Rabu, 22 September 2010

Ekonomi Produksi Peternakan Kambing/Domba di Kabupaten Gunungkidul

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Usaha ternak domba dan kambing umumnya merupakan usaha sampingan yaitu bagian dari usaha pertanian. Ternak ini dipelihara secara tradisional, yakni pemberian pakan masih terbatas (hijuan pakan ternak yang tersedia berupa rumput-rumputan dan semak dengan sedikit atau tidak ada pakan tambahan) dan belum ada manajemen yang terarah (Sugeng, 2000).
Pengembangan domba dan kambing sebagai salah satu ternak potong masih banyak mengalami hambatan karena pemeliharaan domba dan kambing masih dilakukan secara tradisional. Pemberian pakanya hanya sekedarnya tanpa memperhitungkan kebutuhan standar gizi. Bahkan sering dijumpai domba dan kambing dilepas begitu saja untuk mencari makan sendiri. Tata laksana program pemeliharaanya tidak baik dan kandangnya hanya di buat sekedar tempat berlindung dari terik matahari disiang hari dan dingin di malam hari (Cahyono, 1998).
Konsentrat merupakan makanan penguat yang terdiri dari bahan baku yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung kuning, bekatul, gandum dan bungkil-bungkilan. Konsentrat untuk ternak domba umumnya disebut makanan penguat atau makanan yang memiliki kandungan serat kasar kurang dari 18% dan mudah dicerna (Sodiq dan Abidin, 2002).
Biaya adalah nilai dari semua pengorbanan ekonomis yaitu semua hal yang harus di keluarkan untuk membuat suatu produk, yang diperlukan, yang tidak dapat dihindarkan, dapat diperkirakan, dan dapat diukur untuk menghasilkan suatu produk (Cyrilla dan Ismail, 1988).
Untuk mendapatkan keuntungan dan untuk mengetahui seberapa besar perkembangan perusahaan peternakan serta untuk merencanakan perkembangan perusahaan kedepannya maka suatu perusahaan peternakan haruslah memperhatikan dan memperhitungkan ekonomi perusahaannya dengan teliti serta perusahaan haruslah mimiliki laporan keuangan yang disusun dengan baik dan rapi, setiap pemasukan dan pengeluaran perusahaan haruslah dicatat dengan jelas dalam laporan keuangan. Dengan mengetahui perekonomian dan melihat laporan keuangan maka kita dapat menetapkan kebijakan-kebijakan yang tepat yang harus diambil demi kemajuan perusahaan (Adisaputro, 1993).

B. Perumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum Ekonomi Produksi Peternakan ini antara lain :
1. Bagaimana kondisi finansial usaha peternakan kambing/domba?
2. Bagaiman perhitungan analisis regresi dan korelasi pada usaha peternakan kambing/domba?

C. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum Ekonomi Produksi Peternakan ini antara lain :
1. Mahasiswa mengetahui tentang sistem pengelolaan usaha peternakan khususnya tentang analisis finansial/ekonomi.
2. Sebagai pengalaman empiris bagi mahasiswa dan mempermudah mahasiswa dalam menguasai ilmu tentang ekonomi produksi peternakan.

D. Manfaat Praktikum
Manfaat praktikum Ekonomi Produksi Peternakan ini bagi mahasiswa yaitu dapat menambah pengetahuan mahasiswa berkenaan dengan ekonomi produksi dibidang peternakan khususnya masalah finansial/ekonomi.



II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Ekonomi Produksi Peternakan
Keberhasilan pengembangan ternak harus memperhatikan tiga aspek penting. Ketiga aspek tersebut adalah aspek teknis, ekonomi dan sosial. Dalam aspek ekonomi selalu berhubungan dengan proses produksi. Sehingga diperlukan kaidah-kaidah pemahaman mengenai prinsip ilmu ekonomi produksi peternakan (Priyono, 2010).
Prinsip utama dalam ilmu ekonomi produksi yaitu suatu usaha untuk memaksimumkan keuntungan (profit maximization) dan meminimumkan biaya (cost minimization). Kedua prinsip ini merupakan pilar utama yang menentukan suatu performans dari usaha peternakan yang sedang dijalankan. Misalnya orang yang melakukan budidaya ayam broiler. Jika peternak tidak mampu menerapkan kedua prinsip tersebut maka walaupun produksi yang dihasilkan tinggi dan kualitas produksinya bagus, peternak tidak akan mampu untuk mengembangkan usaha budidayanya. Berdasarkan hal tersebut, kedua prinsip tersebut harus diaplikasikan dalam usaha peternakan, sehingga usahanya menjadi berkembang dan skala usahanya dapat ditingkatkan (Priyono, 2010).
Di dalam proses produksi usahatani untuk menghasilkan suatu produk dapat dipengaruhi oleh satu atau beberapa faktor. Adapun faktor-faktor produksi yang digunakan, seperti modal, tanah, tenaga kerja, bibit, dan pupuk. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi biaya dan pendapatan petani (Prawirokusumo, 1990).
Potensi ternak kambing untuk dikembangkan di lahan marjinal sangat memungkinkan, hal ini disebabkan aktivitas produksi ternak kambing di Indonesia dapat terjadi sepanjang tahun (bukan musiman) dan memiliki karakter prolifikasi (beranak lebih dari satu), sehingga sangat membantu dalam program peningkatan populasi kambing (Sutama, 1994), dan ternak kambing mampu beradaptasi pada kondisi daerah yang memiliki sumber pakan hijauan yang kurang baik, serta ternak kambing merupakan komponen peternakan rakyat yang cukup potensial sebagai penyedia daging (Subandriyo et al., 1995).
Perkembangan ternak kambing di Jawa Tengah menunjukkan trend perkembangan yang meningkat, meskipun demikian perkembangannya belum cukup menggembirakan, hal ini disebabkan masih rendahnya produktivitas ternak kambing. Kondisi tersebut dikarenakan sebagian besar usaha ternak kambing masih merupakan usaha peternakan rakyat, yang ditandai dengan usaha berskala kecil, menggunakan teknologi yang umumnya masih tradisional, manajemen pengelolaannya masih sederhana dan dalam kondisi tempat yang terpencar-pencar (Utomo, 2003).
Berdasarkan kenyataan di lapangan bahwa produktivitas ternak kambing yang rendah dikarenakan oleh bibit ternak yang ada di masyarakat kualitasnya masih rendah, baik untuk ternak betina produktif maupun pejantannya. Hasil penelitian Subandriyo et al (1994), menunjukkan bahwa rendahnya kualitas ternak di pedesaan disebabkan perkawinan antara individu yang masih dekat hubungan kekerabatannya relatif cukup tinggi dan ada kecenderungan pula bahwa ternak-ternak yang tinggal di kandang (untuk dikembangbiakkan) makin menurun mutunya karena ternak yang “baik” dipasarkan dengan alasan rangsangan penerimaan (harga jual tinggi).

B. Analisis Pendapatan Peternak
Pendapatan dalam ilmu ekonomi didefinisikan sebagai hasil berupa uang atau hal materi lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa manusia bebas. Sedangkan pendapatan rumah tangga adalah total pendapatan dari setiap anggota rumah tangga dalam bentuk uang atau natura yang diperoleh baik sebagai gaji atau upah usaha rumah tangga atau sumber lain (Samuelson dan Nordheus, 1995:255). Kondisi seseorang dapat diukur dengan menggunakan konsep pendapatan yang menunjukkan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (Anonim, 2009)
Kajian yang mendalam mengenai usaha ternak kambing/domba, terutama mengenai profitabilitas usaha ternak kambing/domba) perlu dilakukan. Profitabilitas usaha ternak kambing/domba tercermin dari tingkat pendapatan yang diperoleh, nilai Gross Profit margin (GPM), Return on Imvestmen (ROI) dan rasio laba biaya. Pendapatan adalah seluruh hasil dari penerimaan selama satu tahun dikurangi dengan biaya produksi (Tohir, 1991).
Menurut Soekartawi et al. (1986) dalam usaha tani selisih antara penerimaan dan pengeluaran total disebut pendapatan bersih usaha tani atau net farm income. Sementara itu menurut Rasyaf (2002), besarnya pendapatan dari usaha ternak kambing/domba merupakan salah satu pengukur yang penting untuk mengetahui seberapa jauh usaha peternakan kambing/domba mencapai keberhasilan. Pendapatan adalah hasil keuntungan bersih yang diterima peternak yang merupakan selisih antara penerimaan dan biaya produksi.
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio profitabilitas merujuk pada indikator prestasi kerja perusahaan (Downey dan Erickson, 1988). Rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur tingkat efektivitas manajemen seperti ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan dari pendapatan investasi (Brigham dan Westen, 1990).
Menurut Sutrisno (2000), semakin besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen dalam mengelola perusahaan. Rasio keuntungan dapat diukur dengan beberapa indikator (Syamsudin, 2002).

C. Penerimaan Usaha Produksi
Besarnya penerimaan ini sangat dipengaruhi oleh jumlah produk yang terjual dan tingkat harga barang tersebut. Jenis – jenis penerimaan perusahaan dibedakan atas :
1. Penerimaan Total / Total Revenue ( TR )
2. Penerimaan Rata – rata / Average Revenue ( AR )
3. Penerimaan Marginal / Marginal Revenue ( MR ) (Surkiyono, 2004).
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara jumlah produksi yang diperoleh dengan harga produksi. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam sekali periode (Suratiyah, 2006).
Untuk menganalisa imbangan penerimaan dan biaya, metode yang digunakan adalah Return Cost Ratio (R/C), R/C bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan dari suatu kegiatan cabang usahatani berdasarkan perhitungan finansial. Analisa ini akan menguji seberapa jauh setiap nilai rupiah biaya yang dipakai dalam kegiatan cabang usahatani yang bersangkutan dapat memberikan sejumlah penerimaan (Tjakrawiralaksana dan Soeriaatmadja, 1993).
Jika R/C Ratio > 1, maka usahatani yang dijalankan mengalami keuntungan atau layak untuk dikembangkan. Jika R/C Ratio < 1, maka usahatani tersebut mengalami kerugian atau tidak layak untuk dikembangkan, sedangkan bila R/C Ratio = 1, maka cabang usahatani ini tidak rugi dan juga tidak untung (Soekartawi, 1995).

D. Biaya Usaha Produksi
Beban Usaha meliputi seluruh pos-pos pembiayaan langsung dan tak langsung untuk mendukung kegiatan produksi. Dalam tulisan ini dibahas usaha penggemukan sapi potong dimana pembiayan produksi berupa pemeliharaan/penggemukan (fattening) ternak sapi potong di feedlot.
Biaya diklasifikasikan kedalam beberapa golongan sesuai dengan tujuan spesifik dari analisis yang dikerjakan, yaitu: (a) Biaya tetap; (b) Biaya tidak tetap. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya tetap tidak tergantung pada besar-kecilnya produksi yang diperoleh. Sedangkan biaya tidak tetap merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh (Soekartawi, 1995).


1. Biaya Langsung (variable cost)
Kelompok biaya langsung yang dimaksud adalah meliputi seluruh pengeluaran untuk membiayai kegiatan produksi atau fattening di lokasi feedlot.
2. Biaya Tak Langsung (fixed cost)
Kelompok biaya tak langsung yang dimaksud adalah meliputi seluruh pengeluaran yang dikeluarkan yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan produksi atau fattening di lokasi feedlot.
3. Biaya Operasional
Kelompok biaya operasional, adalah, meliputi semua pengeluaran yang tidak terpakai sacara langsung maupun tak langsung dalam kegiatan produksi atau fattening di lokasi feedlot (Anonim, 2010).
Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan, dan peternak) untuk memperoleh faktor-faktor produksi, yang akan digunakan dalam mengelolah usahanya dalam mendapatkan hasil maksimal (Rahim dan Hastuti, 2007).

E. Fungsi Produksi Cobb-Douglas
Untuk mencapai penilaian tingkat keuntungan efisiensi ekonomi dan ekonomi skala usaha usaha ternak; maka diperlukan suatu alat analisis berupa sebuah fungsi keuntungan. Dengan alat ini, hampir semua parameter yang berkaitan langsung dengan produksi dapat diperoleh (Simatupang, 1988).
Faktor produksi modal sangat diperlukan. Tanpa modal sudah pasti usaha tidak bisa dilakukan, paling tidak modal dibutuhkan untuk pengadaan bibit dan upah tenaga kerja. Dengan kata lain, keberadaan modal sangat menentukan tingkat atau macam teknologi yang diterapkan. Kekurangan modal menyebabkan kurang masukan yang diberikan sehingga menimbulkan resiko kegagalan atau rendahnya hasil yang akan diterima (Daniel, 2002).
Alasan lain penggunaan model fungsi keuntungan menurut Lau and Yotopoulus (1972) dalam Andri (1992) adalah karena model ini dinilai memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan fungsi produksi dan program linier, diantaranya adalah:
1. Fungsi penawaran output dan fungsi permintaan input dapat diduga bersama sama tanpa harus membuat fungsi produksi yang eksplisit.
2. Fungsi keuntungan dapat digunakan untuk menelaah efisiensi teknis, harga, dan ekonomi.
3. Di dalam model fungsi keuntungan, peubah-peubah yang diamati adalah peubah harga output dan input.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam model fungsi keuntungan adalah:
1. Peternak sebagai unit analisis ekonomi berusaha memaksimumkan keuntungan.
2. Peternak melakukan pembelian input dan penjualan output dalam pasar bersaing sempuma, atau peternak sebagai penerima harga (price taker).
3. Fungsi produksi adalah berbentuk concave dalam input-input tidak tetap.
Jenis fungsi keuntungan yang banyak digunakan adalah fungsi keuntungan Cobb-Douglas (C-D) dan fungsi translog. Di Indonesia, fungsi keuntungan C-D telah banyak digunakan untuk penelitian terhadap berbagai jenis usaha, di antaranya oleh Andri (1992) dan Hadiana (1990) untuk peternakan sapi perah rakyat.

F. Kerangka Pemikiran
Studi-studi ekonomi rumahtangga yang dilakukan secara simultan pada umumnya menggunakan kerangka pemikiran model ekonomi rumahtangga yang dirumuskan oleh Becker (1965) yang selanjutnya dikembangkan oleh Barnum dan Squire (1978) dan Sing et al (1986) sehingga membentuk model dasar bagi analisis ekonomi rumahtangga.


























III. MATERI DAN METODE


A. Metode Dasar Praktikum
Metode pelaksanaan yang digunakan dalam praktikum Ekonomi Produksi Peternakan adalah:
1. Menentukan peternak kambing yang akan dijadikan sebagai tempat praktikum.
2. Melakukan wawancara dan observasi dengan peternak tersebut untuk mencari informasi tentang identitas peternak, modal peternak, pendapatan peternak, dan pengeluaran peternak untuk pakan, vitamin dan obat-obatan, dan untuk upah tenaga kerja.

B. Waktu dan Tempat
Praktikum Ekonomi Produksi Peternakan dilaksanakan pada tanggal 30 April - 2 Mei 2010 di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.

C. Jenis dan Sumber Data
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan peternak.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang berasal dari dokumentasi, laporan-laporan dan data dari instansi maupun data pustaka.

D. Teknik Pengambilan Sampel Data
1. Wawancara yaitu dialog dan tanya jawab langsung dengan nara sumber yang berkaitan dengan analisis finansial pada peternak kambing/domba di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.
2. Observasi yaitu pengenalan langsung tentang lokasi pelaksanaan kegiatan untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai aspek finansial peternak kambing/domba di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.
3. Pencatatan yaitu mencatat data-data dari sumber yang dapat dipertanggung jawabkan dan mendukung praktik lapangan.
4. Studi pustaka yaitu kegiatan yang merupakan pelengkap dan pembanding dalam pemecahan masalah yang dibahas.

E. Metode Analisis Data
Metode analisis data dengan melakukan analisis produksi dan faktor produksi, menggunakan koefisien korelasi dan analisis regresi.























IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum Lokasi Praktikum
1. Kondisi Umum
Kabupaten Gunungkidul adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan Ibukotanya Wonosari. Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta (Ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta), dengan jarak ± 39 km. Wilayah Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 18 kecamatan, 144 desa, 1416 dusun, 1583 RW, dan 6844 RT. Kecamatan yang ada di Gunungkidul antara lain : Kecamatan Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Rongkop, Girisubo, Semanu, Ponjong, KarangMojo, Wonosari, Playen, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin. Dari 144 desa, 141 desa masuk klasifikasi Swadaya dan 3 desa termasuk desa Swasembada.

2. Kondisi Geografis
Letak geografi: 110O 21' sampai 110O 50' bujur timur
7O 46'sampai 8O 09' lintang selatan.
Batas Wilayah Kabupaten Gunungkidul:
Sebelah Barat : Kabupaten Bantul dan Sleman (Propinsi DIY).
Sebelah Utara : Kabupaten Klaten dan Sukoharjo (Propinsi Jawa Tengah).
Sebelah Timur : Kabupaten Wonogiri (Propinsi Jawa Tengah).
Sebelah Selatan : Samudera Hindia




3. Kondisi Demografis
a. Tabel Jumlah Penduduk
No. Kecamatan Luas Wilayah
(Km 2 ) Jumlah Penduduk Kepadatan (jiwa / Km 2)
1. Panggang 99,80 26.500 266
2. Purwosari 71,76 18.751 261
3. Paliyan 58,07 29.937 516
4. Saptosari 87,83 25.431 403
5. Tepus 104,91 33.714 321
6. Tanjungsari 71,63 26.387 368
7. Rongkop 83,46 28.912 346
8. Girisubo 94,57 23.770 251
9. Semanu 108,39 53.611 495
10. Ponjong 104,49 51.143 489
11. Karangmojo 80,12 49.782 621
12. Wonosari 75,51 75.517 1000
13. Playen 105,26 53.395 507
14. Patuk 72,04 28.833 400
15. Gedangsari 68,14 36.956 542
16. Nglipar 73,87 29.789 403
17. Ngawen 46,59 31.447 675
18. Semin 78,92 51.335 650
Jumlah 1.485,36 686.772 461
Sumber: BPS Kabupaten Gunungkidul Proyeksi SP 2000- SUPAS 2005

b. Tabel Tingkat Pendidikan Penduduk
No. Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10. Tidak/belum pernah sekolah
Tidak/belum tamat SD
Tamat SD
Tamat SMP
Tamat SMA
Tamat SMK
Tamat Diploma I/II
Tamat Diploma III/Sarmud
Tamat Sarjana
Tidak terjawab 37.497
63.643
227.480
137.702
46.323
34.412
30.825
16.705
27.123
65.062
Sumber: BPS Kabupaten Gunungkidul Proyeksi SP 2000- SUPAS 2008


c. Pekerjaan Penduduk
Secara keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada penduduk laki-laki, yaitu 349.799 perempuan dan 335.411 laki-laki.
Dilihat dari status pekerjaan utama, sebagian besar penduduk Kabupaten Gunungkidul bekerja sebagai pekerja keluarga sekitar 36,56% dari jumlah penduduk yang bekerja. Sedangkan yang berusaha dengan dibantu buruh tetap, masih sangat sedikit yaitu sekitar 0,80 %.

B. Potensi Daerah Praktikum
1. Populasi Ternak
Uraian 2006 2007 2008
Sapi potong 111.502 114.139 115.421
Sapi perah 0 7 7
Kerbau 216 136 136
Kambing 136.590 145.232 147.340
Domba 11.128 11.624 12.581
Babi 54 73 67
Ayam Buras 973.452 1.004.223 1.010.418
Ayam Petelur 146.386 155.628 87.795
Ayam Pedaging 322.920 348.099 433.950
Itik 15.643 15.906 15.521
Burung Puyuh 280.543 268.515 157.199
Telur 1.573.433 1.347.458 1.648.054
Susu 0 6.480 15.720
Daging 2.662.509 2.624.731 2.797.452

2. Potensi Pertanian / Peternakan
Kabupaten Gunungkidul mempunyai beragam potensi perekonomian mulai dari pertanian, perikanan dan peternakan, hutan, flora dan fauna, industri, tambang serta potensi pariwisata.
Pertanian yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul sebagian besar adalah lahan kering tadah hujan (± 90 %) yang tergantung pada daur iklim khususnya curah hujan. Lahan sawah beririgasi relatif sempit dan sebagian besar sawah tadah hujan. Sumberdaya alam tambang yang termasuk golongan C berupa : batu kapur, batu apung, kalsit, zeolit, bentonit, tras, kaolin, dan pasir kuarsa.
Kabupaten Gunungkidul juga mempunyai panjang pantai yang cukup luas terletak di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, membentang sepanjang sekitar 65 km dari Kecamatan Purwosari sampai Kecamatan Girisubo. Potensi hasil laut dan wisata sangat besar dan terbuka untuk dikembangkan. Potensi lainnya adalah industri kerajinan, makanan, pengolahan hasil pertanian yang semuanya sangat potensial untuk dikembangkan.

C. Keadaan Responden Praktikum
No Nama Umur (tahun) Jns Klmn Tngkt Pnddkan Pnglmn Btrnk (tahun) Jmlh Anggta Kluarga Pekerjaan Utama
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20. Giyem
Tri Kadarsih
Tumiran
Darso
Yono
Giyono
Sadiyah
Juminten
Suroso
Jumingan
Mulyono
Marwoto
Langgeng
Sutarto
Sukadi
Sumarno
Sadikin
Siti Maryam
Rumiyati
Yusriman 65
35
70
50
40
41
70
55
37
60
63
65
40
40
49
50
65
60
49
63 Pria
Wanita
Pria
Pria
Pria
Pria
Wanita
Wanita
Pria
Pria
Pria
Pria
Pria
Pria
Pria
Pria
Pria
Wanita
Wanita
Pria SD
SMP
SMA
SMP
SD
SD
SD
SMP
SMA
SMA
SMP
SMA
SMA
SMA
SMA
D II
SMA
SMP
S 1
SMA 10
2
5
15
3
3
5
5
1,5
5
3
5
2
2
3
5
5
5
3
3 1 orang
4 orang
6 orang
5 orang
3 orang
3 orang
1 orang
1 orang
4 orang
2 orang
3 orang
3 orang
3 orang
4 orang
3 orang
3 orang
2 orang
2 orang
2 orang
2 orang Petani
Petani
Petani
Petani
Petani
Petani
Petani
Petani
Buruh bangunan
Petani
Karyawan
Purnawirawan
PNS
Wiraswasta
Wiraswasta
Aparat desa
Pensiunan PNS
Petani
PNS
Pensiunan PNS
Sumber : Laporan Sementara



D. Analisa Deskripsi dan Tingkat Pendapatan Peternak
No Nama Jumlah ternak Pendapatan peternak (Y) Ternak bakalan (X1) Pakan konsentrat (X2) Pakan hijauan
(X3)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20. Giyem
Tri Kadarsih
Tumiran
Darso
Yono
Giyono
Sadiyah
Juminten
Suroso
Jumingan
Mulyono
Marwoto
Langgeng
Sutarto
Sukadi
Sumarno
Sadikin
Siti Maryam
Rumiyati
Yusriman 8 ekor
2 ekor
3 ekor
15 ekor
12 ekor
5 ekor
5 ekor
3 ekor
3 ekor
6 ekor
7 ekor
2 ekor
3 ekor
3 ekor
6 ekor
8 ekor
10 ekor
11 ekor
4 ekor
5 ekor 6.400.000
2.000.000
2.400.000
12.000.000
9.600.000
4.000.000
4.000.000
2.400.000
2.400.000
5.400.000
5.600.000
1.800.000
2.400.000
2.400.000
4.800.000
6.400.000
8.000.000
8.800.000
3.200.000
4.000.000 1.200.000
300.000
800.000
1.200.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
900.000
900.000
1.800.000
1.800.000
600.000
900.000
900.000
1.800.000
2.400.000
2.100.000
2.100.000
1.200.000
1.500.000 1.460.000
730.000
730.000
3.650.000
2.920.000
1.460.000
1.460.000
730.000
730.000
1.460.000
1.460.000
730.000
730.000
730.000
1.460.000
1.460.000
2.190.000
2.190.000
730.000
1.460.000 7.300.000
1.825.000
3.650.000
9.125.000
9.125.000
5.475.000
3.650.000
1.825.000
1.825.000
7.300.000
5.475.000
1.825.000
3.650.000
3.650.000
5.475.000
7.300.000
7.665.000
7.665.000
3.650.000
5.475.000
Jumlah 91.000.000 26.900.000 28.470.000 102.930.000
Rata-rata 4.550.000 1.345.000 1.423.500 5.146.500
Sumber : Laporan Sementara












E. Analisa Produksi dan Faktor Produksi
Analisis Korelasi Antara Tingkat Pendapatan Peternak (Y) dengan X1, X2, X3
No Pendapatan peternak (Y)
(X)
X2
(JUTA)
Y2
(JUTA)
XY
(JUTA)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20. 6.400.000
2.000.000
2.400.000
12.000.000
9.600.000
4.000.000
4.000.000
2.400.000
2.400.000
5.400.000
5.600.000
1.800.000
2.400.000
2.400.000
4.800.000
6.400.000
8.000.000
8.800.000
3.200.000
4.000.000 9.960.000
2.855.000
5.180.000
13.975.000
13.545.000
8.435.000
6.610.000
3.455.000
3.455.000
10.560.000
8.735.000
3.155.000
5.280.000
5.280.000
8.735.000
9.960.000
11.955.000
11.955.000
5.580.000
8.435.000 99.201.600
8.151.025
26.832.400
195.300.625
183.467.025
71.149.225
43.692.100
11.937.025
11.937.025
111.513.600
76.300.225
9.954.025
27.878.400
27.878.400
76.300.225
99.201.600
142.922.025
142.922.025
31.136.400
71.149.225 40.960.000
4.000.000
5.760.000
144.000.000
92.160.000
16.000.000
16.000.000
5.760.000
5.760.000
29.160.000
31.360.000
3.240.000
5.760.000
5.760.000
23.040.000
40.960.000
64.000.000
77.440.000
10.240.000
16.000.000 63.744.000
5.710.000
12.432.000
167.700.000
130.030.000
33.740.000
26.440.000
8.292.000
8.292.000
57.024.000
48.916.000
5.679.000
12.672.000
12.672.000
41.928.000
63.744.000
95.640.000
105.200.000
17.856.000
33.740.000
∑ 91.000.000 157.100.000 1.468.824.200 637.360.000 951.460.000
4.550.000 7.855.000 73.441.210 31.868.000 47.573.000

r = n∑(XiYi) - (∑Xi) (∑Yi) / ( n ∑ Xi2 - (∑Xi))1/2 / ( n ∑ Yi2 - (∑ Yi))1/2
r = 20 (951.460.000) - (157,1)( 91) / (20 (1.468.824.200) (157,1)) ½ /
(20 (637.360.000) - (91)) ½
= 19.028.914.000 / 2.148.265,728/ 112.903,4906 (x 1.000.000)
= Rp 78.454,64




DAFTAR PUSTAKA


Adisaputro, G., 1993. Anggaran Perusahaan. Edisi kelima. Penerbit BPFE-Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Andri.1992. Analisis Aspek Teknis, Fungsi Keuntungan, dan Efisiensi Ekonomi Relatif Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat Di Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Anonim, 2009. Pendapatan. http://www.litbang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 19 Mei 2010.
Brigham, F. E. dan F. J. Westen., 1990. Dasar Manajemen Keuangan (alih bahasa: A. Sirait). Penerbit Erlangga. Jakarta.
Cahyono, B., 1998. Beternak Domba dan Kambing. Kanisius. Jakarta.
Cyrilla, L., dan Ismail. A., 1998. Usaha Peternakan. Diktat Kuliah. Jurusan Sosial Ekonomi. Fakultas Peternakan. IPB, Bogor.
Downey, D. W. dan S. P. Erickson., 1988. Manajemen Agribisnis. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Hadiana, M. H., 1990. Pendugaan Skala Usaha, Respon Suplai, dan Efisiensi Ekonomi Relatif Peternakan Sapi Perah. Tesis. Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Priyono, 2010. Efisiensi Ekonomi. http://rac.uii.ac.id. Diakses pada tanggal 19 Mei 2010.
Rasyaf, M., 2002. Beternak Kambing. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Sodiq, A., dan Z. Abidin., 2002. Penggemukan Domba.. (Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis). Agromedia Pustaka, Jakarta.
Soekartawi, A. Soehardjo, A. J. L. Dillon dan J. B. Hardaker., 1986. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Subandriyo, B. Setiyadi, D. Priyanto, M. Rangkuti, W,K, Sejati, D, Anggraeni, Hastono dan O.S. Butarbutar, 1995. Analisis Potensi Kambing Peranakan Ettawa dan Sumberdaya di Daerah Sumber Bibit Pedesaan. Puslitbang Peternakan Bogor.
Suharno, B dan Nazaruddin., 1994. Ternak Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng, Y. B., 2000. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Surkiyono, 2004. Penerimaan Perusahaan. http://pse.litbang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 19 Mei 2010.
Sutama, I.K., 1994. Kinerja Reproduktivitas Sekitar Puberitas dan Beranak Pertama Kambing Peranakan Ettawa (PE). Ilmu dan Peternakan. Balitnak Ciawi, Bogor.
Sutrisno, 2000. Manajemen Keuangan. Teori, Konsep dan Aplikasi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Syamsudin, L., 2002. Manajemen Keuangan Perusahaan. Konsep Aplikasi dalam Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan. PT. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta.
Utomo, Budi., 2003. Teknologi Usaha Perbibitan Kambing. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Jawa Tengah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar