan Analisis Finansial
a) Output – Input Analisis
Keuntungan = Input – Output
= Rp 2.204.000.000,00 – Rp 490.290.000,00
= Rp 1.713.710.000,00


b) Rentabilitas (%)
= Laba x 100 %
Modal
= Rp 1.713.710.000,00 x 100%
Rp 10.276.890.000,00
= 0,17 %
c) Payback Period of Credit (PPC)
PPC = Investasi x 1 tahun
Keuntungan
= Rp 10.276.890.000,00 x 1 tahun
Rp 1.713.710.000,00
= 5,99 Tahun
d) Break Even Point (rupiah)
BEP = Fixed cost
(1-(variable cost/penjualan)
= Rp 32.800.000,00
(1-( Rp 457.490.000,00/ Rp 2.204.000.000,00)
= Rp 41518987,34
e) Asset Turn Over (ATO)
ATO = Hasil produksi per tahun/modal
= Rp 2.204.000.000,00
Rp 10.276.890.000,00
= 0,21 kali
f) EBIT
HPP = Variable cost + Biaya penj.(1% dari hasil prod.) + Fixed cost
= Rp 457.490.000,00 + ( 1% x Rp 2.204.000.000,00) +
Rp 32.800.000,00
= Rp 512.330.000,00
EBIT = (Hasil prod - HPP) - Biaya administrasi (1% dari hasil prod.)
= Rp 2.204.000.000,00 - Rp 512.330.000,00 –
(1% x Rp 2.204.000.000,00)
= Rp 1.669.630.000,00
g) Profit Margin
Profit margin = ( EBIT ) x 100%
Hasil Prod.
= Rp 1.669.630.000,00 x 100%
Rp 2.204.000.000,00
= 75,75 %
h) ROI
ROI = ATO x Profit Margin
= 0,21 x 75,75 %
= 15,91%
i) BCR
BCR = Total Benefit
Total Cost
= Rp 1.713.710.000,00
Rp 490.290.000,00
= 3,49
j) Efisiensi Usaha
Efisiensi Usaha = Investasi x 100%
Keuntungan
= Rp 10.276.890.000,00 x 100%
Rp 1.713.710.000,00
= 5,99 %
B. Pembahasan
Setiap perusahaan perlu analisis finansial yang berfungsi untuk mengetahui kondisi perusahaan yang bersangkutan. Hal ini bertujuan jika perusahaan mengalami kerugian dapat dilakukan upaya perbaikan disegala bidang untuk menghindari kebangkrutan, sebaliknya apabila perusahaan mengalami keuntungan akan dapat mengembangkan perusahaan menjadi lebih besar dan berkembang pesat. Hal ini juga dilakukan oleh UD.Umbul Jaya.
Dengan memilki 35 ekor sapi yang terdiri dari sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Dari ke-12 ekor sapi perah yang berproduksi hanya menghasilkan 100 liter susu tiap harinya. Penghasilan utama dari perusahaan ini berupa produk susu murni yang langsung dijual kekonsumen dengan harga jual susu Rp 5.000,00 per liter. Dari hasil input yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 2.204.000.000,00 dan total biaya sebesar Rp 490.290.000,00, sehingga diperoleh keuntungan dalam satu tahun sebesar Rp 1.713.710.000,00.
BCR (Benefit Cost Ratio) merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya. Dengan kata lain, BCR merupakan hasil perbandingan antara nilai total benefit dengan total biaya sebagai indikator biar diterima atau tidaknya investasi yang dijalankan dalam perusahaan. Nilai BCR dari UD. Umbul Jaya sebesar 3,49 % dan itu artinya nilai investasi yang dijalankan menguntungkan perusahaan, karena memilki nilai BCR lebih dari satu ( 1 ). Sedangkan PPC (Payback Period of Credit) adalah waktu pengembalian investasi setelah investasi ditanamkan dalam perusahaan. Nilai PPC (Payback Period of Credit) dari UD. Umbul Jaya adalah 5,99 tahun.
BEP (Break Event Poin) merupakan nilai dimana keuntungan yang diterima perusahaan sama nilainya dengan total biaya yang dikeluarkan, dengan anggapan bahwa harga jual dari produk sudah tertentu ehingga perusahaan tidak utnung atau rugi. BEP yang dihasilkan sebesar Rp Rp 41518987,34. Rentabilitas adalah perbandingan antara laba dengan jumlah modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Rentabilitas yang dihasilkan adalah sebesar 0,17 %.
Asset Turn Over (ATO) adalah ratio antara hasil produksi per tahun dibandingkan dengan jumlah modal. ATO dari perusahaan ini sebesar 0,21 kali dengan profit margin 75,75 %. Sedangkan ROI merupakan nilai hasil perkalian antara Asset Turn Over (ATO) dengan profit margin, sehingga dapat diketahui seberapa besar persentase pengembalian nilai investasi yang ditanamkan perusahaan. sebesar 15,91 %. Dan nilai EBIT UD. Umbul Jaya adalah Rp 1.669.630.000,00.
Secara garis besar perusahaan sapi perah UD. Umbul Jaya setiap tahun mengalami keuntungan, sehingga sampai saat ini perusahaan masih tetap berdiri kokoh dan dalam jangka panjang perusahaan masih ingin mengembangkan usaha yang ada agar lebih maju lagi.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Dari hasil serangkaian praktikum ini dapat diambil kesimpulan antara lain:
1. Perusahaan sapi perah “Umbul Jaya” terletak di jalan Mojo no. 2 Karangasem Rt 05 / 8, Laweyan, Surakarta.
2. UD. Umbul Jaya bergerak di bidang peternakan sapi perah dengan hasil utama berupa susu segar.
3. Investasi awal dari modal sendiri sejumlah 5 ekor sapi yang digunakan untuk mendirikan perusahaan secara utuh.
4. Dengan memilki 35 ekor sapi yang terdiri dari sapi pedet 3 ekor, sapi pejantan 4 ekor, sapi betina bunting 2 ekor, sapi betina laktasi 12 ekor, dan sapi dara 14 ekor. Dari ke-12 ekor sapi perah yang berproduksi menghasilkan 100 liter susu tiap harinya.
5. Dari hasil input yang diperoleh selama satu tahun sebesar Rp 2.204.000.000,00 dan total biaya sebesar Rp 490.290.000,00, sehingga diperoleh keuntungan dalam satu tahun sebesar Rp 1.713.710.000,00.
6. Investasi yang dijalankan sangat menguntungkan perusahaan karena mempunyai nilai BCR sebesar 3,49 %, nilai PPC 5,99 tahun, dan nilai ATO perusahaan sebesar 0,21 kali, profit margin 75,75 %. Sedangkan ROI sebesar 15,91 % dan nilai EBIT adalah Rp 1.669.630.000,00, sehingga perusahaan mampu untuk berkembang lebih maju lagi.
7. Usaha peternakan ini masih layak untuk diteruskan karena masih menguntungkan.
B. Saran
Saran kami adalah untuk menunjang kegiatan produksi dimasa yang akan datang diusahakan UD. Umbul Jaya bisa menghasilkan suatu produk yang dapat langsung dimanfaatkan oleh konsumen dengan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Serta menjaga hubungan yang baik dengan warga sekitar lokasi peternakan dengan jalan merekrut pegawai memberikan sosialisasi usaha yang dijalankan terhadap penduduk sekitar.


DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius.Yogyakarta.
Nur, K.S., 2004. Mengupayakan Usaha Sapi Perah Tetap Bertahan. Poultry Indonesia. Gappi. No 291. Pp 64-65.
Reksohadiprojo, S., 1995 Pengantar Ilmu Peternakan Tropik Edisi 2. BPFE. Yogyakarta.
Santosa, U., 2001. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, S., 1992. Sapi Perah Jenis, Teknis Pemeliharaan Dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar